Orange : Maaf aku menyukaimu

Hiday atrum
Chapter #1

Pemuda Pemalu


Aku tiba lebih awal bukan untuk menyenangkan Pak Alam. Aku cuma takut, sebab terlambat sering membuatku kehilangan sesuatu.

Pak Alam lebih suka ditunggu. Janji pukul satu, ia datang lima belas menit kemudian.

Bertahun-tahun mengenalnya hingga aku hafal tabiat itu.

Aku duduk di meja dekat jendela.

Kafe ini tidak terlalu ramai. Hanya beberapa meja terisi, dan hampir semua pengunjung sibuk dengan ponselnya sendiri.

Ponselku bergetar.

Nama istriku muncul di layar.

Aku tersenyum, lalu mengangkat panggilannya.

“Sayang, Abang nggak makan siang di rumah,” kataku memulai percakapan.

Istriku tertawa kemudian bertanya,

“Kenapa, Bang?”

“Lagi ada proyek yang mau Abang percayakan ke Pak Alam, Dek.”

“Pak Alam, penulis itu kan?” tanya istriku.

“Iya, Dek,” jawabku.

“Oh, ya sudah,” balasnya pasrah.

Dari seberang telepon terdengar suara pasar yang ramai.

“Eh, Adek di mana?”

Istriku cekikikan sambil bilang,

“Kebetulan Adek baru ke pasar. Abang mau nitip apa?” suaranya menjadi sangat lembut.

“Haha, baru ke pasar, Adek?”

“Iya, tadi Adek ketiduran lagi, Bang. Maaf ya, Sayang,” katanya dengan manja.

“Nggak apa-apa, Sayang... Abang nitip apa ya bagusnya?” sahutku sambil berpikir dan menoleh ke bagian dalam kafe itu. Ada dua pegawai, laki-laki dan perempuan. Melihat mereka berdua, aku ingat sesuatu. Lalu kujawab istriku,

“Beli buah-buahan aja. Buat Abang kerja nanti malam.”

“Buah apa, Sayang?”

Sebelum menjawab, mataku tertuju pada pegawai kafe yang laki-laki.

Usianya mungkin sekitar dua puluhan.

Dia sedang membantu pegawai perempuan yang bekerja bersamanya.

Perempuan itu mengambil gelas, dia ikut membantu.

Perempuan itu membawa nampan, dia ikut menawarkan diri mengangkatnya.

Perempuan itu bahkan tidak meminta bantuan. Namun, entah kenapa, dia selalu punya alasan untuk berada di dekatnya.

Aku tersenyum kecil.

“Jeruk aja,” jawabku kepada istri tercinta.

“Abang lagi pengen jeruk?” tanyanya manja.

“Iya, Sayang,” kujawab dengan manja pula.

“Manis atau asam?” tanyanya mungkin bercanda.

“Asam, Sayang,” aku ikut masuk dalam candaan itu.

Istriku tertawa.

“Jeruk kok nyari yang asam?”

“Hehe. Lagi pengen yang asam,” kataku akhirnya.

Lihat selengkapnya