Orange : Maaf aku menyukaimu

Hiday atrum
Chapter #3

Anak Balai


Hari ini tidak seperti Senin lalu. Aku ikut terjaga bersama pasukan balai lainnya.

Pukul tiga subuh kami sudah bangun dan mandi bergantian. Karena udara begitu dingin, aku menjadi satu-satunya yang hanya mencuci muka.

Meski begitu, hari ini aku sudah mulai berpakaian rapi seperti yang lain. Celena panjang dan kemeja hitam. Awalnya pakaian itu kusiapkan untuk ke kampus tetapi tidak masalah. Pakaianku memang tidak banyak.

Perantau seperti kami biasanya hanya membawa satu tas. Sebab merantau bukan pindah rumah, melainkan beradu nasib di negeri orang.

Sejujurnya aku masih mengantuk. Saat yang lain sudah terlelap tadi malam, aku masih menonton film di laptop. Waktu itu ponsel Android belum dimiliki banyak orang. Memang sudah ada, tetapi harganya masih cukup mahal untuk ukuran mahasiswa sepertiku.

Bang Roy tetap jadi yang paling kece.

Sementara abang tertua dalam pasukan ini, bernama Hendra. Gayanya biasa saja, tetapi dialah yang paling disiplin dan paling bersih.

Bang Hendra terlihat sangat cekatan. Benar-benar seperti orang yang tahu apa yang sedang dikerjakannya.

Tanpa sadar, dia memimpin kami semua. Bukan tipe yang suka memerintah, melainkan memberi contoh.

Tadi… dialah yang membangunkan kami tanpa membuat siapa pun kesal.

Tadi… dia juga membuktikan bahwa air di sepertiga malam, ternyata tidak sedingin yang kubayangkan. Meski bibirnya sedikit bergetar saat keluar dari toilet, gerakannya tetap cepat. Baru saja aku mengusap mata, dia sudah siap berangkat.

Orang yang sigap dan gesit.

Dia berteriak, memanggil Yeye. Anehnya, saat memanggil gadis itu, karakternya langsung berubah.

“Upiak Abu, capek lah saketek.”

Suaranya terdengar jauh lebih tua. Seperti bapak-bapak yang suka marah-marah tanpa alasan.

Aku tidak tahu kenapa. Tapi kayaknya cuma bercanda.

Tak lama kemudian Yeye keluar.

Dia salah satu karyawan lama di sini. Bisa dibilang tangan kanan tante. Bahkan kalau harus memilih antara dia dan Siska, mungkin dialah yang lebih cocok dianggap anak tante oleh para pembeli yang tidak tahu.

Yeye pintar bicara. Imut juga.

Sayangnya, aku belum terlalu dekat dengannya.

Kalau tidak salah, tadi malam dia pulang dijemput mobil. Bersama seorang pria gagah yang memakai barang-barang bermerek dari ujung kepala sampai kaki.

Termasuk topi Gucci-nya.

“Manga se si upiak abu dari tadi?” kata Bang Hendra dengan volume yang lumayan keras. Tapi intonasinya nyata kalau itu bercanda.

Aku melihat keluar, kami semua sudah siap meski Bang Roy dan Bang Mahdi sedang sama-sama berkaca.

Ternyata Yeye belum mandi, belum make up juga.

Pagi itu baru kusadari, kulit Yeye memang seputih itu. Selama ini kukira hanya karena bedak yang tebal. Bahkan matanya yang sipit ternyata bukan hasil polesan apa pun.

“Jangan marah-marah Abang Hendra—ku, hilang ganteng Abang nanti,” sahut Yeye membalas Bang Hendra tadi.

Oh ternyata, semua pasukan balai tante dan paman ini; ramah-tamah, senang bergurau, dan gak ada yang baperan.

“Eh, si Ave jadi gagah dia, Bang.”

Tiba-tiba Yeye bilang begitu.

Itu adalah pujian pertamaku di kota ini. Dipuji oleh saudara sendiri.

“Akak pergi sama Ave aja ya nanti, Bang Hen cepat-cepat gak jelas,” katanya.

Aku merasa,

Kok dia manggil kakak ke badannya? Apa memang dia lebih tua dari aku?

Ya sudahlah, aku ikut pola mainnya aja. Kataku di dalam hati.

“Baik Kak, aku tunggu,” jawabku sembari tersenyum padanya.

“Eh, janganlah. Ave sama Abang aja Dek. Sekalian belajar menyusun barang, oke gak tu?” kata Bang Hendra tiba-tiba.

“Ok juga Bang, Ave ngikut aja Bang,” jawabku.

“Roy, Ambo duluan. Beko tolong pai samo Yeye.”

“Tu Mahdi samo sia?” tanya Bang Roy.

“Io lah gadang pandainyo surang.”

Bang Roy malah tertawa, mengolok Bang Mahdi sambil berkata;

“Nampak ang yuang, urang lah baduo-duo, ang surang-surang jo baru.”

“Kalapia pai lah ang situ a!” balas Bang Mahdi ke Bang Roy.

Mereka tertawa bersama setelah mengucapkan kalimat yang kalau diartikan pasti sensor.

“Berarti, Akak sama Bang Roy, dak jadi sama Ave. Ya udahlah,” kata Yeye.

Jujur, aku belum paham kenapa dia menyampaikan kalimat itu ke aku. Yang jelas, Yeye ini memang punya hati yang baik. Cocok sebagai kakakku di kota ini. Mungkin akan menjadi kakak perempuanku satu-satunya.

Sejak subuh itu, aku melihat Yeye sangat lembut, dia suka tertawa ketika semua sedang kelahi. Dia suka menjadi penengah ketika debat sedikit panjang. Awalnya, kupikir dia pemarah dan cerewet. Sibuk pacaran, pulang selalu malam. Tapi ternyata, dia harus jadi kakakku yang wajib kujaga.


*


Aku dan Bang Hendra buka toko utama. Kukira kita adalah orang pertama yang datang ke pusat perbelanjaan ini, tapi ternyata, sudah ramai sekali. Seperti pasar sayur di pasar tradisional. Bahkan ini lebih keren. Berbagai macam suku lalu-lalang dengan pakaian seperti artis. Kira-kira setiap satu orang pengunjung di sini, mungkin membawa uang tunai puluhan juta. Tas dipeluk oleh mereka, sejauh yang aku dengar, tidak ada copet di dalam mall ini. Belum ada kejadian sedemikian rupa.

Lihat selengkapnya