Orca

stillzee
Chapter #2

Anak Emas

Mobil mewah Paman Bagas berhenti dengan sentakan kasar di depan bangunan tua yang tampak seperti gudang terbengkalai. Asap knalpot mengepul di antara becekan air hujan yang kotor.

​Bagas tidak segera turun. Ia menyalakan cerutu, lalu menatap Vyan lewat spion tengah dengan tatapan yang penuh kebencian. "Kita sudah sampai, bocah. Tempat yang cocok untuk anak aneh sepertimu."

​Pak Mulyo, pria tambun dengan baju seragam rapih, berjalan mendekat sambil menyeka keringat. Bagas turun dari mobil, diikuti oleh Vyan yang tetap tenang meski atmosfer di sekitarnya begitu mengancam.

​Bagas menarik Pak Mulyo ke samping, lalu menyerahkan amplop cokelat tebal yang berisi uang dalam jumlah besar. "Simpan untukmu," ucap Bagas, suaranya berat dan dingin.

​Pak Mulyo mengintip isi amplop itu dan matanya langsung berbinar serakah. "Tugasnya apa, Pak?"

​"Berikan dia kehidupan yang layak," ucap Bagas dingin sambil mengembuskan asap cerutunya ke udara yang lembap. "Agar sewaktu-waktu aku membutuhkannya, aku bisa menariknya kembali ke rumah sementara waktu." Bagas tersenyum sinis, seolah sedang membicarakan barang simpanan, bukan keponakannya sendiri. "Aku sudah meminta izin pada Ayah untuk menaruh keponakanku yang selamat ini di sini. Beliau setuju. Bagaimanapun, aku punya komitmen besar pada beliau sejak aku mengambil alih perusahaan kakakku. Kecerobohan anak buah ayah membuat bocah ini benar-benar merepotkan banyak pihak," tambahnya dengan nada muak.

​Pak Mulyo mengangguk, tangannya masih mendekap amplop coklat itu. "Kalau Tuan Besar sudah mengizinkan, saya akan mengerjakan tugas ini dengan sempurna, Pak Bagas."

​Tanpa kata perpisahan, Bagas memutar tubuh, masuk ke mobil mewahnya, dan melesat pergi meninggalkan debu yang menyelimuti Vyan. Vyan berdiri mematung, menatap asap knalpot yang memudar, menyadari bahwa ia baru saja dibuang ke sarang serigala berkedok domba.

​"Ayo, Anak Emasku," panggil Pak Mulyo dengan nada manis yang dipaksakan. "Aku akan memberikan kau kamar paling bagus di dalam."

​Vyan melangkah dalam diam, mengikuti langkah berat Pak Mulyo memasuki aula utama. Seketika, aroma keringat, debu logam, dan keputusasaan menyambutnya. Di sana, ia melihat pemandangan yang memuakkan: sebuah kasta yang terstruktur rapi.

​Di pojok aula yang luas, anak-anak yang tampak lusuh dengan pakaian penuh noda sedang membungkuk, mengerjakan pekerjaan industri yang berat—pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh mesin atau orang dewasa. Mereka adalah kasta bawah, budak fisik yang diawasi oleh anak buah Pak Mulyo yang membawa kayu panjang di tangan.

Lihat selengkapnya