Pukul dua siang. Matahari sedang terik-teriknya di atas kota, namun suasana di dalam Toko Beras Lumbung Jaya terasa sejuk dan tenang. Dari luar, toko ini hanyalah gudang distribusi beras besar yang sibuk dengan kuli yang memanggul karung ke dalam truk.
Di depan meja kasir Lantai Satu, seorang pemuda dengan seragam pekerja gudang tampak sibuk mencatat nota. Namun, begitu ia melihat sesosok pria tegap dengan kemeja satin hitam masuk ke dalam toko, ia segera memberikan kode rahasia melalui ketukan di meja.
Vyan masuk tanpa mengeluarkan suara. Ia melangkah melewati tumpukan karung beras menuju sebuah pintu kayu tua di sudut belakang yang selalu terkunci. Ia menempelkan sidik jarinya pada sensor tersembunyi di balik bingkai pintu.
Klik.
Pintu terbuka, memperlihatkan tangga menuju Lantai Dua.
Begitu Vyan menginjakkan kaki di lantai atas, pemandangan berubah total. Tidak ada debu beras, tidak ada bau karung goni. Yang ada hanyalah ruangan kedap suara yang dingin dengan deretan monitor canggih dan server yang berdengung halus.
"Kak Vyan masuk!" seru seorang pemuda dari meja operator.
Sepuluh pemuda yang duduk di depan layar komputer serentak berdiri dan menunduk hormat. Mereka adalah anak-anak jalanan yang dulu direkrut Rian di kolong jembatan dan disaring oleh Doni karena kecerdasan mereka. Kini, mereka bukan lagi pengamen; mereka adalah analyst dan hacker elit milik Vyan.
Vyan berjalan menuju ruangannya dengan langkah karismatik…
Belum sempat ia duduk, suara ketukan pintu yang ritmis terdengar. Seorang wanita muda dengan paras cantik, mengenakan setelan kemeja formal yang sangat rapi masuk membawa sebuah map kulit.