Orbit di Balik Gerhana

Suci Mulyati
Chapter #11

Memotong Orbit

Fisika mengajarkan kita bahwa orbit adalah keseimbangan antara gerak maju sebuah benda dan tarikan gravitasi yang menahannya. Selama berbulan-bulan, aku adalah satelit yang terjebak dalam orbit yang melelahkan di sekeliling Yuda. Aku berputar dalam lingkaran rasa bersalah, ketakutan, dan kewajiban palsu yang ia ciptakan. Namun, setelah selubung kematian palsunya terkuliti, gaya sentrifugal dalam diriku meluap. Aku tidak lagi ingin berputar. Aku ingin melesat keluar, memotong orbit, dan membiarkan gravitasi itu kehilangan sasarannya.

Pagi itu, Bandung terasa dingin namun tajam. Udara yang masuk ke paru-paruku tidak lagi terasa menyesakkan. Di atas meja belajar, ponselku bergetar. Sebuah nomor baru masuk. Aku tahu itu dia. Sosiopat seperti Yuda tidak akan membiarkan mangsanya lepas begitu saja hanya dengan satu ancaman. Mereka akan mencoba segala cara—mulai dari intimidasi hingga akting menjadi korban yang paling tersakiti.

Aku menarik napas panjang, menatap Sisil yang sedang memperhatikanku dengan cemas dari ambang pintu kamar.

"Jangan diangkat, Cik," bisik Sisil.

"Nggak, Sil. Kali ini aku harus bicara. Bukan sebagai korban, tapi sebagai orang yang memegang gunting untuk memutus talinya," jawabku mantap. Aku menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telinga.

"Chika... Sayang... Kamu dengar aku kan?" Suara di seberang sana terdengar parau, sangat menyedihkan, persis seperti aktor yang sedang melakukan gladi resik untuk adegan kematian. "Aku minta maaf soal semalam. Teman-temanku... mereka terlalu panik. Mereka pikir aku benar-benar sudah lewat. Aku sempat tidak sadar, Chika. Tolong, jangan marah."

Aku terdiam, mendengarkan kebohongan yang mengalir seperti limbah itu. Dulu, suara ini akan membuatku menangis histeris. Dulu, kata-kata ini akan membuatku mengirimkan uang terakhirku. Tapi sekarang, aku hanya merasa mual.

"Nama kamu Yuda, kan?" tanyaku datar.

Hening seketika di ujung telepon. Keheningan yang hampa, seolah-olah skrip yang ia pegang baru saja robek.

"Apa maksudmu, Sayang? Ini Reno—"

"Berhenti, Yuda," potongku, suaraku terdengar lebih kuat dari yang pernah kubayangkan. "Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah bicara dengan Bagas. Aku sudah melihat forum penipuan itu. Aku sudah tahu bahwa Reno, sang konsultan kreatif dari Semarang yang malang, hanyalah karakter fiktif yang kamu ciptakan untuk memeras perempuan-perempuan rapuh. Jadi, simpan drama UGD dan ambulansmu itu untuk korban berikutnya. Karena untukku, kamu sudah benar-benar mati."

Reno—atau Yuda—terdiam cukup lama. Ketika dia kembali berbicara, nadanya berubah total. Tidak ada lagi kelembutan. Yang ada hanyalah suara dingin, tajam, dan penuh kebencian.

"Jadi si pecundang Bagas itu yang bicara? Kamu lebih percaya dia daripada aku yang sudah menemanimu selama ini? Kamu pikir kamu siapa, Chika? Tanpa aku, kamu itu cuma guru honorer depresi yang nggak punya masa depan! Siapa yang mau dengerin sampah kayak kamu?"

Aku tersenyum tipis. Aneh rasanya, dihina olehnya justru membuatku merasa menang. Karena itu artinya, senjatanya sudah habis. Dia sudah tidak bisa lagi menggunakan rasa kasihan, jadi dia menggunakan amarah.

"Aku memang guru honorer, Yuda. Dan sebagai guru sejarah, aku tahu satu hal: tiran dan manipulator selalu runtuh karena kesombongan mereka sendiri. Kamu pikir kamu punya kuasa atas nyawaku? Nggak. Kamu bahkan nggak punya kuasa atas nyawamu sendiri sampai harus memalsukannya untuk dapat perhatian."

Lihat selengkapnya