Vyan keluar dari bangunan rahasianya dengan sambutan sebuah BMW Seri 7 hitam yang terparkir rapi di depan pintu. Kilap bodinya tenang, tidak mencolok—seperti pemiliknya.
“Sekarang kita ke mana, Kak?” tanya Raka, salah satu anak panti yang kini menjadi sopir pribadi Vyan.
“Bar NOA,” jawab Vyan singkat.
“Baik, Kak.”
Mobil melaju tanpa tergesa dan tanpa ragu. Raka mengemudi dengan ritme yang stabil, karena di kursi belakang duduk pendiri keluarga anak-anak terbuang—sosok yang dihormati tanpa perlu suara keras.
Bar NOA adalah bar utama dari sekian banyak bar yang berada di bawah kendali Ayah.
Pintu mobil terbuka. Vyan turun dan mengenakan jas beludru yang sudah disiapkan di dalam mobil, melapisi kemeja satinnya dengan gerakan tenang.
“Masuk setelah kau parkir. Perhatikan sekeliling,” ucapnya tanpa menoleh.
Ia hanya ingin memastikan keberadaannya tidak dicurigai oleh siapapun terutama orang-orang Bagas—melalui mata Raka.
Vyan masuk ke dalam bar dengan santai. Para penjaga tidak menahannya. Paras maskulin, sikap dingin, dan simbol kekayaan yang ia bawa sudah cukup menjadi izin. Di dalam, Vyan langsung menuju bar.
“Yamazaki. Neat.”
Di sudut bar, seorang pria tua duduk dengan dua wanita muda di pangkuannya. Tawanya rendah, malas, seolah dunia selalu punya waktu untuk menunggunya. Vyan berhenti mencari. Ia tahu, itu dia.
Tidak ada yang istimewa dari wajah itu jika dilihat sekilas. Rambut memutih, jas mahal, postur yang masih tegak. Namun ruang di sekitarnya terasa lebih sempit, seperti semua suara memilih untuk menyingkir setengah langkah.
Ayah.
Vyan mengamati tanpa emosi.
Gerakan tangannya. Cara ia menyentuh gelas. Cara orang-orang disekitarnya tertawa sedikit lebih keras dari yang seharusnya.
“Yamazaki, Tuan,” ucap bartender.
Vyan mengambil gelas itu perlahan. Sudut matanya seakan tersenyum.
Tua… tapi belum runtuh.
Ia tidak mendekat. Tidak menyapa. Ia hanya memastikan satu hal: wajah ini masih nyata, belum menjadi kenangan.
“Aman, Kak,” suara Raka terdengar tiba-tiba di sampingnya.
“Pesan,” balas Vyan singkat.
“Tidak, Kak. Terima kasih.”
Raka berdiri di belakang Vyan, saat sang Kakak menenggak minumannya dalam satu teguk. Sebuah Black Card berpindah tangan tanpa suara. Tanpa menoleh, Vyan melangkah menuju pintu keluar.
Raka mengikutinya, ritmenya sama tenang.
Vyan hanya ingin satu hal: melihat wajah algojo orang tuanya sebelum kembali mengenakan topeng bisu saat mereka bertemu empat mata.
***
Mobil kembali melaju.