Tahun kelima kuliahku adalah sebuah epilog panjang dari drama kosmik yang menguras seluruh energiku. Jika hidup adalah sebuah penelitian sejarah, maka empat tahun pertamaku adalah masa kegelapan yang penuh dengan data palsu dan penjajah emosional. Namun, memasuki tahun kelima, aku memutuskan untuk melakukan dekolonisasi terhadap hatiku sendiri.
Aku tidak lagi menulis skripsi karena tuntutan Ibu atau rasa iri pada Prisillia. Aku menulis karena aku berhutang pada diriku sendiri. Aku berhutang pada Chika yang dulu menangis di pojok kamar karena Genta, Chika yang tertipu Bagas, dan Chika yang hampir gila karena manipulasi Yuda.
Skripsiku yang berjudul "Dampak Sosial Ekonomi Masa Pendudukan Jepang di Jawa Barat" bukan lagi sekadar tumpukan kertas. Ia adalah metafora. Aku belajar bahwa sebuah bangsa bisa hancur lebur, dirampas habis kekayaannya, dan diinjak harga dirinya, namun selalu ada titik balik untuk merdeka. Aku sedang memperjuangkan kemerdekaanku sendiri di atas mesin tik digital.
Banyak orang bilang, jatuh cinta adalah inspirasi terbesar. Tapi bagiku, kombinasi antara jatuh cinta yang tulus kepada Bumi dan patah hati yang hebat karena pengkhianatannya dengan Nurrahmi adalah bahan bakar roket yang paling dahsyat.
Rasa sakit itu tidak membuatku lunglai. Sebaliknya, setiap kali aku teringat postingan Nurrahmi yang meremehkanku, jemariku justru menari lebih cepat di atas keyboard. Aku ingin membuktikan bahwa perempuan yang dia sebut "bangga diselingkuhi" ini adalah perempuan yang sanggup menyelesaikan apa yang telah ia mulai. Aku ingin menunjukkan bahwa sementara dia sibuk mengunggah foto tangan pria milik orang lain, aku sedang membangun masa depanku sendiri.
Bumi pun membuktikan janjinya untuk berubah. Sejak badai itu berlalu, dia benar-benar menjadi pendukung nomor satu. Dari Makassar, dia tidak lagi hanya mengirimkan "uang jajan", tapi juga semangat yang konstan setiap harinya.
"Cik, aku minta maaf ya... Proyek di Makassar sedang di tahap krusial, aku tidak bisa ambil cuti untuk wisudamu bulan depan," katanya di suatu malam lewat telepon dengan nada suara yang penuh penyesalan.
Aku terdiam sejenak, namun tidak ada rasa kecewa yang berlebihan seperti saat aku bersama Genta dulu. Aku sudah belajar tentang prioritas dan tanggung jawab. "Nggak apa-apa, Bumi. Aku hargai pekerjaanmu. Kamu di sana juga sedang berjuang untuk masa depan kita, kan? Yang penting doanya sampai ke sini."
Aku benar-benar menghargai dedikasinya. Kedewasaanku mengajariku bahwa cinta tidak harus selalu hadir secara fisik, asalkan kepeduliannya tetap nyata.
Di tengah perjuangan menyelesaikan Bab 5, sebuah ujian fisik menghantam keluargaku. Ayah jatuh sakit. Tekanan darah tingginya memuncak hingga menyebabkan stroke ringan yang membuat bagian kiri tubuhnya sempat kaku.
Duniaku sempat goyah lagi. Aku harus membagi waktu antara menjaga Ayah di rumah sakit swasta pinggiran Bandung dan merevisi skripsi di ruang tunggu yang dingin. Di koridor rumah sakit yang berbau karbol itu, aku sering duduk termenung dengan laptop di pangkuan.
"Cika... selesaikan kuliahmu. Jangan... urus Ayah terus," bisik Ayah dengan bicara yang agak terbata-bata.
Aku menggenggam tangan kanan Ayah yang masih kuat. "Cika bakal lulus, Yah. Sebentar lagi. Ayah harus sehat supaya bisa lihat Cika wisuda."