Dalam ilmu astronomi, satu tahun cahaya adalah satuan jarak, bukan waktu. Ia merepresentasikan rentang yang ditempuh cahaya dalam ruang hampa selama satu tahun bumiāsebuah angka fantastis di kisaran 9,46 triliun kilometer. Angka yang begitu masif hingga otak manusia sering kali gagal mencernanya secara logis. Di usia dua puluh tahun, aku menyadari bahwa hubunganku dengan Genta Mahardika adalah wujud nyata dari satuan tersebut. Kami mungkin berada di satu galaksi yang sama, menatap langit malam yang sama, bahkan bernapas di bawah awan mendung kota Bandung yang sama, namun jarak antara hatiku dan dunianya diukur dengan angka-angka yang mustahil ditempuh oleh kaki manusia biasa.
Kehidupanku pasca-SMA adalah sebuah pelarian panjang yang berujung pada realitas yang tak kalah pahit. Setelah pertarungan berdarah melawan ekspektasi Ibu yang menuntutku masuk rumpun ekonomi atau kedokteran, aku melangkah keluar dari rumah. Aku diterima di salah satu universitas negeri tertua dan paling bergengsi di Bandung, mengambil jurusan Pendidikan Sejarah. Keputusan itu secara resmi membuat namaku dicoret dari daftar kebanggaan "Rumah Para Juara". Aku tidak peduli. Saat itu, yang kuinginkan hanyalah jarak.
Aku pindah ke Bandung, menyewa sebuah kamar indekos sederhana berlantai dua di kawasan Tubagus Ismail. Udaranya sejuk, jalannya selalu ramai oleh mahasiswa, dan untuk pertama kalinya aku merasa bisa bernapas. Aku tidak sendirian di kosan itu. Aku berbagi atap dengan Prisillia, teman satu SMA-ku dulu.
Prisillia adalah antitesis dari diriku. Jika aku adalah planet berbatu yang suram, penuh kawah luka, dan selalu sibuk membuktikan diri, Prisillia adalah nebula yang berwarna-warni. Ia cantik dengan cara yang sangat natural, mudah bergaul, tertawa lepas tanpa beban, berasal dari keluarga harmonis yang hangat, dan diterima di jurusan bergengsi, Ilmu Komunikasi. Kami menyewa kamar bersebelahan. Pada awalnya, kosan ini adalah surga kecilku. Tempat di mana aku bisa membedah sejarah peradaban dunia, membaca buku-buku tebal tentang revolusi, tanpa harus mendengarkan sindiran Kak Dean atau omelan Ibu yang membandingkanku dengan Genta.
Namun, surga itu runtuh dengan kejam ketika kalender bergeser ke tahun 2020.
Pandemi COVID-19 bukan hanya membawa wabah yang menghentikan putaran roda dunia, tapi juga bertindak layaknya lubang hitam yang menyedot habis pilar-pilar rapuh di keluargaku. Semuanya dimulai dengan sebuah panggilan telepon di suatu malam yang diguyur hujan gerimis, saat Bandung sedang dalam masa pembatasan sosial yang ketat.
Aku sedang duduk bersila di atas karpet tipis kamarku, mengedit naskah artikel sejarah pesanan klien freelance, ketika nama Ibu berkedip di layar ponsel. Tumben sekali, pikirku. Ibu nyaris tidak pernah meneleponku sejak aku bersikeras mengambil Pendidikan Sejarah. Biasanya, ia hanya mengirim pesan sebulan sekali untuk memastikan aku belum mati kelaparan. Dengan ragu, aku menggeser tombol hijau.
Bukan omelan tajam yang kudengar, melainkan isakan tertahan yang seketika membuat darahku berdesir.
"Ibu? Ada apa?" tanyaku, tubuhku otomatis menegang. Suara hujan di luar jendela tiba-tiba terdengar sangat mengancam.
"Ayahmu, Cika..." Suara Ibu terdengar sangat rapuh, sebuah nada kekalahan yang belum pernah kudengar seumur hidupku dari wanita sekeras dirinya. "Ayahmu kena PHK. Perusahaannya melakukan efisiensi besar-besaran karena pandemi. Pesangonnya ditahan entah sampai kapan. Kakak-kakakmu gajinya dipotong separuh dan mereka punya cicilan sendiri. Ibu... Ibu tidak tahu kita harus pakai uang dari mana bulan depan untuk bayar listrik dan makan."
Malam itu, mahkota keangkuhan keluargaku hancur berkeping-keping. Ketakutan akan kemiskinan ternyata memancarkan teror yang jauh lebih mengerikan bagi Ibu daripada ketakutan akan nilai ujian yang jelek. Di ujung telepon, di kamar kos yang sempit ini, aku hanya bisa menahan napas, merasakan gravitasi menarikku jatuh ke dasar jurang.
