Orbit di Balik Gerhana

Suci Mulyati
Chapter #2

Bintang Paling Redup di Meja Makan

Ada kemuakkan yang selalu mendidih di dasar perutku setiap kali mendengar tetangga atau kerabat jauh memuji keluargaku. Di mata mereka, kami adalah rasi bintang yang bersinar sempurna, sebuah konstelasi harmonis yang tidak memiliki celah. Ayahku adalah pria pekerja keras yang banting tulang di luar kota. Ibuku adalah definisi mutlak dari istri berbakti yang memastikan lantai selalu mengkilap dan masakan selalu hangat, sementara kami—ketiga anaknya—adalah trofi-trofi bernapas yang melengkapi potret keluarga ideal tersebut.

Persetan dengan potret ideal itu.

Jika mereka benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu mahoni rumah kami, mereka akan melihat bahwa rasi bintang yang tampak indah dari kejauhan ini sebenarnya terpisah oleh ruang hampa yang membekukkan. Jutaan tahun cahaya jaraknya. Kami duduk di meja makan yang sama, menyodok nasi dari panci yang sama, menghirup sirkulasi udara yang sama tapi tidak ada satu pun dari kamu yang benar-benar terhubung.

Setiap kali makan malam tiba, suasana rumah kami berubah menjadi teater kebisuan yang mencekik. Denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar lebih keras daripada suara detak jantungku sendiri. Tidak ada yang berbicara tentang perasaan. Tidak ada tawa konyol. Tidak ada pertanyaan sederhana seperti, "Bagaimana harimu, Cika? Apa ada yang membuatmu sedih hari ini?" Yang ada hanyalah rutinitas mekanis. Sebuah pertunjukkan kepalsuan di mana setiap orang memainkan perannya masing-masing.

Aku membenci keheningan itu. Seiring aku bertumbuh, kesedihan karena diabaikan perlahan bermutasi menjadi amarah yang diam-diam mengerak di dinding tenggorokanku. Aku marah pada Ayah yang hadir bak tamu VIP pulang dari perantauan hanya untuk dihormati, dilayani, dan ditakuti. Kehadirannya menyedot seluruh oksigen di ruangan. Jika Ayah sedang menonton televisi kami semua harus diam, Jika Ayah sedang lelah, seisi rumah harus berjalan berjingkat. Ayah adalah matahari raksana yang gravitasinya terlalu brutal: Alih-alih menghangatkan, ia justru membakar siapa pun yang berani mendekat untuk meminta pelukan.

Aku juga marah pada kedua kakak laki-lakiku. Aditya dan Dean tumbuh menjadi planet-planet gas raksasa yang mengambil semua ruang kebanggan di rumah ini. Kakak sulungku, Aditya, dengan beasiswa dan otak briliannya. Kakak keduaku, Dean, dengan nilai-nilai eksak yang nyaris sempurna, Mereka adalah anak-anak lelaki yang dibersarkan oleh budaya patriarki dan ego yang menggunung.

Dulu Kak Dean adalah satu-satunya teman bermainku. Kami bermain masak-masakan dari daun dan air keran di halaman belakang. Namun, pubertas dan validasi dari ayah merampasnya dariku. Ia berubah menjadi sosok arogan yang merasa logikanya jauh lebih berharga daripada perasaanku. Bentakan mulai sering keluar dari mulut kak Dean hanya karena hal sepele. Ia melihatku sebagai anak perempuan bungsu yang cengeng, lemah, dan merepotkan. Tidak ada lagi perlindungan dari seorang kakak laki-laki yang ada hanya tatapan meremehkan setiap kali aku tidak mengerti hal-hal yang menurutnya "mudah".

Mereka semua begitu asyik berada di orbitnya masing-masing. Ayah dengan egonya. Ibu dengan pengabdian butanya pada Ayah, dan kakak-kakakku dengan arogansi otak mereka. Di tengah tata surya yang angkuh ini, aku ditinggalkan sendirian di sudut paling gelap. Aku menjadi Pluto bintang kecil, beku, terasing, dan pada akhirnya dicoret dari daftar planet karena dianggap tidak cukup layak.

Dari semua orang di rumah ini, orang yang paling memicu amarahku, sekaligus orang yang paling putus asa ku inginkan cintanya, adalah Ibu.

Lihat selengkapnya