Orange : Maaf aku menyukaimu

Hiday atrum
Chapter #1

Pemuda Lucu


Aku tiba lebih awal. Bukan karena dia bosku. Aku hanya merasa takut, sebab terlambat sering membuatku kehilangan sesuatu.


Pak Alam memang selalu begitu. Jika membuat janji pukul satu, dia biasanya datang lima belas menit setelahnya. Bertahun-tahun mengenalnya membuatku memaklumi kebiasaan itu.


Aku memilih duduk di meja dekat jendela.


Kafe ini tidak terlalu ramai. Hanya beberapa meja yang terisi, dan hampir semua pengunjung sibuk dengan ponselnya masing-masing.


Ponselku ikut bergetar.


Nama istriku muncul di layar.


Aku tersenyum lalu mengangkat panggilannya.


"Sayang, abang nggak makan siang di rumah."


"Iya, kenapa?"


"Lagi mau bahas proyek sama Pak Alam."


"Oh, ya sudah."


Dari seberang telepon terdengar suara pasar yang ramai.


"Oh iya, kebetulan adek lagi di pasar. Abang mau nitip apa?"


Aku menoleh ke luar jendela.


"Beli buah-buahan aja. Buat abang kerja nanti malam."


"Buah apa yang abang mau?"


Sebelum menjawab, mataku tertuju pada seorang pegawai kafe.


Usianya mungkin sekitar dua puluhan.


Dia sedang membantu pegawai perempuan yang bekerja bersamanya.


Terlalu sering membantu.


Perempuan itu mengambil gelas.


Dia ikut membantu.


Perempuan itu membawa nampan.


Dia ikut membantu.


Perempuan itu bahkan tidak meminta bantuan.


Tapi entah kenapa, dia selalu punya alasan untuk berada di dekatnya.


Aku tersenyum kecil.


"Jeruk aja," jawabku kepada istriku.


"Oh, abang lagi pengen jeruk?"


"Iya."


"Manis atau asam?"


"Asam, Sayang."


Istriku tertawa.


"Jeruk kok cari yang asam?"


"Hehe. Lagi pengen yang asam."


"Ada-ada aja abang ini."


"Carikan ya, Dek."


"Iya, Sayang."


Lihat selengkapnya