Orca

stillzee
Chapter #11

Tamu

Bagas keluar dari ruangan dengan kepala terangkat penuh. Langkahnya, seperti seseorang yang baru saja menandatangani kontrak hidup baru. Bahunya tegak. Senyumnya tidak ia sembunyikan. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa aman.

Anton berjalan di belakangnya, lalu berhenti sejenak di ambang pintu. Ia menoleh ke dalam, mengangkat dua ibu jari ke arah Anya—dan, tanpa sadar, ke arah Vyan yang berdiri satu langkah di belakang meja. Senyum Anton terlalu lebar, terlalu tulus untuk dunia yang sedang mereka mainkan.

“Kerja bagus,” suara Vyan rendah.

Begitu pintu tertutup, ruangan kembali sunyi. Beberapa detik kemudian, seorang staf masuk tergesa. “Kak,” katanya ke arah Anya. “Pusat bergerak.”

Anya menoleh ke Vyan.

Vyan hanya mengangguk.

Tidak ada perubahan ekspresi. Tidak ada kata tambahan. Ia melangkah mendekat, menepuk pundak Anya satu kali—singkat, ringan, nyaris formal.

“Kau sudah bekerja keras.”

Anya tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung Vyan saat pria itu berbalik dan berjalan keluar. Langkah Vyan tidak cepat, tidak juga lambat. Namun ritmenya berbeda.

Semoga berjalan tanpa hambatan.

Doa Anya di dalam hatinya.

***

Di dalam mobil, Vyan tidak menutup mata. Tidak membuka ponsel. Tidak memikirkan Bagas. Tidak memikirkan audit. Ia hanya menghitung, apakah ia atau tim audit yang sampai terlebih dahulu.

Vyan tiba di panti lima menit sebelum semuanya bergerak. Lima menit adalah jarak aman, tidak ada yang menghentikannya di gerbang, tidak ada yang bertanya.

Ia masuk seperti biasa—seolah hari ini tidak berbeda dari kemarin. Langkahnya langsung menuju kantor. Di sana Vyan masih melihat Mulyo yang masih tertidur di sofa kantor, ia tidak peduli.

Vyan duduk menyalakan layar, Membuka laporan dan mulai bekerja. Jarum jam berjalan di ruangan itu, satu-satunya suara hanyalah ketukan pelan keyboard.

Seolah-olah tidak ada apa-apa yang akan terjadi. Padahal, semua sudah berjalan.

Di gerbang panti datang tamu tanpa aba-aba. Satu mobil hitam berhenti tepat di depan, terlalu rapi untuk tempat sekumuh ini. Mesin mati. Tidak ada klakson. Tidak ada suara. Beberapa anak buah Mulyo yang sedang duduk terkejut, berdiri refleks. Mereka saling pandang. Ini bukan jadwal siapa pun.

Pintu mobil terbuka, dua pria turun. Kemeja hitam, sepatu hitam, wajah netral, tidak ada senyum, tidak ada ekspresi ingin berbicara. Salah satu dari mereka melirik sekilas ke arah para penjaga.

“Diam.”

Bukan perintah keras. Tapi tidak ada yang berani melawan. Para anak buah Mulyo membeku di tempat. Keduanya melangkah masuk tanpa terburu-buru, seolah tempat ini sudah milik mereka sejak lama.

Koridor terasa terlalu sunyi. Beberapa orang tertidur di bangku, ada yang tertidur sambil memeluk botol, ada yang tertidur di lantai.

Senior berhenti sejenak. Menatap. Mencatat dengan mata. Junior tidak berkata apa-apa, ia hanya mengeluarkan ponsel dinasnya. Mengambil satu foto, lalu satu lagi, tidak ada komentar. Mereka melanjutkan langkah.

Saat pintu kantor terbuka, bau alkohol langsung menyambut. 

Mulyo tertidur di sofa, mulutnya sedikit terbuka. Napasnya berat. Botol terguling di karpet ia tidak bergerak sejak pagi.

Junior berhenti. Ia menatap Mulyo beberapa detik, lalu mengangkat ponsel.

Klik.

Tidak ada suara keras. Tidak ada reaksi, hanya satu foto. 

Senior menatap sekeliling ruangan. Meja kerja, kursi, komputer, lalu matanya berhenti. Di balik meja itu, duduk seorang pria.

Anak muda dengan postur tubuh yang tenang. Bukan Mulyo.

Senior tidak menaikkan suara.

“Kamu bukan Mulyo.”

Vyan mengangkat wajahnya pelan.

“Dia sedang tidak sadar.”

Junior melirik ke arah Mulyo yang tertidur.

“Sudah lama begitu?”

“Sejak pagi.”

Senior melangkah satu langkah lebih dekat.

“Kamu siapa?”

“Aku yang mengurus tempat ini.”

Nada Vyan datar. Bukan membela diri, bukan menantang, sekadar memberi jawaban.

Senior menyipitkan mata.

“Dan laporan itu?”

Lihat selengkapnya