Orange : Maaf aku menyukaimu

Hiday atrum
Chapter #2

Senyuman


Hari itu hujan.


Hari pertama aku mulai bekerja di toko milik saudara satu kampungku.


Sebuah pekerjaan yang katanya sederhana—cukup membuka dan menutup toko. Cocok untukku, anak kuliahan yang baru merantau ke kota besar. Setiap minggu aku akan diberi upah; cukup untuk menutup biaya pulang-pergi ke kampus.


Aku juga boleh tinggal dan makan di sana tanpa biaya.


Bagi orang sepertiku, itu terdengar seperti keberuntungan yang terlalu rapi untuk ditolak.


Aku memanggil pemiliknya Tante, dan suaminya Paman.


Di depan kamar para karyawan, aku menunggu hujan reda. Suara air yang jatuh dari atap seng terdengar seperti seseorang yang tidak sabar ingin bercerita.


Paman datang menghampiri.


“Sudah mulai kuliah?” tanyanya.


“Belum, Paman. Tujuh hari lagi.”


“Kalau begitu, mainlah ke pasar. Duduk aja di lapak Roy dan Mahdi. Kalau lapar, bilang ke Roy, nanti dia pasti belikan pakai uang laci.”


Aku mengangguk.


“Siap, Paman. Terima kasih.”


Aku ragu sejenak, lalu bertanya,


“Tapi... yang lain sudah berangkat dari tadi ya? Masih jam enam sekarang.”


Paman tersenyum kecil.


“Kalau hari Senin dan Kamis, kami buka jam tiga subuh.”


Aku terdiam.


Jam tiga subuh.


Padahal ini bukan pasar sayur.


Bukan juga ayam potong.


Hanya kain. Kerudung. Barang yang bahkan tidak semua orang anggap kebutuhan.


Tapi di kota ini, rezeki seperti punya jamnya sendiri.


Aku mulai paham satu hal:


Kota ini tidak menunggu siapa pun yang lambat.


Aku tersenyum. Entah karena kagum atau gugup.


“Aku berangkat saja, Paman. Hujannya sudah agak reda.”


“Kalau mau tunggu juga tidak apa-apa.”


“Tidak apa. Aku jalan pelan saja.”


Paman mengangguk, lalu menyerahkan kunci motor kepadaku.


“Pakai motorku dulu.”


Aku menerima kunci itu dengan sedikit ragu.


“Kalau di rumah tidak ada motor, Paman gimana?”


“Aman. Titipkan saja ke Siska.”


Siska adalah anak perempuan Paman.


Aku tidak bertanya lagi.


Dengan motor itu, aku melaju menuju pusat perbelanjaan.


Dan di sanalah, untuk pertama kalinya, aku melihat betapa padatnya kota ini.

*


Kota Besar, ramai, rapi dan cepat. Orang-orang berjalan seperti punya tujuan yang tidak boleh diganggu.

Semua tampak lebih pantas dari aku.


Pakaian mereka rapi. Wajah mereka percaya diri. Bahkan para kuli panggul pun terlihat seperti sudah terbiasa dengan dunia yang keras. Bertubuh kekar seperti ahli bela diri yang disiplin latihan. 


Aku masuk melalui pintu kaca utama.

Lihat selengkapnya