Karena Ibu dan Kakak sedang berada di Jakarta, aku memutuskan untuk menyewa sebuah unit apartemen sementara agar kami bisa tinggal bersama di bawah satu atap. Sudah agak lama rasanya kami tidak berkumpul dalam kehangatan seperti ini, duduk saling melempar cerita dan berbagi tawa. Berada di dekat mereka seketika memicu letup rindu yang membuncah akan waktu-waktu berharga yang telah lama terlewatkan di masa lalu.
"Ibu mau kemana lagi selama disini?" tanyaku malam itu pada Ibu, sembari jemariku bergerak membuka pintu jendela apartemen yang lebar.
Seketika itu juga, derai angin malam yang lembut langsung menerobos masuk, menggelitik kulit dan mengembus hangat ke dalam ruangan.
"Nggak ada, Nak. Kemarin kan Ibu udah sempat mampir ke rumah Tante Inggrid sama Om Ferdi bareng Kak Dita. Paling besok jalan-jalan sekitaran sini aja," sahut Ibu tenang. Jemarinya tampak sibuk menekan-nekan tombol pada remot televisi, mencari siaran yang menarik perhatiannya.
"Nggak ada kepikiran buat nostalgia, Bu?" tanyaku lagi. Kali ini pandanganku sengaja kulemparkan ke luar, menatap hamparan cahaya kota yang berkilauan bak permata dari ketinggian apartemen ini. Kerlip lampu di bawah sana seolah menertawakan waktu yang berjalan terlalu cepat.
"Nostalgia ke mana?" Ibu menghentikan ibu jarinya di atas remot. Beliau mematikan televisi sepenuhnya, membiarkan keheningan mengambil alih ruangan, lalu melangkah perlahan menghampiriku ke dekat pintu jendela.
"Kemana gitu... rumah pertama Ibu pas di Jakarta? Tempat aku sama Kak Dita lahir misalnya?" Aku berkata asal saja, sekadar melempar wacana sembari menatap deretan rumah warga di bawah sana yang tampak samar, agak tersorot oleh temaram lampu jalanan.
Seketika, suasana senyap sejenak tanpa suara. Kulihat rembulan di atas sana menggantung bulat benderang, namun anehnya, tidak ada satu pun bintang yang menemani sang dewi malam. Hanya ada hamparan langit gelap pekat yang seolah menyerap seluruh kemilau cahayanya sendirian. Sunyi yang tercipta terasa begitu sarat akan kenangan lama yang siap digali kembali.
Langkah kaki Kak Dita tiba-tiba mengentak lantai, memecah kesunyian. Ia berjalan mendekat, bergabung bersama kami di dekat pintu, lalu menyandarkan bahunya pada dinding. "Boleh, tuh, Bu. Aku juga penasaran. Soalnya yang aku ingat terakhir rumah pas kelas satu. Ibu kan pernah bilang, sebelum di rumah itu kita tinggal di rumah kayu yang tamannya cantik banget... yang Ibu cerita kalo aku sering nanyain lukisan di dindingnya itu, lho..."
Aku berbalik dan memandang lekat-lekat wajah ibu. Dalam pendar cahaya yang temaram, wajahnya kelihatan sedang menerka sesuatu, menyelami kembali labirin ingatannya sendiri yang barangkali sudah sedikit berdebu.
"Mau, Bu?" tanyaku lagi, memastikan.
Ibu tersenyum lembut, lalu mengangguk pelan. Sebuah senyuman yang menyimpan ribuan cerita yang belum sempat terucap.
"Oke, kalo gitu besok kita pergi jam sembilan pagi, ya. Ibu masih ingat jalannya?" ucapku sembari menggeser pintu jendela, menarik gorden kainnya hingga menutup rapat, menghalau angin malam yang kian dingin.
"Masih, Nak," jawab Ibu singkat.
Malam itu kami pun beranjak tidur, tenggelam ke alam mimpi masing-masing dalam rengkuhan rembulan, juga langit kelam tanpa bintang.
*****
Besok paginya, sebelum memulai perjalanan, kami menyempatkan diri untuk makan sebentar di kantin yang berada di lantai bawah apartemen. Aroma masakan yang menggugah selera membuatku hampir kalap menambah lauk berkali-kali. Rasanya benar-benar pas dan cocok sekali di lidahku.
Melihat piringku yang kembali penuh, Ibu menatap dengan raut wajah yang menuduh penuh selidik, "Kalo sama masakan Ibu kok nggak pernah nambah sebegitunya, sih?”
"Lagi mode kelaparan banget, nih, Bu. Semalam kan aku terakhir makan sebelum magrib..." kataku membela diri, sembari menyilangkan sendok dan garpu di atas piring yang tiba-tiba sudah tandas lagi.
"Alasan! Bilang aja masakan Ibu kurang bangkitin selera kamu!" jawab Ibu dengan muka merenggut jenaka, sembari mengunyah sepotong perkedel yang baru saja mendarat di mulutnya.
Aku berpikir sejenak, mencari kalimat penawar, lalu nyeletuk sembari terkekeh, "Suwer... masakan Ibu pokoknya yang terbaik, deh. Makanya aku sama Kak Dita tumbuh dengan baik dan sehat."
Dari sudut mata, kulihat Ibu tak mampu menyembunyikan rasa senangnya. Beliau menyunggingkan senyum tipis yang hangat, sejenis binar bahagia yang selalu tulus terpancar dari wajah seorang ibu. Sedangkan di sudut lain, Kak Dita mengedipkan matanya ke arahku, merayakan keberhasilan menjinakkan rajukan ibu. Bahkan, ibu penjaga kantin yang berdiri tidak jauh dari meja kami pun terlihat menyeringai geli menatap interaksi kami yang penuh canda.
Tidak lama kemudian, aktivitas makan pagi kami selesai. Kak Dita beranjak membayar tagihan, lalu kami bersama-sama melangkah keluar menuju area parkiran mobil.