Orbit di Balik Gerhana

Suci Mulyati
Chapter #15

Runtuhnya Bintang Terdekat

Dalam astronomi, bintang ganda sering kali terlihat sebagai satu titik cahaya yang stabil dari kejauhan. Namun, kenyataannya mereka saling mengorbit dengan tarikan yang sangat kuat, dan terkadang, salah satu bintang bisa meledak menjadi supernova, menghancurkan pasangan yang telah bersamanya selama jutaan tahun.

Begitulah persahabatanku dengan Sisil. Tujuh tahun kami berbagi tawa, air mata, hingga rahasia terdalam di kamar kos sempit kawasan Tubagus Ismail. Aku mengira orbit kami abadi, namun ternyata, kehadiran sebuah lubang hitam baru dalam hidup Sisil menghancurkan segalanya hanya dalam satu malam.

Segalanya berubah sejak Sisil putus dari pacar lamanya dan mulai menjalin hubungan dengan Erlangga. Pria itu berusia sepuluh tahun lebih tua darinya, namun kedewasaan usianya berbanding terbalik dengan mentalitasnya. Dari cerita Sisil setiap malam, aku mulai mencium aroma yang sangat kukenal—aroma Yuda. Posesif, kasar, dan manipulatif.

Erlangga sering membentak Sisil hanya karena telat mengangkat telepon. Namun, yang membuatku merinding adalah bagaimana Sisil justru semakin mencari perhatian dengan cara yang tidak sehat. Dia mulai memanipulasi keadaan agar Erlangga merasa "dibutuhkan".

Suatu sore, aku sedang sibuk di dapur kosan, menyiapkan camilan untuk kujual di sekolah besok sebagai penghasilan tambahan. Sisil datang membantuku memotong bahan-bahan. Tidak ada insiden apa pun. Pisau itu bahkan tidak menyentuh kulitnya. Namun, malam harinya, aku mendengar Sisil merintih di telepon dengan Erlangga.

"Iya, Sayang... tanganku perih banget. Tadi kena iris pisau gara-gara bantuin Chika masak dagangannya. Chika banyak banget pesanan, jadi aku harus bantuin sampai tanganku begini," ucap Sisil dengan nada manja yang dibuat-buat.

Aku tertegun di atas kasur. Aku menatap Sisil dengan bingung, tapi dia hanya memberikan isyarat telunjuk di bibir, menyuruhku diam. Dia hanya ingin perhatian Erlangga, pikirku saat itu. Sebuah kebohongan kecil, atau begitulah aku mengiranya.

Dampak dari "kebohongan kecil" itu meledak beberapa jam kemudian. Ponselku bergetar hebat. Sebuah nomor asing masuk lewat WhatsApp. Tanpa salam, tanpa pembukaan, rentetan kalimat kasar menghujam layarku.

"Heh, Anjing! Babi! Lo punya otak nggak?! Sisil itu teman lo atau pembantu lo?! Gara-gara lo masak jualan sampah itu, tangan Sisil luka! Setan lo ya, nggak tahu diri!"

Darahku berdesir. Aku gemetar hebat. Belum sempat aku membalas, pesan berikutnya masuk, kali ini lebih menjijikkan.

"Dasar Monyet nggak tahu malu! Sisil cerita ke gue, lo itu beban di kosan. Lo selalu pinjam uang ke dia, hidup lo itu nyusahinn dia terus! Lo penyebab Sisil nggak punya waktu buat gue, lo yang pengaruhin dia supaya nggak angkat telepon gue kan?! Dasar parasit!"

Aku menoleh ke arah Sisil yang sedang duduk di pojok kamar, wajahnya pucat pasi. "Sil... Erlangga maki-maki aku. Dia bilang aku parasit? Dia bilang aku pinjam uang terus?"

Lihat selengkapnya