ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #36

BAB 36: Kepingan Mahakarya

Tidak lama kemudian, langkah kami akhirnya berhenti tepat di depan tempat tujuan. Mataku seketika menangkap keteduhan yang nyata, sambil mencoba merajut kembali jahitan kenangan masa lalu dari hari-hari yang pernah kami lewatkan bersama sang waktu.

Saat daun pintu depannya dibuka oleh Pak Gumilang, seketika menyeruak keluar aroma yang sangat khas. Wangi kapur barus yang menyengat dan debu halus yang samar langsung berpadu untuk menyapa penciuman kami. Melalui celah-celah dinding kayu, sorot cahaya matahari menerobos masuk, membawa butiran debu halus yang menari-nari di udara, seolah sedang menyambut riang kedatangan kami yang kembali berkunjung setelah sekian lama.

Tepat di tengah ruangan, menunggu dua buah kursi rotan yang sama sekali tidak terusik. Kursi-kursi itu bagaikan sepasang penjaga setia yang menanti kepulangan para penghuni lamanya, bertautan bisu dengan meja kecil dan sebuah radio lama berwujud kusam yang terdiam seribu bahasa dalam pelukan aliran waktu. Ada sebuah kebersihan yang terasa sunyi di sini, ada kesahajaan purba yang menetap erat.

"Masuk aja. Silakan kelilingi rumahnya sambil nostalgia," kata Pak Gumilang ramah, sembari menyentuh dan mendorong pelan punggungku serta punggung Kak Dita agar melangkah masuk.

Aku, Kakak, dan Ibu pun mulai melangkah masuk ke dalam area rumah. Kami saling berpencaran, membiarkan ke mana saja arah pandang mata memutuskan untuk membawa langkah kaki berjalan menghampiri sudut-sudut bangunan kayu ini.

Didorong rasa ingin tahu yang kian menebal, kuhampiri salah satu jendela di bagian samping ruangan yang masih tertutup. Jemariku bergerak perlahan, melepaskan kait kuncinya yang terasa dingin. Begitu daun jendela itu kubuka lebar, limpahan cahaya matahari langsung merangsek masuk, menyinari seisi ruangan yang sempat temaram. Sinarnya menerangi permukaan dinding kayu yang bergurat dalam, juga lantai semen abu-abu dengan guratan retak rambut di permukaannya. Tidak ada warna cerah yang tertangkap oleh mataku, namun sudut-sudut nostalgia ini rasanya jauh lebih nyaman disusuri ketika seluruh ruang telah dimandikan cahaya.

Kutatap lekat permukaan kasar dinding yang telah dimakan usia itu. Saat ujung jemariku meraba serat-serat kayu yang disirami kehangatan siang, kurasakan paru-paruku seketika menggembung seolah berterima kasih. Udara di dalam ruangan yang tadinya mengendap bersama kesunyian berat, kini telah bertukar bebas dengan napas udara luar yang membawa aroma semak liar, sebuah aroma khas dari rengkuhan alam yang menenangkan.

Badanku berbalik ke samping, melangkah dua pijakan menuju sebuah rak kayu tua di sudut ruangan yang masih berdiri kukuh menempel pada dinding. Rak itu kosong melompong tanpa ada satu pun isi di dalamnya. Bagian engselnya kini sudah tertutup karat merah. Ketika kucoba menggerakkan pintunya sedikit, rasanya begitu berat. Kuurungkan niat untuk melanjutkan tarikan karena takut merusaknya. Biarkan rak kayu itu beristirahat bersama beban sejarahnya sendiri.

Tidak jauh dari rak tua tersebut terdapat sebuah pintu menuju satu-satunya kamar. Ibu berjalan mendekat lalu membisikiku lirih, memberi tahu bahwa di dalam sanalah dahulu aku dan Kak Dita tidur lelap, dibasuh dalam penjagaan kasih sayangnya yang tulus. Di dalam kamar itu, hanya ada sebuah kasur tua yang dilengkapi kelambu berwarna putih kusam. Di sampingnya terdapat sebuah rak buku berukuran kecil yang di atasnya bertengger sebuah lampu tidur tua. Ada pula meja kecil di sudut ruangan dengan bingkai foto kosong yang posisinya dibaringkan begitu saja, bagaikan dipaksa menatap langit-langit tinggi di atasnya.

Melihat semua benda itu, aku justru merasa asing. Otakku sama sekali tidak mampu mengingat satu memori pun dari sudut kamar ini. Hampa. Akhirnya, kuputuskan untuk beranjak keluar dan melangkah menuju area dapur, didorong rasa ingin tahu untuk melihat langsung bekas jejak kebakaran yang sempat diceritakan oleh Pak Gumilang tadi.

