Orbit di Balik Gerhana

Suci Mulyati
Chapter #12

Rotasi yang Baru

Setelah badai kosmik yang memporak-porandakan seluruh sistem koordinat hidupku mereda, aku merasa seperti sebuah planet yang baru saja lolos dari tarikan lubang hitam. Permukaanku memang masih penuh kawah emosional, dan sumbu rotasiku masih sedikit goyah, namun untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku tidak lagi merasa ditarik menuju kehancuran absolut.

Aku mulai menata ulang rotasi hidupku. Pagi untuk mengajar, siang untuk mengumpulkan data di perpustakaan, dan malam untuk menyusun kepingan skripsi yang sempat menjadi debu antariksa. Di tengah upaya kalibrasi diri yang sunyi itu, semesta mengirimkan sebuah benda langit yang tidak terduga. Bukan komet yang menyilaukan lalu meledak, bukan pula lubang hitam yang menghisap cahaya.

Dia adalah Bumi.

Nama itu terasa begitu ironis sekaligus menenangkan. Di saat aku merasa kehilangan pijakan gravitasi, hadirlah seseorang dengan nama yang melambangkan stabilitas. Kami sebenarnya berasal dari sistem tata surya yang sama, yaitu Sumedang. Namun, seperti halnya elemen alam yang selalu bergerak mengelilingi matahari, Bumi tidak selalu diam di satu koordinat. Ia bekerja sebagai seorang surveyor di sebuah perusahaan konstruksi besar, dan saat radar kami saling bersinggungan, ia sedang ditugaskan di Makassar.

Kami memulai segalanya dengan sangat sederhana. Tidak ada radiasi drama pengakuan dosa di Facebook, tidak ada kutipan-kutipan puitis manipulatif tentang "menyembuhkan jiwa". Bumi memancarkan sinyalnya melalui perkenalan singkat yang berlanjut menjadi transmisi obrolan tentang realitas hidup yang jujur.

LDR (Long Distance Relationship) bukan lagi hal baru di orbitku. Namun, bersama Bumi, jarak ribuan kilometer yang membentang antara Bandung dan Makassar terasa berbeda dengan jarak-jarak sebelumnya. Jika Bagas menggunakan jarak antariksa untuk bersembunyi di balik kebohongan, dan Yuda menggunakan jarak untuk menciptakan ilusi kematian fiktif, Bumi menggunakan jarak untuk membuktikan hukum kekekalan konsistensi.

Bumi adalah laki-laki yang presisi. Dia adalah tipe pekerja keras yang frekuensi suaranya tidak banyak, namun gaya dorong tindakannya selalu memiliki massa yang nyata. Di tengah kesibukannya membelah hutan atau mengukur koordinat lahan di Sulawesi di bawah terik matahari, dia selalu menyempatkan diri mengirimkan sinyal singkat di jam makan siang.

"Chika, jangan lupa isi bahan bakar. Aku tahu kamu sibuk mengoreksi tugas murid, tapi lambungmu jangan sampai bermasalah lagi."

Hanya itu. Singkat, padat, dan nyata. Dia tidak pernah memaksaku untuk membalas dengan kecepatan cahaya. Dia tidak pernah memancarkan gelombang amarah jika aku tertidur karena kehabisan energi usai bimbingan skripsi. Bumi memberikan ruang hampa yang aman, sesuatu yang selama ini tidak pernah kudapatkan dari pria mana pun. Dia tidak berusaha mengontrol orbitku; dia hanya ingin memastikan aku tetap berputar pada sumbuku dengan sehat.

Pernah suatu malam, aku mengeluh sedikit pusing karena kelelahan mengambil pekerjaan joki tugas demi menambal sisa lubang finansial akibat ulah Yuda. Aku tidak meminta pasokan apa pun padanya, aku hanya membagikan kondisi cuacaku hari itu. Namun, tiga puluh menit kemudian, seorang pengemudi ojek daring mengetuk pintu kosanku di Tubagus Ismail, Bandung.

"Atas nama Mbak Chika? Ada kiriman obat, vitamin, dan bubur ayam hangat dari Mas Bumi," ujar pengemudi itu.

Aku tertegun di ambang pintu. Sisil, yang baru saja selesai memakai masker wajah, melongok dari balik pundakku.

Lihat selengkapnya