Aku tiba lebih awal bukan karena Pak Alam, bosku. Aku hanya takut—sebab terlambat sering membuatku kehilangan sesuatu.
Pak Alam memang selalu begitu. Jika membuat janji pukul satu, dia akan datang lima belas menit setelahnya. Bertahun-tahun mengenalnya membuatku memaklumi kebiasaan itu.
Aku duduk di meja dekat jendela.
Kafe ini tidak terlalu ramai. Hanya beberapa meja yang terisi, dan hampir semua pengunjung sibuk dengan ponselnya masing-masing.
Ponselku bergetar.
Nama istriku muncul di layar.
Aku tersenyum, lalu mengangkat panggilannya.
“Sayang, Abang nggak makan siang di rumah,” kataku memulai percakapan.
“Iya, kenapa?” tanyanya.
“Lagi ada bahasan proyek sama Pak Alam.”
“Oh, ya sudah,” balasnya pasrah.
Dari seberang telepon terdengar suara pasar yang ramai.
“Oh iya, kebetulan Adek lagi di pasar. Abang mau nitip apa?” tanyanya sangat lembut.
Aku menoleh ke luar jendela.
“Beli buah-buahan aja! Buat Abang kerja nanti malam,” jawabku.
“Buah apa yang Abang mau, Sayang?”
Sebelum menjawab, mataku tertuju pada seorang pegawai kafe.
Usianya mungkin sekitar dua puluhan.
Dia sedang membantu pegawai perempuan yang bekerja bersamanya.
Terlalu sering membantu.
Perempuan itu mengambil gelas, dia ikut membantu.
Perempuan itu membawa nampan, dia ikut menawarkan diri mengangkatnya.
Perempuan itu bahkan tidak meminta bantuan. Tapi entah kenapa, dia selalu punya alasan untuk berada di dekatnya.
Aku tersenyum kecil.
“Jeruk aja,” jawabku kepada istri tercinta.
“Abang lagi pengen jeruk?” tanyanya manja.
“Iya, Sayang,” ku jawab dia, dengan sangat lembut pula.
“Manis atau asam?” tanyanya mungkin bercanda.
“Asam, Sayang,” aku ikut masuk dalam candaannya.
Istriku tertawa.
“Jeruk kok nyari yang asam?”
“Hehe. Lagi pengen yang asam,” kataku akhirnya.
“Ada-ada aja Abang ni.”
“Tolong carikan ya, Dek!” kataku.
“Iya, Sayang, adek lanjut ya,” jawabnya mengakhiri percakapan kami siang ini.
Panggilan ditutup.
Beberapa saat kemudian, pegawai laki-laki itu menghampiri mejaku.