Apapun istilah, nama, atau sebutan yang digunakan oleh para pemikir terdahulu untuk mendefinisikan tentang bagaimana berjalannya roda kekuatan besar yang mengendalikan seluruh poros alam semesta ini, aku secara pribadi memilih untuk menyebutnya sebagai sebuah proses sakral dari ‘Relokasi Kehidupan.’ Sebuah perpindahan takdir yang agung, di mana jiwa-jiwa manusia tidak pernah benar-benar menetap di satu titik nestapa, melainkan terus digeser dan dipindahkan menuju koordinat baru yang telah dirancang sedemikian rupa oleh jemari takdir.
Perubahan demi perubahan yang terjadi secara perlahan serta pergeseran dalam cara kita berpikir dan merenungi eksistensi, sesungguhnya adalah sebuah rute perjalanan spiritual yang mutlak harus ditempuh. Hal itu terjadi karena kita sebagai manusia berhasil menangkap sinyal-sinyal dari dinamika kehidupan yang berdenyut liar. Kita bukanlah sekadar sel mati yang pasif, kaku, dan membusuk di dalam sejarah, bukan pula sekumpul ide rapuh yang mudah runtuh dan hancur lebur saat dihantam oleh badai realitas yang datang bertubi-tubi.
Alih-alih memilih untuk menyerah dan pasrah begitu saja pada ketetapan takdir yang seringkali dengan kejam berusaha merubah esensi kemanusiaan kita menjadi objek mati yang menerima nasib tanpa perlawanan. Alangkah baiknya jika kita mulai memberikan ruang pertumbuhan yang seluas-luasnya bagi cara pandang kita sendiri. Kita harus memosisikan diri sebagai subjek aktif, seorang pengembara tangguh yang sedang menempuh perjalanan kosmiknya menembus ruang dan waktu. Di saat pintu gerbang yang selama ini kita tuju dengan susah payah mendadak tertutup rapat di depan sepasang mata, pada detik itulah tingkat kesadaran tertinggi kita dipaksa untuk segera terjaga. Membuat kita sadar untuk segera membalikkan badan dan pindah melangkah menuju koridor takdir lainnya yang telah dipenuhi oleh hamparan pilihan pintu-pintu baru yang misterius.
Segala sesuatu yang belum pasti di dunia ini, pada hakikatnya adalah sebuah kabar baik, karena itu berarti segala kemungkinan, mukjizat, dan jalan keluar masih terbuka sangat lebar dan membentang luas tanpa batas di hadapan kita. Dari titik balik sanalah aku mulai melangkah kembali, memperkenalkan diriku sekali lagi sebagai sosok asli di balik semua narasi ini. Aku, si pencerita yang menganyam untaian kisah ini dengan darah, air mata, dan harapan.
Rekam jejak perjalananku sejak menginjak usia kecil, di mana hidupku terus-menerus dipaksa untuk berpindah-pindah tempat dari satu tanah ke tanah lainnya, secara tidak langsung telah menempa mentalitasku untuk selalu mampu beradaptasi dengan rupa budaya baru, dialek baru, serta kebiasaan-kebiasaan asing yang sebelumnya tidak pernah kukenal. Semua perpindahan geografis itu ternyata adalah cetak biru yang sengaja dipersiapkan agar aku mampu menjejaki langkah kehidupan masa depan, bersinggungan dan berjalan beriringan dengan jutaan kepala manusia lainnya di luar sana. Aku merasa berada di titik yang sangat beruntung karena diberikan kesempatan langka untuk menerima semua proses tempaan yang melelahkan itu.
Dan kini, di saat roda hidupku akhirnya mulai bersemi dengan indah, mekar dengan kelopak-kelopak kesuksesan yang memancarkan aroma harum, aku menoleh ke belakang dan menyadari sebuah keajaiban. Kubangan lumpur pekat bekas guyuran hujan badai di masa laluku ternyata telah mengering dengan sendirinya, hancur berkeping-keping menjadi butiran debu halus yang seketika lenyap tak bersisa karena dihempas oleh angin buritan yang bertiup kencang. Setiap jengkal pengalaman, entah itu yang terasa semanis madu atau sepahit empedu, yang datang silih berganti menghampiri garis hidupku, telah sukses membentuk pribadiku menjadi seorang individu yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menyesuaikan warna diri. Aku mampu membaur dan berpendar secara harmonis di mana pun kakiku berpijak dan di atas tanah mana pun tubuhku bernaung.
Hadirnya orang-orang baru di dalam garis waktu yang terus bergerak maju tanpa pernah bisa dihentikan, laksana sebuah manifestasi dari keseimbangan kosmik di dalam keheningan yang absolut. Melalui kehadiran mereka, alam semesta seolah mendikteku agar aku hanya perlu meletakkan kata-kata yang jujur saja di atas permukaan bumi, tanpa perlu lagi merasa pusing dan meribetkan arti-arti terselubung atau maksud-maksud tersirat yang tidak utuh diucapkan oleh bibir manusia.
Meskipun aku menyadari bahwa bentang hidupku ini tidak pernah memiliki pinggiran yang lurus sempurna layaknya sebuah kertas pabrikan, dan tidak pula menyajikan sebuah gambar akhir yang mudah ditebak oleh nalar manusia layaknya sebuah teka-teki silang yang sederhana. Namun, di balik semua keabstrakan itu, setiap jengkal perpindahan tempat yang kualami, setiap helai wajah orang baru yang singgah dalam hidupku, dan setiap serpihan kegagalan tragis yang kemudian berhasil kuperbaiki dengan sisa-sisa tenaga, sesungguhnya adalah potongan-potongan puzzle unik yang sangat berharga. Potongan-potongan distorsi itulah yang pada akhirnya membuat bentangan gambar besar dari kanvas hidupku menjelma jauh lebih bernilai, estetik, dan berharga tinggi, jika dibandingkan dengan sebuah bentuk instan yang sejak dari awal mula penciptaannya sudah terlengkapi dalam keadaan utuh tanpa cacat.
Kini, dengan dada yang lapang dan kepala yang tegak, aku menerima dengan penuh rasa syukur semua fragmen masa yang pernah terukir di dalam lembaran hidupku. Aku menerima dengan tulus kehadiran orang-orang yang pernah melintasi jalanku, serta segala macam bentuk pelajaran hidup yang terurai rumit darinya.
Penerimaan ini jugalah yang akhirnya membuka tabir penutup mataku, sehingga aku mampu melihat sisa-sisa detail kecil dari kebaikan alam semesta. Yang pada masa-masa sebelumnya sama sekali tidak mampu kutangkap oleh indra penglihatanku karena ukurannya yang terlalu raksasa, terlalu megah, dan seringkali memecah fokus perhatianku ke segala arah. Begitulah halnya jika aku merenungi kembali jalinan benang merah dari kehadiran orang-orang luar biasa yang sengaja dimunculkan oleh takdir untuk bergerak membersamai, menopang, dan mewarnai jalannya hidupku selama ini.