Aku duduk bersimpuh di tengah-tengah sebuah aula besar yang sunyi, di mana keheningan seolah membeku di udara. Sehelai kemeja berwarna kuning terang melekat pasrah di tubuhku, sementara selembar kain tipis transparan menjuntai turun dari kepala, menutupi seluruh wajahku dengan kelembutan yang misterius. Melalui celah-celah serat kain tembus pandang yang bergoyang samar itu, pandanganku terlempar jauh menembus batasan dinding, lurus menatap hamparan laut lepas yang membentang tanpa ujung.
Di atas permukaan air yang bergelombang pelan, sebuah kapal tua tampak mengapung pasrah, terombang-ambing oleh ritme samudra. Tepat di atas geladaknya, sesosok tubuh manusia duduk dalam keheningan, di mana setengah dari siluet tubuhnya tertutup sepenuhnya oleh kanvas berukuran besar yang berdiri tegak.
Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, pemandangan di sekelilingku mendadak berubah secara drastis, merobek apa yang baru saja kusaksikan. Tubuhku tiba-tiba terangkat ke atas, mengayun-ayun bebas di udara yang hampa, sambil memancarkan pendaran kemilau cahaya terang yang meluas ke segala arah. Di bawah sana, ombak laut yang semula tenang tampak bergerak selaras mengikuti irama ayunan tubuhku. Kami bergerak naik bersama menuju angkasa, lalu turun perlahan menyentuh permukaan, hingga akhirnya perlahan-lahan memudar, melebur menjadi selapis tipis garis lurus yang memanjang secara mendatar. Garis tipis itu seolah ditarik paksa oleh kekuatan tak kasat mata menuju ke kedua sisi, memanjang dan terus memanjang tanpa henti hingga melewati batas terjauh yang mampu ditangkap oleh indra penglihatan.
Tak tahu bagaimana aku harus merangkai kata untuk mengatakannya, namun pada detik itu, aku tidak lagi memiliki bentuk fisik sebagai manusia. Diriku telah mereduksi sepenuhnya menjadi selapis tipis dimensi yang entah masih memiliki nilai ketebalan atau sudah sepenuhnya menjadi fana dan abstrak. Dalam ketiadaan wujud itu, lamat-lamat terdengar suara seorang anak kecil yang memanggil-manggil dengan nada riang, namun sedetik kemudian suara itu berubah menjadi pekikan histeris, sebuah teriakan sarat kerinduan yang memanggil-manggil ayahnya di tengah kesunyian laut.
Angin di sekitarku mulai berputar membentuk pusaran yang tenang, mengumpulkan serpihan-serpihan kabut tipis yang kemudian menggumpal pekat di udara, hingga perlahan membelah diri menjadi dua sosok yang nyata. Sosok pertama adalah diriku sendiri yang kembali mengayun-ayun pasrah di udara, dan sosok kedua adalah seorang anak kecil yang kini berdiri tegak tepat di hadapanku. Seketika itu juga, pupil mataku melebar sempurna dan seluruh tubuhku terperanjat dalam keterpukauan yang luar biasa. Sosok anak kecil itu tidak lain dan tidak bukan adalah diriku sendiri di masa lalu. Aku yang masih begitu murni dan kecil.
Anak lelaki kecil itu kemudian berbalik memunggungiku, menghadap lurus ke arah kapal yang mengapung di kejauhan, lalu melambaikan tangannya dengan penuh semangat sambil melompat setinggi yang mampu dicapai oleh kaki mungilnya. Namun, kegembiraan itu tidak bertahan lama karena tiba-tiba ia menghentikan gerakannya secara mendadak. Ia termenung sejenak dalam keheningan yang ganjil, lalu dengan suara lirih berbisik, “Aku pergi, ya...” seraya melayangkan tatapan perpisahan, tepat sebelum sebuah ombak raksasa di bawahnya menyambar dengan buas dan menarik tubuh mungil itu ke dalam palung samudra. Belum sempat riak ombak pertama surut sepenuhnya, sebuah ombak lain yang tidak kalah besar menyusul, menggulung sisa-sisa keberadaannya. Aku hanya bisa menatap lubang kehilangan yang menganga itu dengan seluruh otot wajah yang menegang kaku, didera rasa tak berdaya yang mencekik dada.
Aku memaksakan diri untuk menaikkan pandanganku, mengalihkan perhatian pada sosok misterius di balik kanvas besar di atas kapal yang kini perlahan mulai berdiri dari duduknya. Dari kejauhan, kulihat lelaki itu mengangkat tangannya, lalu membuang kuas lukisnya ke dalam dekapan laut lepas dengan sebuah gerakan lemparan yang tampak begitu gontai, tak bertenaga, dan sarat akan keputusasaan. “Pak Gumilang?” gumamku lirih pada diri sendiri, di mana suara bisikan itu bergetar hebat di tenggorokan. Menaikkan kelu, menampar isi kepala.
Dugaanku sama sekali tidak keliru. Sosok itu memang benar adalah Pak Gumilang. Ia berdiri tegak sambil memegangi tepian kanvas kasarnya dengan jemari yang gemetar, sementara rintik-rintik air mata terlihat jatuh berderai, membasahi pipinya yang mulai dihiasi kerutan usia.
Tiba-tiba, aku merasakan embusan angin fana mendorong tubuhku dari belakang dengan kekuatan yang luar biasa kencang, melemparkanku maju ke depan secara paksa, menabrak dinding-dinding ombak yang sedang menjilat tinggi ke angkasa. Dorongan tak kasat mata itu terasa semakin kuat dan menggila di setiap detiknya, meluncurkanku dengan kecepatan penuh hingga memicu sebuah kesadaran mengerikan di dalam benak. Rasanya sebentar lagi tubuhku akan segera menabrak kanvas lukisan itu dan menghancurkannya menjadi serpihan tak berbentuk.
BRAKKK!
Secara mengejutkan, tubuhku terhempas keras kembali ke atas ranjang kamarku sendiri, memutus paksa seluruh perjalanan magis tadi. Sepasang mataku langsung melotot lebar, menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang temaram dengan napas yang memburu tidak beraturan. Aku bisa merasakan bagaimana ujung-ujung jemariku mencengkeram kuat kain sprei kasur yang kini terasa basah lembap akibat siraman keringat dingin yang bercucuran.
Tanpa membuang waktu dalam kebingungan, aku segera mengangkat tubuhku yang lemas secara tergesa-gesa, lalu duduk termenung di pinggiran ranjang yang keras. Kutempelkan telapak tanganku di atas dada, mencoba dengan keras untuk merasakan detak jantung yang berdegup kencang dari dalam sana. Beruntung, denyut kehidupan itu masih ada dan berirama ritmis.
Namun, keanehan segera merayap ketika aku menyadari bahwa baju tidur yang kukenakan telah basah kuyup seolah-olah seseorang baru saja menyipratkan seember air ke sekujur tubuhku. Apakah seluruh kejadian luar biasa yang baru saja kualami itu hanyalah sebatas mimpi belaka? Namun jika itu memang benar-benar mimpi, lantas mengapa bajuku bisa basah kuyup sedemikian rupa seperti baru saja terendam di dalam air laut?
Di dalam kesunyian malam yang mencekam itu, seluruh suara bising di sekelilingku mendadak mati total. Keheningan itu menyisakan sebuah ruang kosong yang teramat luas di dalam kepala, membiarkan pikiran-pikiran liarku menggema hebat dan saling berbenturan satu sama lain tanpa menemukan jawaban.
*****