Dalam hukum kekekalan energi yang sering kubaca, energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan; ia hanya bisa berubah bentuk. Malam ini, aku menyadari bahwa hukum itu juga berlaku untuk rasa sakit. Tangisan, pengkhianatan, dan luka yang dulu nyaris memusnahkanku tidak lenyap begitu saja. Mereka telah bertransformasi menjadi susunan alfabet, tercetak rapi di atas ratusan lembar kertas, dan kini digenggam oleh ribuan tangan.
Dua tahun setelah hari pernikahanku dengan Bumi, di sebuah toko buku besar di pusat kota Bandung, aroma khas kertas baru dan tinta menguar di udara, bercampur dengan aroma kopi dari kafe sebelah. Hujan turun rintik-rintik di luar kaca jendela, mengingatkanku pada subuh di hari bahagiaku dulu.
Namun hari ini, aku tidak sedang duduk di depan cermin rias. Aku duduk di balik sebuah meja panjang, di hadapan setumpuk buku tebal bersampul biru malam dengan siluet matahari yang perlahan menyibak bayangan gelap.
Di bagian atas sampul itu, tertulis namaku: Shacila Kalea Saida. Dan di tengahnya, judul yang lahir dari darah dan air mataku: Orbit di Balik Gerhana.
"Gerhana tidak pernah diciptakan untuk mematikan matahari secara permanen. Ia hanya datang sejenak, mengajarkan semesta tentang arti kehilangan, sebelum akhirnya membiarkan cahaya itu kembali bersinar jauh lebih terang."
Antrean panjang mengular di depanku. Ini adalah acara peluncuran dan penandatanganan novel pertamaku. Kisah hidupku—dari kepolosan yang hancur oleh Genta, penipuan Bagas, manipulasi Yuda yang menguras kewarasan, pengkhianatan Sisil dan Nurrahmi, hingga titik terendah keluargaku—kini bukan lagi sekadar rahasia di kamar kosan yang sempit. Kisah ini telah menjadi milik dunia.
Seorang perempuan muda, mungkin seumuran denganku saat pertama kali menginjakkan kaki di Bandung, melangkah maju menyodorkan bukunya. Tangannya gemetar, dan matanya berkaca-kaca.
"Kak Cika..." suaranya bergetar hebat. "Terima kasih. Kakak nggak tahu seberapa besar arti buku ini buat aku. Aku baru saja putus dari pacarku yang selalu mengancam bunuh diri setiap kali aku minta putus. Aku pikir aku yang jahat, aku pikir aku yang gila. Tapi setelah baca bab tentang masa-masa gelap Kakak... aku akhirnya berani pergi."
Aku tertegun. Dadaku terasa hangat. Aku berdiri dan memeluk perempuan itu erat-erat. Di pundaknya, aku seolah sedang memeluk diriku sendiri di masa lalu—Shacila yang dulu rapuh dan ketakutan karena tertutup oleh bayangan gerhana.
"Kamu hebat," bisikku di telinganya. "Kamu sudah menyelamatkan dirimu sendiri. Jangan pernah biarkan bayangan orang lain menutupi cahayamu lagi, ya?"
Perempuan itu mengangguk sambil menyeka air matanya, tersenyum dengan kelegaan yang luar biasa.