Orbit di Balik Gerhana

Suci Mulyati
Chapter #16

Suara yang Hilang

Alam semesta seolah-olah memiliki selera humor yang gelap. Tepat saat aku merasa telah menemukan keseimbangan di kosan baruku—setelah memotong rantai beracun dengan Sisil dan menata kembali puing-puing hatiku bersama Bumi—sebuah hantaman gravitasi yang jauh lebih besar datang menerjang. Jika konflik dengan Sisil hanyalah getaran kecil, maka kabar kali ini adalah gempa tektonik yang meruntuhkan seluruh fondasi hidupku.

Pagi itu, Bandung sedang diselimuti kabut tipis. Aku baru saja selesai menyiapkan materi untuk mengajar di sekolah saat ponselku berdering. Nama Kakak Keduaku, Kak Dean, muncul di layar. Biasanya, Mas Danu menelepon hanya untuk menanyakan kabar atau bercanda, tapi nada dering kali ini terasa seperti alarm peringatan.

"Chika... pulang, Cik. Sekarang," suara Kak Dean pecah di ujung telepon.

Jantungku seolah berhenti berdetak. "Ada apa, Kak? Ayah?"

"Ayah stroke lagi, Cik. Kali ini berat. Ayah jatuh di kamar mandi tadi pagi. Sekarang di ICU. Pulang sekarang, Cik... Ayah nggak bisa bicara."

Duniaku mendadak senyap. Suara kendaraan di jalanan luar kosan menghilang, digantikan oleh denging panjang di telingaku. Aku terduduk di lantai kamar yang masih berbau cat baru. Ayah, pria yang baru saja tersenyum bangga di wisudaku, pria yang menjadi satu-satunya kompas moral yang tersisa, kini kehilangan suaranya.

Rumah orang tuaku terletak di kota kecil beberapa jam dari Bandung. Selama perjalanan di dalam bus, aku hanya menatap keluar jendela dengan mata kosong. Pikiranku melayang pada setiap nasihat Ayah, pada setiap perlindungan yang ia berikan saat aku dihancurkan oleh pria-pria di masa laluku. Ayah adalah suara kebenaran di tengah kebisingan manipulasi yang pernah kualami. Dan sekarang, suara itu hilang.

Aku segera menghubungi Bumi. Di saat seperti ini, hanya suaranya yang bisa menahanku agar tidak hancur menjadi debu.

"Bumi... Ayah, Bumi..." aku terisak di kursi bus, mencoba menahan suara agar tidak mengganggu penumpang lain.

"Aku tahu, Cik. Kakakmu sudah kabari aku," suara Bumi di Makassar terdengar sangat berat, sarat dengan kesedihan yang sama. "Tenang, Chika. Kamu harus kuat buat Ibu dan kakak-kakakmu. Aku di sini, aku nggak akan ke mana-mana. Fokus sampai di rumah dulu, ya?"

Dukungan Bumi adalah satu-satunya oksigen yang tersisa. Dia tidak bisa pulang karena kendala proyek, namun kehadirannya lewat suara menjadi jangkar bagi jiwaku yang sedang terombang-ambing.

Saat aku sampai di rumah sakit, bau karbol yang menyengat menyambutku. Di dalam ruang rawat intensif, aku melihat sosok yang paling kucintai tampak begitu kecil dan rapuh di atas ranjang putih. Tubuh kiri Ayah kaku, dan yang paling menyakitkan adalah tatapan matanya.

Lihat selengkapnya