Dalam mekanika kuantum, ada sebuah eksperimen pemikiran terkenal yang disebut Kucing Schrödinger. Seekor kucing dikurung dalam sebuah kotak besi bersama sebuah alat pemusnah yang mematikan. Selama kotak itu tidak dibuka, kucing tersebut dianggap berada dalam dua kondisi sekaligus: hidup dan mati.
Memasuki bulan kedelapan hubunganku dengan Reno, aku menyadari bahwa aku adalah kotak besi itu. Dan di dalamnya, kewarasanku adalah kucing yang sedang sekarat. Reno telah mengubah perasaanku menjadi sebuah laboratorium penyiksaan psikologis, di mana senjata utamanya bukanlah kata-kata kasar atau pemerasan uang semata, melainkan sesuatu yang jauh lebih mematikan: ancaman nyawa.
Setiap kali aku mencoba menarik diri, setiap kali aku mulai sadar bahwa gravitasi ini akan membunuhku, Reno akan mengeluarkan senjata pemusnah massal miliknya. Dia akan menaruh nyawanya di tanganku, memaksaku memikul beban yang tak seharusnya dipikul oleh manusia mana pun.
Semuanya bermula pada suatu malam di hari Selasa yang sunyi. Aku baru saja menerima pesan dari Ibu yang menangis karena Ayah jatuh pingsan lagi, sementara uang yang seharusnya kukirim untuk obat Ayah justru sudah habis kukirim ke Semarang atas paksaan Reno. Rasa muak yang selama ini kupendam mendadak meluap menjadi keberanian yang dingin.
Dengan tangan gemetar, aku mengirim pesan singkat pada Reno: "Reno, kita harus benar-benar berhenti. Hubungan 'teman tapi terikat' ini membunuhku. Aku tidak bisa membiayai hidupmu lagi. Tolong jangan hubungi aku lagi."
Aku mematikan ponsel. Aku mencoba menarik napas, merasakan secercah oksigen yang sudah lama tidak mampir ke paru-paruku. Namun, ketenangan itu hanya bertahan lima menit.
Prisillia, yang sedang belajar di meja sebelahnya, tiba-tiba menoleh. "Cik, ponselku bunyi terus. Ini nomor dari Semarang. Reno telepon aku?"
Jantungku mencelos. Reno mulai meneror orang-orang di sekitarku. Aku terpaksa menyalakan ponselku kembali. Seketika, ratusan notifikasi masuk. Pesan-pesan singkat dari Reno berubah dari amarah menjadi keputusasaan yang mengerikan.
"Kalau kamu benar-benar pergi, aku tidak punya alasan lagi untuk hidup, Chika." "Aku sudah di jembatan sekarang. Aku cuma butuh kamu dengar suaraku sebelum aku melompat." "Darah ini untuk kamu, Chika. Semoga kamu puas."
Disusul dengan sebuah foto. Sebuah pergelangan tangan dengan luka sayatan yang dangkal, namun cukup untuk memperlihatkan warna merah yang segar. Di sampingnya ada sebilah pisau dapur.
Aku menjerit. Ponselku terjatuh ke lantai kayu kosan. Prisillia segera menghampiriku, wajahnya pucat melihat foto yang terpampang di layar.
"Cik, dia gila! Dia cuma mengancam! Jangan percaya!" teriak Prisillia.
Tapi logikaku sudah lumpuh. Di mataku, Reno benar-benar akan mati. Dan jika dia mati, itu karena pesanku. Aku akan menjadi seorang pembunuh. Aku akan membawa rasa bersalah itu seumur hidupku. Bagaimana mungkin aku bisa hidup jika aku tahu aku telah menyebabkan nyawa seseorang melayang?
Dengan jempol yang gemetar hebat, aku meneleponnya balik. Dia mengangkat pada deringan pertama. Suaranya terdengar lemah, terengah-engah, seperti seseorang yang sedang di ambang maut.
"Halo... Chika? Kamu mau lihat aku mati, ya?" bisiknya.
"Jangan, Reno! Jangan lakukan itu! Aku minta maaf! Aku tarik kata-kataku tadi! Tolong, buang pisaunya!" aku berteriak histeris, air mataku tumpah membasahi bantal.
Malam itu, Reno berhasil memenangkan pertempuran. Dia tidak hanya mendapatkan permintaan maafku, tapi dia juga mendapatkan kendali penuh atas kewarasanku. Dia tahu sekarang, bahwa ancaman kematian adalah tombol sakti yang akan membuatku bertekuk lutut, seberapa pun hancurnya aku.