Orca

stillzee
Chapter #10

Jaring

Pagi datang tanpa upacara. Tidak ada petir, tidak ada firasat, tidak ada langit yang berubah warna.

Di panti, suara palu tetap menghantam logam. Anak-anak sudah pada tempatnya masing-masing. Sedangkan Mulyo tergeletak di sofa dengan napas berat dan botol kosong di tangan. Dunia tampak seperti biasa, namun Vyan sudah bangun sejak pukul lima.

Vyan duduk di tepi ranjang, menyalakan layar.

Tidak ada ekspresi, ia hanya mengetik.

Laporan yang sama:

-Isi sama.

-Angka sama.

-Namun huruf kapital berpindah tempat, bukan acak.

-Tidak berulang.

-Tidak membentuk pola yang bisa dipecahkan.

Namun jelas, ini bukan kesalahan. Vyan menekan tombol kirim.

Vyan mengetuk tim audit pusat untuk kedua kalinya.

Vyan menutup laptop itu.

Tidak ada senyum, tidak ada kepuasan, tidak ada reaksi.

Seperti seseorang yang baru saja mengetuk pintu untuk kedua kalinya.

***

Di kantor audit pusat, komputer belum sepenuhnya hidup.

Seorang staf junior sedang mengaduk kopi instan ketika notifikasi masuk, ia berhenti, menatap layar, lalu menatap layar lagi.

Ia membuka laporan itu, menyipitkan mata.

“Pak…?”

Seorang auditor senior yang sedang mengikat dasi menoleh malas.

 “Apa lagi?”

“Laporan panti Mulyo… datang lagi.”

Senior itu mengerutkan kening. “Mereka salah kirim?”

“Tidak,” jawab junior itu ragu. 

“Isinya sama.”

“Terus?”

“Formatnya beda.”

Senior mendekat. Membaca, Beberapa detik berlalu. Ia menarik kursi dan duduk.

“Ini…” gumamnya.

“Tidak salah,” lanjut junior. “Tapi juga tidak benar.”

Senior itu mengklik laporan sebelumnya, lalu membandingkan.

Isinya sama. Angkanya sama. Namun huruf kapital berpindah tempat—bukan acak, tidak berulang, tidak membentuk pola yang bisa dipecahkan.

“Dia tahu,” ucap senior itu pelan.

Junior menelan ludah. “Tahu apa, Pak?”

“Bahwa kita belum tanda tangan semalam.”

Junior membeku.

“Kalau ini cuma sistem otomatis, tidak mungkin dia kirim ulang dengan perubahan sekecil ini,” lanjut sang senior. “Ini… komunikasi.”

“Dari siapa?” Senior itu menatap layar.

“Dari seseorang yang ingin kita melihatnya.”

***

Vyan keluar dari kamarnya dan melangkah menuju ruang komputer. Doni sudah ada di sana, menatap layar dengan ekspresi biasa. Di sudut ruangan, Rian bersandar di meja sambil menyesap kopi panasnya, satu kaki diangkat santai. Vyan berdiri di tengah mereka.

“Akan ada tamu,” katanya.

Doni tidak terkejut. Ia hanya tersenyum kecil.

Rian masih meneguk kopinya. “Tamu siapa—”

“Siapkan mental.” Vyan singkat.

Lihat selengkapnya