Satu bulan telah berlalu. Tepat jam dua belas siang, sebuah truk besar bermuatan limbah tembaga meraung masuk ke gerbang panti. Mulyo dan seluruh anak buahnya segera sibuk, berteriak memberi perintah untuk menyortir barang-barang yang datang dari pengepul kontrak. Hiruk pikuk itu bertepatan dengan jam makan siang, saat perhatian semua orang teralih pada gunungan limbah dan piring-piring nasi.
Vyan memperhatikan dari kejauhan. Matanya tertuju pada sebuah ruangan di samping kantor utama. Di sana ada Doni, anak berkacamata yang selalu melewatkan waktu istirahatnya. Doni adalah tipe pekerja keras yang akan langsung kembali ke depan komputer setelah makan dengan terburu-buru, mengerjakan data laporan gudang yang menjadi target kedua Vyan setelah Rian.
Vyan melangkah masuk ke dalam ruangan itu tanpa suara. Begitu berada di dalam, ia memastikan pintu tertutup rapat agar suaranya tak tercuri oleh angin. Tidak ada siapa pun di sana selain mereka berdua.
Srak... Vyan meletakkan uang lima ratus ribu tepat di samping keyboard Doni.
Doni tersentak, namun sebelum ia sempat bereaksi, Vyan sudah mencondongkan tubuhnya. Ia tidak menggunakan bahasa isyarat. Ia bicara dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan, namun setiap katanya terasa tajam dan mengintimidasi.
"Hapus lima persen dari total tembaga di laporan kontrak. Masukkan sebagai peleburan muatan," perintah Vyan.
Doni menoleh, mulutnya menganga lebar. Matanya bergetar di balik kacamata tebal itu. "V-Vyan? Kamu... bicara?"
Vyan menatap Doni dengan mata dingin yang tidak berkedip, seolah bisa menembus isi kepala anak itu. "Simpan rahasiamu kalau mau selamat. Aku sudah bicara dengan Rian. Dia yang pegang lapangan, kamu yang pegang angka di sini."
Vyan mencondongkan tubuhnya lebih dekat, suaranya sedingin es namun sangat terukur. "Mulai sekarang, kau adalah ketua di ruangan ini. Atur anak-anak komputer yang lain."
Doni tertegun. "Maksudmu... aku harus memerintah mereka?"
"Katakan pada mereka bahwa aku sudah menjumpaimu," lanjut Vyan pelan. "Perintahkan mereka untuk memasukkan angka sesuai keinginanku sejak pencatatan awal.”
Doni menatap lembaran uang di samping keyboard-nya, lalu menatap Vyan. Ia baru menyadari sebuah pola yang mengerikan sekaligus cerdas. Vyan tahu, uang yang ia berikan pada Rian tempo hari akan segera kembali ke meja ini sebagai setoran anak-anak yang kekurangan target. Vyan tidak hanya memberikan uang; ia sedang menciptakan siklus. Tugas Doni bukan hanya mencatat uang itu, tapi memastikan 'uang penyelamat' tersebut melebur sempurna ke dalam laporan resmi tanpa meninggalkan jejak manipulasi sedikit pun.
Doni terdiam sejenak. Ia teringat cerita Rian di lorong kamar beberapa minggu lalu; tentang bagaimana Vyan diam-diam memanipulasi celah pada nota timbangan dan menyisihkan uang untuk menambal setoran anak-anak industri agar mereka tidak perlu merasakan cambukan anak buah Mulyo.
Doni menatap Vyan dengan rasa takjub yang merayapi dadanya. Bagaimana mungkin bocah di depannya ini—yang secara usia dua tahun lebih muda darinya—bisa memiliki ketenangan sedalam itu? Vyan bukan hanya pandai mengakali sistem laporan untuk menyelamatkan nyawa mereka, tapi ia memiliki sesuatu yang jauh lebih langka: jiwa seorang pelindung. Rasa takut Doni perlahan terkikis, berganti menjadi sebuah rasa hormat yang absolut. Ia sadar, bocah di depannya ini bukan hanya punya uang, tapi punya rencana besar untuk meruntuhkan neraka ini dan melindungi mereka semua.
"Aku mengerti," jawab Doni mantap, menerima tugas pertamanya. "Aku akan pastikan anak-anak lain memasukkan angka 'peleburan muatan' itu sejak awal. Laporanmu akan terlihat sempurna dan tidak tersentuh."
Vyan menepuk bahu Doni sekali—sebuah tepukan yang terasa seperti sebuah janji, namun juga peringatan keras bahwa pengkhianatan tidak akan dimaafkan. "Jangan sampai ada yang tahu. Termasuk Mulyo."
Begitu terdengar suara langkah berat penjaga di lorong, ekspresi Vyan langsung berubah dalam sekejap. Wajahnya kembali kosong dan tak terbaca. Ia berbalik dan pergi begitu saja tanpa menoleh lagi, meninggalkan Doni yang masih gemetar namun kini merasa punya pelindung yang sangat kuat.
Doni sadar, mulai hari ini, ia bukan lagi sekadar budak data. Ia adalah "otak" di balik layar untuk rencana besar Vyan. Kini Vyan telah memiliki dua pondasi yang kuat: Rian sebagai otot di lapangan, dan Doni sebagai otak yang mengatur arus informasi di kantor.