Orbit di Balik Gerhana

Suci Mulyati
Chapter #6

Gravitasi Sang Manipulator

Dunia tidak berhenti berputar hanya karena satu orang hancur. Itu adalah hukum fisika yang paling kejam. Meskipun jiwaku terasa seperti puing-puing satelit yang terbakar saat memasuki atmosfer, matahari tetap terbit di atas langit Bandung, dan Prisillia tetap berangkat kuliah dengan tawa ringannya. Aku masih terjebak dalam kawah luka yang ditinggalkan Bagas, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang berserakan, ketika sebuah anomali baru masuk ke dalam sistem koordinat hidupku.

Namanya Reno. Jika Bagas adalah komet yang meledak, maka Reno datang seperti sebuah planet dengan gravitasi yang tenang namun mengikat.

Kami bertemu di sebuah forum diskusi literatur di media sosial, tak lama setelah aku mencoba menghapus jejak pahit Facebook-ku. Reno berasal dari Semarang, kota yang cukup jauh untuk membuatku merasa aman dari kemungkinan pertemuan fisik yang mendadak, namun cukup dekat untuk menciptakan ilusi kedekatan. Dia hadir bukan dengan rayuan gombal yang mencolok, melainkan dengan empati yang terlihat sangat terdidik.

Reno memosisikan dirinya sebagai "penyembuh". Dia mengaku sebagai seorang konsultan kreatif yang juga mendalami psikologi populer. Lewat panggilan suara di malam-malam sepi di kamar kosku, Reno mendengarkan isak tangisku. Dia tidak menghakimiku karena telah tertipu oleh Bagas. Sebaliknya, dia mengutuk Bagas dengan kata-kata yang membuatku merasa seperti korban suci.

"Chika, kamu itu terlalu murni untuk dunia yang kotor ini," ucapnya dengan suara bariton yang lembut, seolah-olah dia sedang membacakan puisi. "Bagas adalah hama, dan kamu adalah bunga yang kebetulan dihinggapinya. Jangan hukum dirimu atas kesalahan orang lain."

Perlahan, gravitasi Reno mulai menarikku. Aku yang sedang hancur membutuhkan pegangan, dan Reno menawarkan tangannya dengan sangat sopan. Dia seolah-olah menjadi kompas baru di tengah ketersesatanku. Skripsiku yang mangkrak dan pekerjaanku sebagai guru honorer yang mulai kutinggalkan perlahan mulai kukerjakan kembali, semua karena dorongan Reno yang tampak begitu suportif. Namun, aku tidak menyadari bahwa di balik dukungan itu, Reno sedang membangun jaring-jaring ketergantungan.

Setelah beberapa bulan menjalin hubungan jarak jauh yang intens, Reno memutuskan untuk datang ke Bandung. Dia bilang dia ingin bertemu denganku, sekaligus ingin mampir ke rumah orang tuaku untuk menunjukkan "keseriusannya". Aku yang saat itu merasa sudah menemukan pengganti yang jauh lebih baik dari Bagas, merasa sangat tersanjung. Aku merasa inilah saatnya aku membuktikan pada keluargaku bahwa aku bisa mendapatkan laki-laki yang mapan dan dewasa.

Reno datang dengan penampilan yang nyaris sempurna. Kemeja berpotongan rapi, jam tangan yang terlihat mahal, dan tutur kata yang sangat terjaga. Dia membawakan buah tangan yang banyak untuk Ibu dan Ayah. Ibu, seperti biasa, langsung terpesona. Di mata Ibu, Reno adalah definisi menantu idaman: sopan, bekerja di bidang kreatif yang "kekinian", dan tampak sangat memuja anak perempuannya yang paling bermasalah ini.

Namun, suasana hangat di ruang tamu sore itu tidak menyentuh Ayah.

Ayah, yang sejak kehilangan pekerjaannya menjadi lebih pendiam dan reflektif, duduk di kursi jengki-nya dengan mata yang terus mengawasi Reno. Ayah tidak banyak bicara. Dia hanya sesekali menyesap teh pahitnya sambil mendengarkan Reno memaparkan proyek-proyek besarnya di Semarang.

"Jadi, Nak Reno ini konsultan?" tanya Ayah tiba-tiba, memotong tawa Reno yang sedang menanggapi cerita Ibu.

"Betul, Om. Saya banyak menangani branding untuk perusahaan-perusahaan menengah," jawab Reno dengan senyum simpul yang paling menawan.

Ayah hanya mengangguk kecil, matanya menyipit. Ada sesuatu di sana, sebuah insting purba seorang pria yang telah lama hidup dengan berbagai macam karakter manusia di dunia kerja. Ayah melihat sesuatu yang luput dari pandangan mataku yang sedang dibutakan oleh rasa haus akan cinta.

Malamnya, setelah Reno pamit untuk kembali ke hotelnya, Ayah memanggilku ke dapur.

Lihat selengkapnya