Orbit di Balik Gerhana

Suci Mulyati
Chapter #1

Anatomi Sebuah Lubang Hitam

Orang-orang sering kali mengartikan Trauma. Dari film dan novel picisan, kita dididik untuk percaya bahwa trauma selalu ditandai dengan tangisan histeris, teriakan di histeris, teriakan di tengah malam, atau ketakutan hebat saat melihat benda tajam. Kita diajarkan bahwa luka mental selalu memiliki bekas yang kasat mata, seperti memar di lengan atau perpecahan kaca di lantai.

Namun, kenyataannya tidak demikian. Kerapuhan mental yang sesungguhnya jauh lebih sunyi.

Truma psikologis yang paling mematikan tidak datang seperti ledakan bom yang menghancurkan segalanya dalam kesejap. Ia datang seperti rembesan air di dinding yang retak-pelan, nyaris tak terlihat, menetes setetes demi setetes, hingga suatu hari fondasi rumahmu hancur dan atapnya menimpamu saat kamu sedang tertidur. Truma adalah ketika kamu mulai mempertanyakan kewarasanmu sendiri. Truma adalah saat kamu menatap cermin dan tidak lagi mengenai siapa yang menatap balik kepadamu.

Secara klinis para psikolog menyebutnya sebagai complex Post-Traumatic Stress Disorder (C-PTSD) atau Truma Bonding (Keterikatan Trumatis). Namun, dalam kasus astronomi di kepalaku, aku menyebutnya sebagai fenomena jatuh kedalam Black Hole sebuah lubah hiam.

Lubang hitam tidak menelan sebuah bintang dengan cara menerkamnya. Lubang hitam menggunakan gaya gravitasi yang begitu absolut hingga sang bintang perlahan-lahan tertarik dari orbitnya. Cahaya bintang itu dibengkokkan. Waktu di sekitar melambat. Bindang itu harus mengitari sang lubang hitam dalam keputusasaan yang sunyi, dirobek lapis demi lapis, hingga akhirnya melewati Event Horizon batas peristiwa di mana tidak ada satu pun cahaya yang bisa lolos kembali.

Dan begitulah caraku hancur. Bukan oleh pukulan fisik, melainkan oleh manipulasi pikiran yang dirancang dengan sangat brilian oleh seorang laki-laki yang tahu persis di mana letak kelemahanku.

Untuk memahami bagaimana sebuah bintang bisa tersedot ke dalam lubang hitam, kita harus melihat bagaimana bintang itu terbentuk.

Aku lahir dan tumbuh dalam fenomena yang disebut oleh para ahli kesehatan mental sebagai Childhood Emotional Neglect (CEN) atau pengabaian emosional di masa kecil. Ini bukanlah bentuk kekerasan di mana orang tua memukul atau menelantarkan anaknya di jalanan. Sebaliknya, ini adalah bentuk kekerasan yang mewujud dalam "ketiadaan". Ketiadaan validasi. Ketiadaan pelukan yang menenangkan saat menangis. Ketiadaan ruang untuk mengekspresikan rasa takut, sedih, atau marah tanpa dihakimi sebagai anak yang cengeng atau kurang bersyukur.

Keluargaku utuh, berkecukupan secara materi, dan tidak pernah memiliki catatan kekerasan domestik. Namun, di rumah itu, cinta diterjemahkan murni melalui logika, prestasi, dan pemenuhan kebutuhan fisik. Saat aku menangis karena merasa tidak sepintar kakak-kakakku, aku tidak mendapat pelukan; aku mendapat nasihat untuk belajar lebih keras. Saat aku gagal, aku tidak diyakinkan bahwa aku tetap berharga; aku dipertanyakan mengapa aku tidak bisa seperti yang lain.

Otak anak kecil adalah spons yang menyerap kesimpulan dengan sangat harfiah. Ketika emosimu tidak pernah divalidasi, kamu akan tumbuh dengan satu keyakinan dasar yang salah kaprah: Aku hanya berharga jika aku berguna. Aku hanya pantas dicintai jika aku tidak merepotkan.

Keyakinan inilah yang menjadi cetak biru (blueprint) dari seluruh masalah mental yang kuhadapi di usia dewasa. Aku tumbuh menjadi People Pleaser—seseorang yang secara kronis selalu ingin menyenangkan orang lain, bahkan jika itu berarti menginjak-injak perasaanku sendiri. Aku kehilangan kemampuan untuk menetapkan batasan (boundaries). Aku merasa bertanggung jawab atas perasaan semua orang di sekitarku, sambil meyakini bahwa perasaanku sendiri adalah beban yang harus disembunyikan.

Rasa haus akan validasi yang tak pernah kudapatkan dari ayah dan ibuku, menciptakan sebuah ruang hampa udara di dadaku. Di usia dua puluhan, ruang hampa itu menjadi radar yang memancarkan sinyal putus asa, mencari siapa pun yang bersedia mengisinya.

Lihat selengkapnya