Orbit di Balik Gerhana

Suci Mulyati
Chapter #17

Air Mata Fajar dan Lahirnya Sang Matahari

Alam semesta memiliki cara yang kejam namun indah untuk mengajarkan manusia tentang keseimbangan. Sebelum sebuah bintang baru bisa memancarkan cahayanya yang paling benderang, ia harus terlebih dahulu runtuh ke dalam dirinya sendiri, hancur oleh gravitasinya, dan meledak dalam kegelapan yang paling sunyi.

Subuh ini, langit di atas rumahku meneteskan gerimis kecil. Suara rintik air yang beradu dengan genting terdengar seperti melodi perpisahan. Hari ini adalah hari pernikahanku. Namun, tidak ada senyum lebar yang dipaksakan sejak aku membuka mata. Yang ada hanyalah rasa sesak di dada yang begitu penuh—bukan oleh kesedihan, melainkan oleh beban dari kepingan-kepingan masa lalu yang akhirnya menuntut untuk dilepaskan.

Aku duduk di depan cermin rias kamarku. Wajah yang menatapku balik dari balik cermin itu tampak asing, namun juga sangat kukenal. Itu bukan lagi wajah Shacila yang pucat, bengkak karena menangisi Genta, atau ketakutan karena ancaman bunuh diri palsu Yuda. Wajah itu adalah peta dari ribuan mil perjalanan air mata yang kini telah bermuara.

"Ada kalanya air mata bukanlah tanda kelemahan. Ia adalah hujan deras yang diutus semesta untuk membasuh jiwa-jiwa yang berdarah, sebelum fajar yang baru benar-benar diizinkan untuk terbit."

Pintu kamarku berderit pelan. Ibu melangkah masuk dengan mata yang sudah sembab. Beliau membawa sebuah sisir kayu tua peninggalan nenek. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ibu berdiri di belakangku, mulai menyisir rambut panjangku yang akan segera disanggul untuk upacara akad nikah.

Sentuhan tangan Ibu bergetar. Satu tarikan sisir... dua tarikan... dan tiba-tiba, sisir itu terhenti. Aku melihat dari pantulan cermin, pertahanan Ibu runtuh. Beliau menutup mulutnya, menahan isak tangis yang akhirnya meledak memecah keheningan subuh.

"Maafkan Ibu, Cika..." suara Ibu serak, disela oleh napas yang tersengal. Beliau memeluk pundakku dari belakang, menenggelamkan wajahnya di lekuk leherku. Air mata Ibu terasa hangat membasahi kulitku. "Maafkan Ibu yang selama ini terlalu keras sama kamu. Maafkan Ibu yang selalu membandingkan kamu, yang menuntutmu harus sempurna, sampai-sampai kamu merasa tidak berharga di rumah ini..."

Aku memejamkan mata. Pertahananku ikut runtuh. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh berderai. Rasa sakit masa kecil, perasaan tidak cukup baik, dan semua tuntutan yang membuatku mencari perlindungan pada pria-pria manipulator di luar sana... semuanya bermuara di pelukan ini.

"Nggak, Bu. Ibu nggak gagal," bisikku di sela isak tangisku, tanganku mengusap punggung Ibu yang bergetar hebat. "Semua itu harus Shacila lewati supaya Shacila tahu rasanya hancur, dan tahu caranya bangkit. Ibu memberiku ketegasan, dan dari ketegasan Ibu, Shacika belajar untuk tidak mudah menyerah. Shacika sudah memaafkan semuanya, Bu. Jangan menangis lagi, Shacika mohon..."

"Luka paling dalam seringkali ditorehkan oleh mereka yang paling kita cintai. Bukan karena mereka membenci kita, tapi karena mereka sendiri tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan luka dan ketakutan mereka sendiri. Kedewasaan adalah saat kita menyadari bahwa orang tua kita hanyalah manusia biasa yang juga bisa terluka dan tersesat."

