Orbit di Balik Gerhana

Suci Mulyati
Chapter #5

Komet yang Lewat Sesaat

"Ada benda-benda langit yang ditakdirkan hanya untuk melintas. Mereka datang membawa ekor cahaya yang menyilaukan, menawarkan ilusi kehangatan di tengah tata surya yang membeku, lalu pergi begitu saja, meninggalkan ruang hampa yang jauh lebih dingin dari sebelumnya. Kita menyebutnya komet. Aku menyebutnya, pengkhianatan."

Dinginnya udara Kota Bandung tak pernah terasa setajam malam itu. Hujan baru saja reda, menyisakan genangan air yang memantulkan cahaya lampu jalanan yang temaram. Aku duduk bersila di atas kasur lipat di kamar kosku yang sempit, memeluk lutut dengan tatapan kosong mengarah ke layar ponsel yang perlahan meredup.

Genta—bintang yang selama ini kuagungkan, yang cahayanya selalu kuusahakan untuk kucapai dengan susah payah—telah benar-benar memadamkan dirinya dari rotasiku. Rasa sakit karena diabaikan olehnya tidak hanya meninggalkan luka, tetapi juga menciptakan sebuah lubang hitam raksasa di dadaku. Kekosongan itu begitu absolut. Ia menyerap setiap sisa kewarasanku, membuatku merasa menjadi perempuan paling tidak berharga di seluruh galaksi.

Di tengah malam-malam sepi yang menyiksa itu, aku mencari pelarian. Layar ponsel menjadi satu-satunya jembatan antara diriku yang terisolasi dengan dunia luar. Aku menggulir lini masa media sosial tanpa tujuan, hanya untuk mengebaskan pikiran dari bayang-bayang Genta. Saat itulah, sebuah notifikasi kecil muncul di sudut layarku. Sebuah pesan langsung (Direct Message) dari seorang pengikut yang selama ini mungkin hanya kuanggap sebagai deretan nama tanpa wajah.

"Cika? Shacika Kalea? Ini beneran kamu? Wah, pangling banget."

Keningku berkerut. Aku membuka profilnya. Sebuah nama tertera di sana: Bagas.

Ingatanku langsung terlempar mundur jauh ke belasan tahun silam. Ke masa-masa seragam merah putih, lapangan berdebu, dan tawa tanpa beban. Bagas. Tentu saja aku mengingatnya. Kami pernah satu sekolah saat Sekolah Dasar. Dulu, dia adalah anak laki-laki pendiam yang sering duduk di barisan tengah. Menemukan nama yang familiar dari masa lalu di tengah kota perantauan yang asing ini rasanya seperti menemukan setetes air di padang pasir.

Tanpa ragu, aku membalas pesannya. "Bagas? Ya ampun, iya ini Cika! Apa kabar, Gas?"

Dari satu balasan sederhana itu, sebuah percakapan panjang bermula. Malam yang tadinya terasa sangat panjang dan membekukan, perlahan menghangat oleh ketikan-ketikan nostalgia. Bagas yang kukenal dari balik layar ini bukanlah anak SD yang pendiam lagi. Dia menjelma menjadi sosok laki-laki yang hangat, komunikatif, dan sangat tahu bagaimana cara membuat seorang perempuan merasa didengarkan.

Bagas datang di waktu yang sangat tepat—atau mungkin, sangat salah. Saat itu, pertahananku sedang hancur lebur. Aku adalah satelit malang yang kehilangan arah, dan Bagas muncul membawa pendar cahaya yang menjanjikan sebuah tempat untuk berpijak.

Hanya butuh waktu beberapa hari sejak pesan pertama itu hingga percakapan kami berpindah dari kotak masuk media sosial ke aplikasi obrolan, lalu berevolusi menjadi panggilan suara, hingga akhirnya tatap muka virtual melalui video call. Jarak ratusan kilometer yang membentang antara Bandung dan Surabaya—tempat Bagas tinggal dan bekerja saat ini—seolah menguap tak bersisa.

"Pagi, cantiknya aku. Jangan lupa sarapan, ya. Ngajar yang semangat hari ini!"

Pesan-pesan seperti itu menjadi menu wajib setiap pagi. Bagas melakukan semua hal yang dilakukan oleh laki-laki pada umumnya ketika sedang mendekati seorang perempuan, namun bagiku yang sedang kelaparan akan afeksi, perhatian sekecil itu terasa seperti sebuah keselamatan.

Aku mulai terbiasa tertidur dengan suara napasnya di ujung telepon. Aku mulai terbiasa menceritakan betapa melelahkannya revisi tugas kuliahku, dan dia akan selalu mendengarkan dengan sabar. Bagas memosisikan dirinya sebagai pendengar yang baik, sosok pelindung maya yang selalu ada dalam jangkauan sinyal.

Bagas banyak menceritakan tentang kesehariannya di Surabaya. Dengan penuh kebanggaan, ia mengaku bekerja di salah satu toko kitchen set dan furnitur ternama di sana.

"Kerjaanku lumayan padat, Cik. Kadang harus ukur ke rumah klien, ngecek bahan, mastiin desain kitchen set-nya sesuai. Capek sih, tapi demi masa depan, ya harus semangat," ceritanya suatu malam melalui video call. Ia tampak rapi dengan kemeja flanelnya, tersenyum dengan sorot mata yang terlihat begitu meyakinkan.

Aku sangat bangga mendengarnya. Di mataku, ia adalah sosok pekerja keras yang memiliki visi masa depan yang jelas.

Lebih dari itu, Bagas memberikan sesuatu yang tidak pernah Genta berikan kepadaku: pengakuan. Saat kami melakukan video call dan kebetulan dia sedang berkumpul bersama teman-temannya di sebuah warkop, Bagas tidak pernah menyembunyikanku. Ia memutar layar ponselnya, memperlihatkan wajahku kepada teman-temannya.

"Kenalin nih, Cika. Cewek gue yang di Bandung," ucapnya dengan nada bangga.

Hatiku membuncah. Sungguh, aku sangat bahagia pada saat itu. Rasa kesepian yang selama ini mengerogotiku hilang tak berbekas. Duniaku yang tadinya hanya berisi ratapan untuk Genta, kini dipenuhi oleh warna-warni ilusi yang diciptakan Bagas. Tidak ada satu hari pun yang terlewat tanpa komunikasi. Bagas menjadi candu baruku, sebuah komet yang menghiasi langit malamku yang kelam.

Namun, aku lupa satu hukum mutlak tentang komet: mereka tercipta dari es dan debu yang rapuh, dan mereka tidak pernah diam di satu orbit untuk waktu yang lama.

Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Ia merayap perlahan, seperti senja yang diam-diam mencuri terang dari siang.

Bermula dari pesan "Selamat pagi sayang" yang mulai datang terlambat. Lalu, panggilan telepon malam hari yang seringkali ditolaknya dengan alasan lelah bekerja atau sedang menemani klien. Jika dulu ia bisa menghabiskan berjam-jam menatapku di layar, kini sepuluh menit pun ia tampak gelisah dan ingin segera mengakhiri panggilan.

Lihat selengkapnya