Dalam astronomi, Event Horizon adalah titik tanpa harapan. Ia adalah batas terluar dari sebuah lubang hitam, sebuah garis imajiner di mana tarikan gravitasi menjadi begitu ekstrem sehingga cahaya sekalipun tak mampu meloloskan diri. Jika kamu melintasi batas itu, kamu tidak lagi memiliki masa depan; semua jalan hanya akan membawamu menuju pusat kehancuran.
Di semester akhir yang seharusnya menjadi masa kejayaanku, aku menyadari bahwa aku telah melintasi garis itu. Reno bukan lagi sekadar komet yang lewat atau planet yang singgah; dia adalah lubang hitam yang sedang melumat habis seluruh atom dalam diriku.
Siksaan itu tidak dimulai dengan bentakan atau pukulan. Ia dimulai dengan bisikan-bisikan yang terdengar seperti kepedulian. Setelah Reno memutuskan hubungan namun memaksa untuk tetap "berteman tapi terikat," dia mulai membangun tembok di sekeliling hidupku.
Segalanya bermula dari sebuah foto sederhana. Sore itu, sekolah tempatku mengajar mengadakan syukuran kecil karena akreditasi yang memuaskan. Sebagai guru honorer sejarah yang paling muda, aku diminta ikut berfoto bersama guru-guru lain. Aku berdiri di sebelah Pak Doni, guru olahraga yang usianya sudah hampir sebaya dengan Ayah. Kami semua tersenyum, merayakan keberhasilan kecil di tengah penatnya kurikulum.
Aku mengunggah foto itu di status WhatsApp. Tidak sampai lima menit, ponselku bergetar hebat. Itu dari Reno.
"Siapa laki-laki yang berdiri di sebelahmu itu? Kenapa bahunya harus bersentuhan denganmu? Kamu terlihat sangat kegirangan, ya, kalau ada pria lain di sekitarmu?"
Tanganku gemetar. Aku mencoba menjelaskan bahwa itu hanya rekan kerja, bahwa dia sudah seperti paman bagiku. Namun, Reno tidak menerima logika. Selama tiga jam berikutnya, dia menerorku dengan telepon. Dia menangis, dia menyalahkanku, dia menyebutku "perempuan yang tidak tahu berterima kasih."
"Aku di sini berusaha menyembuhkan lukamu akibat Bagas, Chika! Tapi kamu? Kamu justru cari perhatian dari laki-laki lain di sana! Kamu tahu betapa sakitnya hatiku?" suaranya di telepon berubah dari lembut menjadi desisan yang tajam.
Sejak hari itu, hidupku menjadi milik Reno sepenuhnya. Dia menuntut akses ke semua akun media sosialku. Dia melarangku pergi ke luar kosan selain untuk mengajar. Prisillia, teman satu kamarku yang biasanya menjadi tempatku berbagi cerita, kini dipandangnya sebagai ancaman.
"Prisillia itu terlalu bebas, Chika. Dia bakal bawa pengaruh buruk buat mental kamu yang masih labil. Kamu jangan terlalu sering bicara sama dia," perintah Reno.
Aku terjebak. Di dalam kamar kosan yang sempit itu, aku sering kali harus bersembunyi di bawah selimut, berbicara dengan Reno lewat telepon hanya untuk memastikan dia tidak marah. Jika aku terlambat membalas pesannya selama sepuluh menit saja, dia akan mengancam akan menyakiti dirinya sendiri di Semarang, atau yang lebih buruk, dia akan mencaci-makiku sampai aku merasa diriku adalah sampah yang paling rendah di alam semesta.
Namun, siksaan psikologis itu hanya sebagian dari rencana besarnya. Reno mulai memasuki ranah yang paling menyakitkan: keuanganku yang sudah berdarah-darah.
Suatu malam, dengan nada suara yang sengaja dilemahkan, Reno bercerita bahwa usahanya di Semarang sedang macet. Dia bilang dia terancam kehilangan motor yang dia gunakan untuk bekerja jika tidak membayar cicilan selama tiga bulan berturut-turut.
"Aku nggak tahu harus minta tolong ke siapa lagi, Chika. Kamu satu-satunya orang yang aku percaya. Aku janji, kalau proyekku cair bulan depan, aku bayar semuanya dua kali lipat," bujuknya.