Orbit di Balik Gerhana

Suci Mulyati
Chapter #10

Menguliti Ilusi

Dini hari di kamar kosan Tubagus Ismail biasanya hanya diisi oleh suara jangkrik atau deru angin yang menyapu pepohonan pinus. Namun, pagi ini, sunyi itu terasa seperti sembilu. Aku terbangun dengan mata bengkak dan napas yang terasa berat, seolah ada bongkahan timah yang tertanam di paru-paruku. Bayangan keranda hijau dan pesan penuh kebencian dari "adik" Reno terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak.

Sisil masih tertidur di kasur sebelah, kelelahan setelah semalaman menjagaku dari ambang kegilaan. Aku meraih ponselku dengan tangan gemetar, berniat melihat kembali foto-foto duka itu untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi buruk. Namun, sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor asing yang tidak tersimpan di kontaku menghentikan gerakan jemariku.

Pesan itu singkat, tapi mengirimkan gelombang kejut yang membuat bulu kudukku berdiri.

"Chika, ini Bagas. Aku tahu aku orang terakhir yang ingin kamu dengar suaranya. Tapi aku nggak tahan melihat drama ini. Jangan mau jadi orang bodoh dua kali. Buka link ini."

Rasa mual seketika menyerangku. Bagas? Pria komet yang telah mencuri uangku itu kembali muncul di tengah berita kematian Reno? Aku ingin menghapus pesan itu, tapi rasa penasaran yang dibalut keputusasaan memaksa jariku menekan tautan yang dikirimkannya.

Tautan itu mengarah pada sebuah forum komunitas waspada penipuan di salah satu platform media sosial. Di sana, terpampang sebuah foto pria yang sangat kukenal. Pria yang kemarin dikabarkan mati. Pria yang kusembut sebagai "penyembuh" lukaku.

Namun, nama yang tertera di sana bukan Reno.

"WASPADA: Yuda alias Reno alias Adrian. Modus: Manipulasi Emosional dan Pemerasan."

Aku membaca setiap kata dengan jantung yang berdegup kencang, seolah jantung itu ingin melompat keluar dari rusukku. Forum itu berisi testimoni dari belasan perempuan. Modusnya identik: LDR, berlagak sebagai konsultan atau psikolog, memeras uang dengan alasan cicilan atau proyek, dan senjata pamungkasnya adalah ancaman bunuh diri jika korban mencoba pergi.

Bahkan ada satu testimoni yang menyebutkan tentang "kematian palsu" yang dilakukan untuk membungkam korban yang mulai menuntut uangnya kembali atau untuk memancing korban agar merasa bersalah seumur hidup sehingga tidak melapor ke polisi.

Sebuah pesan baru masuk lagi dari Bagas: "Aku kenal dia, Chika. Nama aslinya Yuda. Kami dulu pernah di satu 'lingkaran' yang sama sebelum aku memutuskan berhenti jadi bajingan kayak dia. Dia nggak mati. Dia lagi di Semarang, tertawa sambil nunggu kamu telepon sambil nangis-nangis minta maaf. Dia sosiopat, Chika. Dia menikmati setiap tetes air mata yang kamu jatuhkan."

Duniaku yang tadinya gelap karena kesedihan, tiba-tiba tersambar petir kebenaran yang begitu menyilaukan hingga terasa menyakitkan. Skenario kematian itu... ambulans itu... ucapan duka dari teman-temannya yang ternyata akun bodong... semuanya adalah pertunjukan teater yang disutradarai oleh satu orang: Yuda.

Bukan Reno. Namanya Yuda.

Seketika, rasa sedih yang menyesakkan dadaku menguap. Ia berganti dengan sesuatu yang lebih panas, lebih tajam, dan lebih murni: rasa jijik yang luar biasa.

Aku merasa seperti baru saja menelan bangkai. Seluruh tubuhku merinding membayangkan bagaimana aku memohon-mohon pada pria ini agar tidak mati, bagaimana aku menyerahkan sisa uang pengobatan Ayahku untuk membayar cicilan motornya, dan bagaimana aku hampir gila karena merasa telah menghilangkan nyawanya.

Aku bangkit dari lantai, kakiku yang tadinya lemas kini berdiri tegak dengan dorongan adrenalin yang membara. Aku menghampiri Sisil dan mengguncang bahunya dengan kasar.

Lihat selengkapnya