Pagi hari di Panti Mulia Kasih pecah oleh teriakan kasar para penjaga yang membangunkan anak-anak industri. Namun, Vyan tidak perlu merasakan bentakan itu. Kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Pak Mulyo membuat ia memiliki "jam weker" yang berbeda.
Kriiett... Pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan. Pak Mulyo berdiri di sana sambil menggaruk perut buncitnya.
"Hei, bangun. Ini hari perkenalanmu," ucap Pak Mulyo. "Cepat mandi di kamar mandiku saja. Mulai sekarang, kau mandi di sana, jangan bersama anak-anak lain."
Vyan langsung terduduk. Matanya sedikit merah karena semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak di tempat asing itu. Tanpa membantah, ia mengambil pakaian dari koper mewahnya, lalu melangkah menuju kamar mandi yang ditunjuk.
Kayanya dia benar-benar bisu? Tidak pernah menyahut sejak datang, pikir Pak Mulyo dalam hati sambil memperhatikan gerak-gerik Vyan yang tenang. "Sudahlah, habis mandi langsung turun ke kantorku, ya. Saya tunggu."
Vyan hanya mengangguk kecil sebelum menutup pintu kamar mandi.
Tak... tak... Vyan mengetuk kaca depan kantor Pak Mulyo.
"Ya, masuk! Cepat sarapan dulu," seru Pak Mulyo tanpa mengalihkan pandangan dari buku besar di mejanya. "Makan di meja tamu saja, sudah ada roti di sana."
Vyan menuruti instruksi itu dalam diam. Sambil mengunyah roti, matanya yang tajam mulai memindai tumpukan berkas di meja Pak Mulyo, mencari celah yang bisa ia gunakan nanti.
"Misi Bos, anak-anak sudah kumpul di aula," suara seorang anak buah Pak Mulyo mendadak masuk ke ruangan.
"Ya, oke. Hei, sudah belum sarapannya?" tanya Pak Mulyo pada Vyan. Vyan langsung bangkit dari duduknya, melangkah mengikuti Pak Mulyo menuju aula besar yang sudah dipenuhi ratusan anak.
Vyan melihat sekeliling. Ada anak yang masih sangat kecil hingga yang hampir dewasa. Semua mata tertuju padanya, menatap anak berpakaian rapi yang mengekor di belakang bos mereka dengan bisikan-bisikan penasaran.
"Sudah kumpul semua? Ya, di sini saya mau memperkenalkan anggota baru kita," Pak Mulyo berdehem, lalu menoleh ke arah Vyan. "Namamu siapa, Nak?"
Vyan tidak bergeming. Ia tidak membuka mulutnya sedikit pun. Tangannya perlahan merogoh saku, mengeluarkan pulpen yang sempat diambil dari meja kantor tadi. Di hadapan ratusan pasang mata, ia menuliskan satu nama dengan huruf kapital di telapak tangannya sendiri: VYAN.
Pak Mulyo tersentak melihat itu. Beneran bisu ternyata, batinnya yakin.
"Nama anak ini Vyan!" lanjut Pak Mulyo dengan nada mengancam ke arah aula. "Jangan ada yang berani menindas Vyan karena saya sendiri yang akan mengawasinya. Dia berbeda dari kalian. Mengerti?!"
"Ya... mengerti..." sahut anak-anak itu serentak dengan nada lesu.
"Bubar! Langsung kerja kalian!"
Saat kerumunan itu bubar, bisik-bisik mulai menjalar seperti api. "Bisu... anak itu bisu..." Vyan mendengarnya dengan jelas, namun ia sama sekali tidak peduli. Justru inilah yang ia inginkan.
Vyan kembali mengikuti Pak Mulyo masuk ke kantor. Pak Mulyo duduk di kursi kebesarannya dan menatap Vyan serius.
"Vyan, sini duduk. Saya mau kasih tahu kamu beberapa aturan. Kamu kalau mau makan tinggal ke dapur. Perlu apa-apa tinggal bilang saya. Tapi, kamu tidak boleh keluar dari panti ini sejengkal pun. Kamu dilarang keluar," jelas Pak Mulyo. "Selebihnya, kamu boleh berkeliling melihat bangunan ini. Terserah mau ngapain asal jangan berulah. Mengerti?"