Ibu mencium keningku lama sekali, seolah sedang mentransfer seluruh sisa kekuatan dan doa yang ia miliki. Tangisan itu adalah prosesi penyucian bagi kami berdua. Hubungan ibu dan anak yang selama ini dipenuhi dinding es, hari ini mencair sepenuhnya.

Setelah Ibu keluar untuk membasuh wajahnya, pintu kembali terbuka. Kak Aditya berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja beskap untuk akad nanti. Kakak pertamaku yang biasanya selalu berusaha terlihat tegar dan mendominasi itu, kini menatapku dengan mata yang sangat merah.

Kak Aditya, melangkah masuk duduk di kursi. Dia yang akan menggantikan ayah menjadi wali nikahku sekarang.

Sementara itu Kak Dean melangkah masuk, menjatuhkan dirinya berlutut di depank

"Kak! Kak Dean ngapain?!" teriakku kaget, berusaha menarik tangannya agar berdiri, tapi dia menolak.

"Biarkan Kakak begini sebentar, Cika," Kak Dean menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tangisnya pecah, suara isakannya begitu berat dan dalam, suara dari seorang laki-laki yang merasa harga dirinya telah dilucuti oleh takdir.

"Kakak minta maaf, Shacila. Kakak gagal jadi pelindung keluarga. Bisnis Kakak hancur, hutang menumpuk, dan di saat kamu butuh sandaran, Kakak malah membebanimu. Kamu yang harus banting tulang mengajar sana-sini, melunasi cicilan Kakak, mengurus Ayah... Seharusnya Kakak yang menanggung semua itu, Cika. Kamu adik bungsuku, seharusnya kamu yang Kakak lindungi."

Aku ikut duduk di lantai, menyejajarkan posisiku dengannya. Kuangkat wajah kakakku. Air mata membasahi seluruh wajahnya. Aku tidak pernah melihat Kak Dean menangis sehebat ini, bahkan saat bisnisnya dinyatakan bangkrut sekalipun.

"Kak," aku menggenggam kedua tangannya dengan erat. Air mataku kembali menetes. "Kita ini keluarga. Saat sayap Kakak patah, aku yang akan meminjamkan sayapku. Saat aku buta arah di Bandung dulu, Kakak yang selalu menelepon memastikan aku makan, kan? Tidak ada yang berhutang dalam keluarga ini, Kak. Semua uang yang keluar, semua keringat yang menetes, itu adalah wujud cintaku buat kalian."

Kupeluk kakakku yang bahunya bergetar hebat. Tangis penyesalan dan rasa tak berdaya itu memenuhi ruangan. Aku membuktikan kepadanya bahwa aku bukan lagi bintang kerdil yang membebani orbit keluarganya. Aku telah tumbuh menjadi matahari yang sanggup menopang tata surya kami yang hampir runtuh.

"Tidak ada yang lebih menghancurkan hati seorang laki-laki selain ketidakmampuannya melindungi keluarga. Namun, di saat pilar keluarga runtuh, seorang perempuan akan selalu menemukan cara untuk mengubah sisa-sisa puing itu menjadi benteng yang tak tertembus."

Setelah kebaya putihku terpasang rapi dan riasan di wajahku telah disempurnakan—berusaha menyembunyikan sisa-sisa mata bengkak karena menangis—aku melangkah keluar kamar. Ada satu orang lagi yang harus kutemui sebelum ijab kabul diikrarkan.

Aku melangkah perlahan menuju kamar Ayah. Pintu kamarnya terbuka. Ayah sedang duduk di kursi roda, menghadap ke arah jendela yang menampilkan matahari fajar yang mulai menyingsing. Beliau sudah mengenakan setelan jas hitam yang rapi, meski tubuh bagian kirinya tampak lunglai dan kaku.

Melihat punggung Ayah, dadaku terasa seperti dihantam palu godam. Rasanya baru kemarin Ayah berlari memelukku saat aku wisuda. Rasanya baru kemarin suara baritonnya yang tegas melabrak Yuda di telepon demi melindungiku. Dan kini, suara itu telah dirampas oleh stroke yang kejam.

Lihat selengkapnya