Orbit di Balik Gerhana

Suci Mulyati
Chapter #3

Mencari Cahaya Sendiri

Seragam putih abu-abu bagiku bukanlah sekadar penanda transisi usia dari remaja awal menuju kedewasaan. Seragam itu adalah zirah. Itu adalah baju zirah yang kukenakan untuk maju ke medan perang yang telah kurancang sendiri di bawah langit malam setahun yang lalu. Aku telah bersumpah untuk berhenti menjadi Pluto yang kedinginan, dan satu-satunya cara untuk melakukan itu adalah dengan meledakkan diriku sendiri menjadi sebuah supernova—meskipun aku harus melakukannya di jalur yang dianggap "cacat" oleh keluargaku.

Keputusanku untuk masuk ke jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah sebuah anomali yang memicu gempa tektonik di meja makan kami. Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana denting sendok Kak Dean berhenti di udara saat aku menyodorkan formulir peminatan yang sudah kutandatangani sendiri. Kak Aditya hanya melirik sekilas dengan tatapan kasihan, seolah aku baru saja menandatangani surat pengakuan atas kebodohanku sendiri. Kak Dean, dengan kesombongan MIPA-nya yang mendarah daging, mendengus meremehkan.

"IPS? Kamu mau jadi apa nanti, Cika? Cuma orang-orang yang otak kirinya tumpul yang lari ke sana," katanya tanpa dosa.

Dan Ibu... Ibu menatap formulir itu seolah-olah itu adalah aib yang menodai silsilah genetik keluarga kami. Baginya, MIPA adalah takhta, sementara IPS adalah tempat pembuangan.

"Kakak-kakakmu semuanya MIPA, Cika. Ayahmu teknik. Kalau kamu masuk IPS, apa kata teman-teman arisan Ibu nanti?" suara Ibu terdengar sangat dingin, lebih dingin dari ruang hampa di luar angkasa. Ia menatapku dengan mata yang memancarkan ultimatum tak terbantahkan. "Dengar, Ibu tidak mau punya anak yang memalukan. Kalau kamu memang memaksa masuk IPS karena tidak sanggup menghitung fisika, maka kamu harus jadi yang nomor satu di sana. Ibu tidak mau tahu. Nilai Ekonomimu harus sempurna. Sosiologi, Geografi, Sejarah, semuanya harus yang tertinggi. Buktikan kalau kamu bukan sekadar sampah pelarian."

Syarat itu diucapkan bukan sebagai dorongan semangat, melainkan sebagai ancaman. Cinta Ibu bersyarat, dan kini syarat itu berbentuk paksaan agar aku menguasai semua pelajaran eksak di dalam rumpun sosial.

Ironisnya, jauh di lubuk hatiku, aku tidak pernah membenci ilmu pasti. Aku hanya membenci cara keluargaku mendewakannya. Diam-diam, saat pintu kamarku terkunci rapat di malam hari, aku masih menyembunyikan buku-buku ensiklopedia astronomi di bawah kasurku. Saat Ibu menyuruhku menghafal kurva permintaan dan penawaran atau menghitung buku besar akuntansi yang membuat kepalaku pening, pikiranku selalu melayang jauh menembus atmosfer.

Aku masih sangat mencintai astronomi. Aku mencintai bagaimana rasi bintang memiliki mitologinya sendiri. Aku takjub pada hukum gravitasi Newton yang menjaga planet-planet tetap pada porosnya. Aku meminjam buku-buku astrofisika dari perpustakaan secara diam-diam, menyembunyikannya di balik buku tebal Ekonomi Makro. Namun, di rumah ini, cintaku pada semesta dan bintang-bintang adalah sebuah kejahatan. Astronomi tidak bisa dibanggakan di arisan Ibu jika itu tidak menghasilkan piala olimpiade sains. Maka, aku mencekik minatku sendiri. Aku memaksa mataku turun dari langit malam untuk menatap deretan angka jurnal penyesuaian di atas kertas buram.

