Orbit di Balik Gerhana

Suci Mulyati
Chapter #9

Kabar Kematian yang Janggal

Kebohongan memiliki berat jenis yang aneh. Ia tidak seperti batu yang langsung tenggelam, melainkan seperti gas beracun yang memenuhi setiap sudut ruangan hingga kau tak bisa lagi membedakan mana udara dan mana maut. Selama berbulan-bulan, aku hidup dalam kabut itu, menghirup setiap ancaman Reno seolah-olah itu adalah oksigen yang sah.

Namun, pada suatu senja di bulan kesepuluh penderitaanku, kabut itu mendadak membeku menjadi es yang sangat tajam.

Hari itu, Bandung sedang tidak bersahabat. Langitnya berwarna kelabu tua, mirip dengan warna wajahku yang tak pernah lagi tersentuh bedak. Aku sedang duduk di meja belajar, mencoba memaksakan diri membaca literatur tentang Tanah Partikelir untuk skripsiku yang sudah sekarat, ketika ponselku—yang selalu kuletakkan dalam mode dering maksimal karena takut melewatkan "detik terakhir" Reno—bergetar hebat.

Bukan pesan dari Reno. Melainkan sebuah notifikasi dari salah satu akun teman Reno di media sosial yang selama ini masuk dalam daftar pantauanku.

Tanganku membeku di atas keyboard. Napasku tertahan di tenggorokan.

Di layar ponselku, terpampang sebuah foto hitam polos. Di bawahnya, sebuah takarir pendek namun menghancurkan tertulis:

}"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah berpulang sahabat kami, Reno, pagi tadi pukul 09.00 di Semarang. Mohon maaf atas segala kesalahan almarhum semasa hidup. Kamu sudah tenang sekarang, Bro. Tak ada lagi beban yang harus kamu pikul."|

Duniaku mendadak hening. Suara knalpot motor yang menderu di jalanan Tubagus Ismail menghilang. Suara tawa mahasiswi di lantai bawah kosan lenyap. Yang ada hanyalah suara detak jantungku yang terdengar seperti dentum martil di dalam rongga dada.

"Nggak... nggak mungkin," bisikku. Bibirku bergetar hebat.

Aku mencoba menelepon nomor Reno. Dialihkan. Aku mencoba mengirim pesan. Centang satu. Aku mencoba membuka profil akun-akun temannya yang lain, dan di sana, dalam hitungan menit, ucapan duka cita mulai mengalir deras seperti air bah yang menjebol bendungan.

"Selamat jalan, Reno. Maaf gue telat tahu lo lagi depresi." "Istirahat yang tenang, Kawan. Penyesalan memang selalu datang belakangan."

Aku jatuh dari kursi belajarku. Lututku menghantam lantai kayu dengan keras, tapi aku tidak merasa sakit. Rasa bersalah yang selama ini ditanamkan Reno ke dalam kepalaku mendadak meledak, memancarkan radiasi yang membakar seluruh kewarasanku.

Aku telah membunuhnya. Aku benar-benar telah membunuhnya.

Tiga hari yang lalu, aku menolak mengirimkan uang tambahan untuk cicilan motornya karena aku benar-benar tidak punya sepeser pun. Aku sempat berkata, "Tolong jangan pakai ancaman itu lagi, aku capek," sebelum aku mematikan telepon. Dan sekarang, dia benar-benar pergi. Dia membuktikan ucapannya. Dia menjadikan nyawanya sebagai harga dari kelelahanku.

Sisil (Prisillia) yang baru saja kembali dari kampus, terkejut melihatku meringkuk di lantai sambil menjambak rambutku sendiri. Dia melempar tasnya ke atas kasur dan segera menghampiriku.

Lihat selengkapnya