Orca

stillzee
Chapter #6

Frekuensi yang Tersembunyi

​Suatu sore, di jam-jam akhir Vyan bekerja di gudang rahasia Toko Beras, ia duduk dengan tenang di balik meja kerja mahoninya. Keheningan ruangan itu terusik saat seorang pejabat yang berutang besar menerobos masuk ke dalam kantor, wajahnya pucat pasi, memohon ampun dengan suara gemetar.

​"Diamlah," suara Vyan memotong udara, dingin dan tak terbantahkan. "Berikan sertifikat tanahmu, atau besok pagi istrimu akan menerima bukti perselingkuhanmu agar kau semakin hancur!"

​Vyan segera berdiri, merapikan kemeja hitamnya tanpa sedikit pun menoleh pada pria yang kini diseret keluar oleh dua pria berbadan tegap.

​Selama enam tahun terakhir, Vyan mengerjakan proyek ini dengan kesabaran seorang pemburu puncak. Ia hanya butuh waktu lima jam per hari untuk membangun kerajaan kedua yang jauh lebih besar tanpa terendus siapa pun. Gudang Beras Lumbung Jaya adalah kamuflase yang sempurna. Dari luar, tempat itu hanyalah gudang besar berlantai dua yang sibuk dengan debu karung beras dan kuli panggul yang memenuhi permintaan pelanggan. Namun, di lantai dua, suasananya berubah total. Marmer mewah menjadi pijakan, dengan desain interior kantor bergaya Eropa yang megah—markas rahasia di mana Vyan mengendalikan aliran uang.

​Di lantai dua inilah Vyan menjalankan perusahaan pinjaman uang ilegal. Ia sengaja mengincar para pejabat korup, merayu mereka dengan bunga rendah namun dengan syarat mutlak: mereka wajib membantu segala kendala hukum yang mungkin dihadapi bisnisnya di masa depan. Di atas meterai, para pejabat itu tidak hanya menandatangani utang, tetapi juga menyerahkan nyawa politik mereka sebagai jaminan.

Uang "panas" yang ia peras dari para pejabat itu kini ia putar kembali untuk membangun sebuah lembaga simpan pinjam legal. Vyan tahu benar permainannya; ia sedang menyiapkan rahang hukum yang sah untuk menjerat Paman Bagas. Ia hanya perlu menunggu saat yang tepat untuk membuat Bagas menandatangani pinjaman jumlah besar di atas materai hukum, sebuah jeratan yang tidak akan bisa dipatahkan oleh siapa pun.

​Kepulangan Vyan tetap seperti biasa. Diantar dengan mobil mewah berwarna hitam pekat, ia tetap diam membeku di sepanjang jalan. Mobil berhenti jauh dari jangkauan gerbang panti, membiarkan Vyan berjalan kaki menyusuri jalan berbatu menuju tempat yang ia sebut sebagai "rumah pertama" dalam hidupnya.

***

Lihat selengkapnya