Enam tahun silam...
Vyan tahu bahwa panti asuhan adalah tempat yang terlalu sempit untuk pasukannya yang mulai tumbuh besar. Namun, ia harus memindahkan mereka tanpa memancing kecurigaan sedikit pun. Caranya bukan lewat kata-kata, melainkan lewat frekuensi digital yang dingin.
Suatu malam, saat Bos Mulyo sedang meradang karena beberapa anak remaja mulai berani menatap matanya dengan menantang, Vyan mendekat. Ia mengetikkan sesuatu di ponselnya, lalu menekan sebuah tombol.
"Anak-anak itu mulai berbahaya, Bos Mulyo," suara digital yang datar dan mekanis terpancar dari pengeras suara ponsel Vyan. Tidak ada nada, tidak ada emosi, hanya deretan kata yang memicu paranoid.
Bos Mulyo menoleh, menatap Vyan yang hanya diam membeku dengan wajah tanpa ekspresi. Vyan kembali mengetik dengan cepat.
"Lihat cara mereka menatapmu. Mereka punya otot. Mereka mulai pintar. Suatu malam, mereka bisa saja mencekikmu saat tidur hanya untuk berebut uang di laci itu. Buang saja mereka sebelum itu terjadi."
Bos Mulyo terdiam. Bayangan tentang pemberontakan anak-anak panti yang sudah dewasa mulai merayapi pikirannya yang selalu curiga. Ia menatap Vyan, si anak bisu yang ia anggap tak berdaya, lalu mengangguk kasar.