Orca

stillzee
Chapter #1

Frekuensi Kebohongan

Malam itu seharusnya sunyi, tapi suara teriakan Ayah membelah segalanya.

​"Remnya blong! Sial, remnya tidak berfungsi!"

​Vyan, yang duduk di kursi belakang dengan buku di pangkuannya, tidak bertanya "Kenapa?". Ia hanya mencengkeram pinggiran jok kulit mobil. Matanya yang hitam menatap tajam ke arah pedal rem yang diinjak habis oleh ayahnya, namun mobil mereka tetap meluncur liar menembus kegelapan menuju bibir jurang.

​Dunia mendadak jungkir balik. Suara besi yang beradu dengan pembatas jalan terdengar seperti jeritan monster. Lalu, hening.

​Di dalam bangkai mobil yang terbalik, Vyan adalah satu-satunya yang masih bernapas. Bau bensin mulai menyengat, bercampur dengan aroma amis yang kental. Ia menatap wajah ayahnya yang hancur, lalu ibunya yang tak lagi bergerak. Tidak ada air mata. Vyan justru sedang memutar ulang suara ayahnya di kepalanya: Remnya blong.

Ayah baru menservis mobil ini dua hari lalu, pikir Vyan dingin. Ini tidak mungkin kecelakaan. Tiba-tiba Semuanya mendadap gelap.

***

​Tak lama, Vyan membuka matanya terbaring di atas bangsal putih yang kaku. Ia dikelilingi oleh detak mesin EKG yang monoton. Saat pintu kamar rawatnya terbuka dengan kasar, Vyan tidak menoleh. Ia tahu siapa yang datang dari aroma cerutu mahal yang menempel di jasnya.

​"Vyan! Oh Tuhan, Vyan! Syukurlah kau selamat!"

​Pamannya, Bagas, menghambur masuk dengan wajah yang basah oleh air mata buatan. Ia memeluk Vyan begitu erat, tapi Vyan bisa merasakan bahwa pelukan itu tidak hangat—itu adalah pelukan seorang pemangsa yang sedang memeriksa apakah mangsanya masih memiliki taring.

​"Paman akan menjagamu, sayang. Semua harta ayahmu... Paman akan urus agar tidak ada yang mengambilnya darimu," bisik Bagas tepat di telinga Vyan.

Vyan tetap diam. Ia tidak membalas pelukan itu. Ia hanya menatap dinding putih di depannya dengan tatapan kosong yang ia buat-buat. Di dalam batinnya, ia mencatat: Paman bicara tentang harta bahkan sebelum dia bertanya di mana luka-lukaku.

​"Paman," suara Vyan keluar kecil, serak, dan sangat datar.

​"Iya, Vyan? Kau butuh sesuatu?"

​"Ayah bilang... remnya blong."

​Paman Bagas tertegun. Gerakan tangannya yang sedang mengusap kepala Vyan mendadak berhenti selama dua detik, sebuah jeda yang sangat berarti bagi otak dingin Vyan.

Lihat selengkapnya