sepuluh tahun telah berlalu, dan waktu menempa Vyan tanpa ampun. Di usianya yang menginjak dua puluh tahun, ia bukan lagi anak yang mudah ditebak.
Vyan berdiri di depan cermin, merapikan kemeja satin hitam yang melekat pas di tubuhnya. Bahunya kini lebar dan tegap, lengannya berisi tanpa terlihat berlebihan. Garis wajahnya tegas, rahangnya keras, seolah terbentuk oleh tekanan yang terus-menerus, bukan oleh usia semata. Namun yang paling mengganggu adalah matanya—hitam, tenang, dan terlalu sabar. Tatapan yang tidak tergesa, seakan apa pun yang ia hadapi tidak punya pilihan selain menunggu giliran.
Saat ia melangkah keluar ke lorong panti, suara percakapan mereda. Beberapa remaja perempuan mencuri pandang, lalu buru-buru menunduk. Ketampanan Vyan tidak ramah; ia hadir seperti sesuatu yang tidak seharusnya disentuh.
Di balik penampilannya, Vyan mengendalikan jaringan yang bekerja dalam diam. Selama sepuluh tahun lamanya, ia menyusun semuanya perlahan—termasuk menjinakkan Mulyo.
Ia memberi pria itu kenyamanan yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Uang selalu tersedia, botol selalu penuh. Mulyo tidak lagi perlu memikirkan apa pun selain minum dan tidur. Di tahun pertama kepercayaan itu muncul, dalam keadaan setengah sadar, ia percaya satu hal: semua ini terjadi karena Vyan.
“Vyan ini malaikat keberuntunganku!” teriak Mulyo suatu malam di depan anak buahnya, suaranya berat oleh alkohol. “Dia yang ngurus semuanya. Kalian tinggal dengar saja!”
Kepercayaan itu cukup. Vyan menggunakannya untuk membeli kesetiaan anak buah Mulyo—uang dan alkohol selalu bekerja lebih cepat daripada ancaman. Lewat ponselnya, Vyan memberi arahan singkat.
“Anak-anak panti urusanku sekarang. Selama Bos Mulyo di belakangku mereka akan mematuhiku, kalian tidak perlu ikut campur. Nikmati saja waktu berharga kalian.”
Para penjaga menurut. Mereka terlalu nyaman untuk bertanya.
Sebagai ganti kerja kerasnya, Vyan mendapatkan hadiah kebebasan keluar-masuk panti dari Mulyo. Namun ia perlu kembali sebelum pukul enam sore, agar keberadaannya tidak menarik perhatian Paman Bagas.
***