"Andai kamu dulu menurut masuk Akuntansi," isak Ibu, masih menyempatkan diri menancapkan duri di tengah kehancuran kami, sebuah kebiasaan yang tak bisa ia hilangkan. "Setidaknya kamu bisa membantu Ayah mencari celah bisnis, atau minimal magang di tempat yang menjanjikan. Sekarang? Apa yang bisa kamu hasilkan dari buku sejarahmu itu? Mau mengajar siapa di tengah wabah yang membuat semua sekolah tutup begini, Cika?"
Sejak malam itu, beban di pundakku terasa berkali-lipat lebih berat. Beasiswa yang kudapatkan hanya menanggung uang kuliah. Untuk bertahan hidup, membayar kos, dan mengirimkan sedikit uang ke rumah agar Ayah bisa membeli obat darah tingginya, aku harus bekerja layaknya mesin yang kehilangan rem. Di sela-sela kelas online yang memuakkan dan tugas makalah yang menumpuk, aku mengambil pekerjaan apa saja. Aku menjadi penulis bayangan (ghostwriter) untuk blog orang lain, admin media sosial toko pakaian bergaji rendah, hingga joki transkrip wawancara. Jam tidurku menyusut menjadi tiga jam sehari. Mataku mulai cekung, tulang pipiku menonjol, dan berat badanku turun drastis.
Sementara itu, Prisillia di kamar sebelah seolah hidup di semesta yang berbeda. Pandemi tidak menyentuh benteng finansial keluarganya. Ia masih bisa tertawa riang saat video call dengan teman-temannya, masih sering memesan rice bowl salmon atau boba lewat aplikasi ojek online, dan tidak pernah pusing memikirkan tagihan internet kosan. Aku sama sekali tidak membenci Prisillia; ia terlalu baik untuk dibenci. Ia sering mengetuk pintuku dan menyodorkan sekotak martabak atau piza dengan dalih basi, "Lagi diet nih, Cik, bantuin habisin dong." Tapi kemudahan hidupnya terus-menerus menamparku dengan realitas betapa tidak adilnya garis start manusia di dunia ini.
Namun, ironi paling menyakitkan dari kosan di Tubagus Ismail ini bukanlah perbedaan status ekonomi antara aku dan Prisillia. Ironi itu bernama Genta Mahardika.
Genta, sang pangeran logika dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, bintang Sirius dari masa SMA-ku, ternyata sering bertandang ke kosan kami begitu aturan pembatasan mulai dilonggarkan di tahun ketiga kuliah. Dan tentu saja, kedatangannya bukan untukku.
Aku masih mengingat jelas hari di mana aku menemukan fakta yang meremukkan sisa-sisa kewarasanku itu. Suatu sore di awal semester enam, matahari Bandung sedang bersinar malu-malu. Aku sedang menjemur pakaian di balkon lantai dua saat aku melihat mobil sedan hitam yang sangat kukenal terparkir mulus di pelataran. Jantungku yang sudah mati rasa oleh beban hidup mendadak berdetak liar. Genta ada di sini.
Aku bergegas turun, tanganku dengan gugup merapikan rambutku yang diikat asal, mengusap wajahku yang kusam. Aku berharap bisa menyapanya setelah bertahun-tahun hanya bertukar pandang sekilas di perpustakaan kampus. Namun langkahku terhenti di anak tangga terakhir. Kakiku memaku pada lantai kayu.
Di ruang tamu kosan, Genta sedang duduk berhadapan dengan Prisillia. Laki-laki bersorot mata es yang selalu menganggap emosi sebagai variabel tidak efisien itu... sedang tersenyum. Ia menatap Prisillia dengan sorot mata yang begitu lembut dan hangat, sebuah tatapan yang rela kutukar dengan nyawaku sendiri untuk bisa mendapatkannya barang sedetik saja.
"Kamu jangan terlalu sering begadang buat nugas, Sil," kudengar suara bariton Genta mengalun pelan, penuh dengan kehati-hatian yang tidak pernah ia tunjukkan padaku. Ia menyodorkan sebuah kantong kertas dari toko roti terkenal. "Tugas komunikasi massa memang berat, tapi kesehatanmu jauh lebih penting. Kalau kamu sakit, siapa yang repot?"
Prisillia tertawa renyah, sebuah tawa lepas yang membuat ruangan itu terasa lebih terang. "Makasih, Genta! Cerewet banget deh. Eh, ngomong-ngomong, alat riset ekspedisi FEB kamu ke gunung bulan depan udah aman?"
"Hampir. Tinggal cari tas carrier spesifik yang stoknya kosong di mana-mana karena pabriknya sempat tutup pas pandemi. Tapi nanti bisa kuurus," jawabnya, masih menatap Prisillia tanpa berkedip sedikit pun.