Orange : Maaf aku menyukaimu

Hiday atrum
Chapter #4

Kopaja 502


Hari yang aku tunggu, yaitu hari ini. Saat menjadi salah satu mahasiswa di kampus dengan jurusan yang sangat aku gemari.

Sebelum menuju ke sana, keramaian manusia memadati jalanan. Berbagai jenis kendaraan juga memenuhi jalanan, dan yang paling banyak adalah angkutan umum.

Semua berjalan cepat, para kuli panggul, bahkan lebih cepat meski karung besar di atas bahunya.

Aku melewati semua kepadatan itu. Deru kereta yang melintas seolah ikut menambah semangatku. Meski untuk menuju kampusku, aku hanya perlu naik satu angkutan umum—Kopaja 502.

Aku masuk ke salah satu Kopaja 502 . Ku lihat, penuh sekali penumpangnya. Bahkan ada yang berdiri meski kopaja yang sama juga berjejer di belakang. Ketika kopaja itu jalan, aku menatap keseluruhan alam, meski gedung tinggi isinya. Asap dan polusi kadang menjadi hiasan dalam hiruk pikuk semua ini.

Satu per satu para penumpang turun, aku mengambil posisi dudukku. Setiap kali kopaja berhenti, pengamen naik dan berharap mendapat bagian dari isi kantong para penumpang.

Aku ingat sekali, ongkos ke sana hanya empat ribu, ditambah pengamen tiga orang hingga sampai ke tempat tujuan menjadi tujuh ribu. Pulang-pergi tetap begitu, kira-kira lima belas ribu adalah ongkos maksimal yang harus aku keluarkan setiap hari. Jika di kali enam, artinya; separuh dari upahku per minggu telah habis di jalanan. Tanpa air, tanpa makanan.

Dan sejak pagi itu aku bertekad memakai semua sisa uangku untuk berjualan. Kebetulan aku ada basic untuk menjual parfume, aku tahu di mana tempat harus membeli, semua pengetahuan ini berasal dari paman kandungku. Bahkan uang yang kubawa saat ini sejatinya masih milik pamanku.


*


Kampusku tercinta, kusebut namamu dalam hati yang paling dalam. Kuhentakkan kaki di atas bumimu. Agar kau mengenalku. Aku Zaverio, aku akan menaklukkanmu.

Pada masa itu, ospek dihapuskan. Kita semua dipindahkan ke dalam ruang berisi layar lebar untuk menyaksikan karya mahasiswa yang sudah wisuda dari fakultas ini. Dan setelah itu, kami semua masuk dalam kelas masing-masing.

Ruang itu lapang, dingin karena AC. Lebih seperti kantor, beda bangat sama kelasku waktu SMA. Aku senang duduk di antara orang-orang yang punya mimpi serupa denganku.

Mereka terlihat keren, mungkin hanya aku yang tidak. Pria paling keren di kelasku bernama Heru. Dia tinggi, rambutnya gondrong dan anak-anak dari kalangan artis bahkan sangat menghormatinya. Aku melihat semua itu tadi di luar. Dia seperti karakter yang nempel bangat sama julukkan anak seni.

“Hay!”

Tiba-tiba wanita berkacamata menyapaku.

“Gua Dinda,” katanya.

“Aku Zaverio.”

“Zaverio?” tanyanya mengulang namaku.

“Panggil aku Ave!” jelasku padanya.

“Oh, Ave. Gua duduk di sebelah lo ya?”

“Oiya, boleh.”

“Lo dari mana?” tanyanya.

“Aku Padang.”

“Wah Padang? Bapak gua juga Padang. Tapi ibu asli Bandung.”

“Iyakah? Kamu pandai bahasa Padang?”

“Pandai?” dia bertanya.

Dinda tertawa.

“Gua gak bisa bahasa Padang, bapak juga gak pernah ajarin,” kata Dinda masih dalam tawa yang sama.

“Lain kali, aku yang ajarin,” kataku.

Dinda tertawa lagi, sambil berkata;

“Boleh juga tu, haha.”

Dan bersama tawa itu, kami semua saling kenalan di kelas. Semua sangat gaul dan pandai bicara. Sejatinya aku juga. Cuma, untuk saat ini, aku lebih memilih memperhatikan dahulu.

Aku notice beberapa orang yang kelihatannya bisa jadi teman baik. Yang pertama, tentu Dinda yang kedua Arjun, ketiga Zia, keempat Aziz dan yang kelima, aku harus mendekatkan diri ke Heru.

Di hari pertama ini, kami tidak melakukan banyak hal, hanya perkenalan. Dan karena dari tadi pagi aku mau belanja grosiran parfume, aku pun memilih pergi lebih dulu. Di jalan aku berpapasan dengan temanku Arjun. Dia dari Sumbar orang awak juga.

“Arjun!” Aku memanggilnya.

“Eh, Ave… pulang?” tanyanya.

“Aku mau ke grosiran parfume,” jawabku.

“Wah kelihatan bangat orang awaknya, haha,” katanya sambil ketawa.

“Untuk tambah-tambah, Ar. Ikut yuk!”

Lihat selengkapnya