Sesampainya di sana, perbedaan yang mencolok begitu nyata tersaji di depan mata. Papan-papan kayu baru yang dipasang setelah kejadian kebakaran tampak sangat menonjol. Warnanya masih cerah dan permukaannya pun terasa mulus tanpa guratan. Pemandangan itu sangat berbeda jauh dengan kayu di ruang depan yang berwarna gelap dan penuh dengan guratan dalam akibat tempaan waktu. Namun bila jeli melihat ke atas, masih ada sisa-sisa bekas jelaga hitam di sudut langit-langit yang letaknya sulit dijangkau, menjadi saksi bisu dari proses perbaikan yang tampaknya dikerjakan secara terburu-buru kala itu.

Tidak banyak barang yang tersisa di sana. Dalam beberapa menit, aku sudah selesai menyentuh dan mengamati barang-barang yang teronggok itu satu per satu. Setelah itu kuputuskan untuk kembali saja ke ruang depan, mencoba mencari apa yang mungkin sempat terlewat oleh pandanganku.

Sesampainya di sana, kulihat Ibu sedang berdiri diam menunggu kami, sembari matanya menatap lekat sebuah lukisan yang tergantung tepat di hadapan jendela utama. Lukisan itu terpaku tenang pada dinding rumah yang sudah kusam, sejajar dengan pandangan mata orang dewasa.

Kuayunkan langkah mendekat, berdiri tepat di samping pundak Ibu, lalu ikut menatap hamparan lukisan alam dengan garis-garis tegas di dalam piguranya. Warna biru tua, kuning cerah, dan jingga menyala memenuhi kanvas tersebut, berpendar indah seakan merupakan luapan perasaan rindu terdalam yang sedang menyala-nyala. Kombinasi warna itu memancarkan hawa yang terasa panas bak gejolak gairah, namun di saat yang sama juga terasa begitu dalam dan dingin di dasar keikhlasan yang mau tidak mau harus diterima, mungkin saja oleh pelukisnya.

Apa yang tersaji di depan mata adalah sebuah pemandangan cakrawala luas nun jauh di sana, bagaikan ilusi tak berujung yang dilukiskan dari sudut pandang di atas sebuah geladak kapal. Garis bentang mendatar yang membelah batas antara langit dan bumi itu digoreskan dengan sangat kasar dan penuh tenaga, seolah-olah si pelukis dahulu menekan kuasnya terlalu kuat di atas kain kanvas. Entah ini benar atau sekadar imajinasiku saja, tetapi muncul kesan kuat bahwa si pelukis seolah terjebak di atas geladak tersebut, terombang-ambing dan mengapung di atas riak gelombang laut yang riuh rendah.

Untuk anakku, Suryatama, ejaku dalam hati saat membaca tulisan goresan kuas yang tertera samar di tepian bawah sudut lukisannya.

Dalam diam yang mencekam, tanpa berani melontarkan pertanyaan apa pun pada Ibu, aku seketika merasa terhenyak. Rasa sesak mendadak menyergap dada oleh sesuatu yang tak kuketahui apa sebabnya. Entah bagaimana menjelaskannya, rasa itu bagaikan gumpalan kelu yang merangsek naik ke tenggorokan, sementara oksigen dari luar justru menekannya kuat agar jangan sampai tumpah menjadi tangis. Karena itu, perlahan kutundukkan kepala untuk mendorong itu turun kembali.

Saat itulah, aku makin tertegun. Di bawah telapak kaki, kudapati bahwa lantai semen tempat kami berdiri saat ini begitu bersih dari debu tipis yang menyelimuti bagian rumah lainnya. Lantai itu tampak mengilap, seolah-olah area di depan lukisan ini adalah satu-satunya tempat yang paling sering dikunjungi, dipijak, dan ditangisi oleh seseorang.

Ibu menatapku lalu melakukan hal yang sama. Aku yakin ia juga menyimpan pertanyaan yang sama besar ketika mendapati lantai yang mengilap bersih itu. Namun kami memilih tidak berkata apa pun. Kami diam bagai kehilangan pasokan kata-kata untuk berbicara. Langit di luar seolah ikut mengheningkan cipta, menemani debar dada kami yang kian dirayapi pertanyaan dalam.

Sampai akhirnya kedatangan Kak Dita dari belakang memecah segalanya. Jemarinya bergerak lembut, menyentuh punggungku dan Ibu secara bersamaan.

Aku dan Ibu menoleh, lalu secara bersamaan mengangguk, menyetujui ajakan untuk menyudahi kunjungan ini. Kami pun melangkah keluar dari dalam rumah tua kayu tempat keluarga kami pernah singkat menempatinya, disambut oleh senyuman hangat dari Pak Gumilang yang setia menunggu kami di teras depan.

Langkah kami mungkin meninggalkan rumah itu, tetapi ada sepotong kisah masa lalu yang kini terkunci rapat di dalam dada kami masing-masing.

Lihat selengkapnya