Orbit di Balik Gerhana

Suci Mulyati
Chapter #13

Badai Matahari

Dalam ilmu astronomi, badai matahari adalah ledakan dahsyat di atmosfer matahari yang melepaskan energi luar biasa besar. Ia bisa mengganggu sinyal radio, merusak satelit, dan mengacaukan kompas di bumi. Namun, sekuat apa pun badai itu menghantam, bumi tidak pernah terlempar dari orbitnya. Ia hanya bergetar, menyesuaikan diri, dan tetap bertahan pada porosnya.

Itulah yang kurasakan ketika badai itu menghantam hubunganku dengan Bumi.

Setelah sekian lama aku merasa telah menemukan tempat berpijak yang aman, takdir seolah ingin menguji apakah fondasi yang kubangun benar-benar kokoh atau hanya sekadar tumpukan pasir. Kabar itu tidak datang lewat ledakan besar, melainkan lewat serpihan-serpihan digital yang tajam dan dingin.

Bumi masih di Makassar, bekerja di bawah terik matahari demi proyek konstruksinya, sementara aku di Bandung sedang berjuang menyelesaikan revisi terakhir skripsiku. Namun, naluri seorang perempuan yang pernah dihancurkan oleh sosiopat seperti Yuda dan penipu seperti Bagas telah terasah menjadi setajam silet. Aku menyadari ada pergeseran frekuensi dalam komunikasi kami.

Aku mulai memperhatikan sebuah akun media sosial. Akun milik seorang perempuan dari masa lalu Bumi, teman masa sekolahnya. Namanya adalah sesuatu yang mustahil untuk kulupakan, sebuah nama yang sangat sakral sekaligus ironis bagiku karena persis sama dengan nama ibuku: Nurrahmi.

Nurrahmi mulai sering membuat postingan yang penuh teka-teki. Dia mengunggah foto makan malam dengan tangan seorang pria yang jam tangannya sangat kukenal—jam tangan yang Bumi beli dengan hasil keringatnya sendiri. Dia mengunggah tangkapan layar percakapan manis yang sebagian katanya ditutupi stiker, namun aku mengenali gaya bahasa itu. Itu adalah gaya bahasa Bumi.

Puncaknya adalah saat dia mengunggah sebuah kutipan dengan nada meremehkan yang luar biasa: "Diselingkuhin aja bangga. Pikirnya dia pemenangnya? Kasihan."

Dia pikir dia sedang bermain cantik. Dia ingin memancingku, ingin aku meledak, ingin aku menyerah begitu saja. Tapi dia salah besar. Chika yang sekarang bukan lagi Chika yang dulu hancur berkeping-keping saat Genta mengabaikannya. Aku menghadapi ini dengan kedewasaan yang dingin.

Malam itu, aku menelepon Bumi. Suaraku sedatar garis horison di laut lepas.

"Bumi, kita perlu bicara tentang Nurrahmi," kataku langsung pada intinya.

Lihat selengkapnya