Di tengah masa hukuman akademikku ini, semesta memperkenalkanku pada pusat gravitasi yang baru. Seseorang yang akan menjadi katalisator ambisiku. Namanya Genta.

Genta tidak berada di kelasku. Ia adalah penghuni tetap kelas X IPS 1, kelas yang isinya adalah anak-anak dengan nilai ujian masuk tertinggi di jurusan kami. Sementara aku, dengan segala pergolakan mentalku, harus berjuang di X IPS 3. Berbeda dengan stereotip anak IPS yang sering dicap berisik, hobi membolos, atau urakan, Genta adalah anomali murni. Ia mematahkan semua pandangan merendahkan Kak Dean tentang anak sosial.

Genta adalah perwujudan dari ketenangan yang mematikan. Ia tidak pernah bersuara keras, tetapi setiap kali guru Sejarah melempar perdebatan tentang Perang Dunia, atau guru Ekonomi memberikan studi kasus inflasi yang rumit, Genta selalu memiliki jawaban yang presisi, logis, dan tajam. Kabar tentang kecerdasannya merembes melewati dinding-dinding kelas hingga ke telingaku.

Dalam kamus astronomiku, jika keluargaku adalah tata surya yang menolakku, maka Genta adalah bintang Sirius—bintang paling terang di langit malam yang memiliki orbitnya sendiri. Ia stabil, megah, dan tampak tak tersentuh oleh drama remaja di sekitarnya.

Awalnya, aku hanya memperhatikannya dari kejauhan saat kami berpapasan di perpustakaan atau di koridor penghubung. Namun, seiring berjalannya waktu, kekagumanku bermutasi menjadi obsesi yang lahir dari rasa rendah diri yang kronis. Aku melihat Genta sebagai representasi dari validasi yang kutuntut dari keluargaku.

Logikaku yang terluka mulai menyusun sebuah silogisme yang cacat: Genta adalah raja di jurusan ini. Jika aku, Shacika dari kelas IPS 3, bisa melampaui nilainya, merampas takhta peringkat paralel dari tangannya... maka Ibu pasti akan melihatku. Jika aku bisa membuktikan bahwa aku lebih cerdas dari pangeran IPS itu, Kak Dean dan Kak Aditya tidak akan punya alasan lagi untuk merendahkanku.

Genta menjadi target yang harus kukejar dan kuhancurkan secara akademik. Setiap kali aku mendengar dari anak-anak bahwa Genta mendapat nilai 95 di ulangan Akuntansi, aku akan menghukum diriku sendiri jika aku hanya mendapat 90. Aku mengikutinya secara diam-diam. Aku membaca buku dari pengarang yang sama dengan yang ia pinjam di perpustakaan. Aku mendaftar di klub karya ilmiah yang sama dengannya. Aku bersaing dengannya secara sepihak di arena yang berdarah-darah, sementara Genta sama sekali tidak menyadari bahwa ia sedang kujadikan musuh bebuyutan.

Berbulan-bulan aku hidup dalam ritme yang menggerogoti kewarasanku. Sepulang sekolah, saat teman-teman IPS-ku pergi nongkrong di kafe atau bermain PlayStation, aku mengunci diri di kamar. Aku menyeduh kopi hitam tanpa gula, menelan cairan pahit itu untuk mengusir kantuk. Aku menjejalkan hukum-hukum sejarah peradaban, sosiologi, dan rumus akuntansi ke dalam otakku sampai aku merasa mual.

Ada malam-malam di mana aku menangis tertahan, memeluk buku astronomiku erat-erat, merindukan kebebasan untuk hanya sekadar mengagumi keindahan nebula tanpa dituntut menjadi sempurna. Namun, bayangan senyum sinis Kak Dean dan tatapan dingin Ibu selalu menjadi cambuk yang memaksaku kembali membuka buku paket. Aku mematikan perasaanku. Aku menjadi mesin pencetak nilai.

Lalu, tibalah hari pembuktian itu. Hari pembagian rapor semester pertama.

Lihat selengkapnya