Hari itu hujan.
Hari pertamaku bekerja.
Pekerjaan yang katanya sederhana: hanya membuka dan menutup toko. Cocok bagiku yang baru merantau ke kota besar. Setiap Minggu, akan ada upah; lumayan untuk biaya pulang-pergi kuliah.
Aku boleh makan dan tinggal di sana. Bagi orang sepertiku, itu terdengar bak keberuntungan yang terlalu rapi untuk ditolak.
Aku memanggil pemiliknya Tante, dan suaminya Paman.
Di depan kamar para karyawan, aku menunggu hujan reda. Suara air yang jatuh dari atap terdengar seperti seseorang yang ingin bercerita. Aku nyaris menjadi pendengarnya, tetapi langkah kaki seseorang lebih dulu mencuri giliran;
“Sudah mulai kuliah?” tanyanya.
Ternyata itu paman, suami tante pemilik toko.
Aku menjawabnya santai:
“Belum, Paman. Tujuh hari lagi.”
“Kalau gitu, mainlah ke pasar. Duduk di lapak Roy dan Mahdi. Kalau lapar, bilang ke Roy, nanti pasti dia belikan pakai uang laci.”
Aku mengangguk.
“Siap, Paman. Terima kasih.”
Aku ragu sejenak, lalu bertanya,
“Tapi... kenapa yang lain sudah berangkat dari tadi ya? Masih jam enam padahal.”
Paman tersenyum kecil.
“Kalau hari Senin dan Kamis, kami buka jam tiga subuh.”
Aku terdiam. Namun hatiku bicara.
Jam tiga subuh?
Padahal ini bukan pasar sayur.
Bukan juga ayam potong.
Hanya kain—kerudung. Barang yang bahkan tidak semua orang anggap kebutuhan.
Tapi di kota ini, rezeki seperti tak punya waktu untuk beristirahat.
Aku mulai paham satu hal:
Kota ini tidak menunggu siapa pun yang lambat.
Aku kemudian tersenyum. Entah karena kagum atau gugup.
Kuhembus napas pelan, menyimpan pemikiran itu jauh di dalam hati, lalu menoleh kembali kepada paman.
“Aku berangkat saja, Paman. Hujannya sudah reda,” ujarku selanjutnya.
“Kalau mau tunggu juga tidak apa-apa,” sahut paman itu sekadar basa-basi.
“Tidak apa-apa. Aku jalan pelan saja,” balasku padanya.
Tiba-tiba paman menyerahkan kunci motornya kepadaku.
“Pakai motorku dulu,” katanya.
Aku menerima kunci itu dengan sedikit ragu.
“Kalau di rumah tidak ada motor, Paman gimana, nanti?”
“Aman. Nanti diambil Siska.”
Siska adalah anak perempuan paman.
Aku tidak bertanya lagi.
Dengan motor itu, aku melaju menuju pusat perbelanjaan.
Dan di sana, untuk pertama kalinya, aku melihat betapa padatnya kota ini.
*
Kota besar, ramai, rapi, dan cepat. Orang-orang berjalan seperti punya tujuan yang tidak boleh diganggu.
Semua tampak lebih pantas dari aku.
Pakaian mereka rapi, wajah mereka percaya diri. Bahkan para kuli panggul pun terlihat sudah biasa dengan dunia yang keras ini, tubuh mereka kekar seperti ahli bela diri yang disiplin berlatih.
Aku masuk melalui pintu kaca utama.
Tak jauh dari keramaian, aku melihat lapak Bang Roy dan Bang Mahdi.
Mereka menyambutku dengan hangat. Senyum tipis Bang Roy terlihat menawan. Baju dan gayanya juga terkesan elegan.
Aku senang melihatnya.
Dia seakan bakal jadi panutanku dalam hal bergaya. Sementara kini, aku hanya anak yang baru lulus SMA, meski sempat menganggur setahun, aku tetap masih terlalu canggung untuk merasa menjadi bagian dari dunia.