Pintu gudang terbuka perlahan.
Suara logam, gesekan, dan denting kecil tembaga memenuhi udara—ritmis, terukur, hampir … tenang. Barisan meja kerja terhampar rapi. Anak-anak bekerja dengan kepala menunduk, gerak mereka sinkron, seperti sudah menghafal tempo masing-masing.
Tidak ada teriakan. Tidak ada makian. Tidak ada cambuk suara.
Senior berhenti tepat di ambang pintu. Ia tidak langsung melangkah masuk. Ia mengamati.
Junior menyapu ruangan dengan mata yang lebih tajam. Ia mencari yang biasanya ada di tempat seperti ini: ketegangan, kegelisahan, upaya menutup-nutupi. Tapi yang ia lihat justru kebalikannya—sebuah ketertiban yang terlalu sadar.
“Ini bukan ritme paksa,” gumamnya.
Vyan berdiri di samping mereka. “Tidak.”
Senior melangkah masuk. Langkahnya lambat, terukur. Anak-anak mengangkat kepala sepersekian detik, lalu kembali bekerja—wajah mereka berubah. Bukan panik. Bukan takut. Tapi… wajah yang siap dilihat. Senior menangkap itu, ia menoleh ke Vyan.
“Mereka tahu kami datang.”
“Mereka tahu cara dilihat,” jawab Vyan.
Junior berhenti di dekat seorang anak yang sedang memisahkan kabel. Tangannya kecil, cekatan. Wajahnya datar—bukan mati rasa, lebih seperti terlatih.
“Siapa yang mengajarkan mereka ini?” tanya junior.
Vyan tidak menjawab. Dari balik rak besi, Rian muncul. Ia tidak berlari, ia hanya… hadir.
Posturnya santai, tapi matanya membaca ruangan seperti peta.
“Selamat siang,” katanya ringan.
Junior langsung menoleh. “Kamu yang kedua.”
Rian tersenyum kecil. “Tergantung sudut pandang.”
Senior menatapnya lama. “Kamu mengatur lapangan.”
Rian mengangkat bahu. “Aku menjaga agar semuanya… tetap rapi.”
Senior melirik anak-anak. “Rapi bukan kata yang biasa kupakai untuk tempat seperti ini.”
Rian menoleh sebentar ke arah Vyan, lalu kembali ke senior.
“Karena kami tidak membiarkannya jadi ‘tempat seperti ini’.”
Hening.
Junior berjalan lebih dalam. Ia memotret beberapa sudut—meja, alat, rak. Bukan mencari bukti pelanggaran. Mencari celah. Tapi yang ia temukan justru sesuatu yang lebih aneh: sistem ini tidak berusaha terlihat bersih—ia memang bersih.
“Di mana anak-anak tidur?” tanya senior.
Rian menunjuk lorong kanan. “Ikut aku.”
Mereka berjalan.
Di sepanjang lorong, beberapa pintu terbuka. Di dalamnya: kasur tipis tapi rapi, pakaian terlipat, botol air, buku tulis. Bukan mewah. Tapi tidak juga seperti penjara.
Junior memotret lagi.
Senior berhenti di satu pintu. Di dalam, seorang anak sedang mengikat tali sepatu. Ia mendongak. Wajahnya berubah—memakai wajah. Takut, ragu, kecil.
Senior menangkap itu. Ia menoleh ke Vyan.
“Mereka bisa berubah.”
“Ya.”
“Dengan perintah?”
“Dengan kebiasaan.”
Senior menghela napas pelan.
“Kamu membangun ini seperti… panggung.”
Vyan tidak menyangkal.
“Kami bukan datang untuk teater,” kata junior.
Rian tersenyum tipis. “Kami juga bukan.”
Senior berbalik, menatap Vyan.
“Kamu mengundang pusat bukan untuk menutup, tapi untuk memperlihatkan.”
“Benar.”
“Kenapa?”
Vyan berpikir sebentar.
“Karena yang busuk sudah tidak berguna.”
Senior memahami. Ia melirik ke arah kantor, jauh di belakang—tempat Mulyo masih tertidur.
“Dan kamu ingin menggantinya.”
“Mungkin” jawab Vyan.
Hening lagi. Junior menelan ludah.
Senior mengangguk kecil. “Baik.” Ia menoleh ke junior.
“Ambil semuanya.”
Junior mengeluarkan alat dokumentasi. Bukan kamera biasa. Bukan ponsel. Perangkat audit pusat.
“Mulai dari Mulyo,” kata senior.
Rian menggeser rahangnya. Doni muncul dari ujung lorong, diam-diam, tatapan mereka bertemu. Vyan berdiri di tengah—tidak menghalangi, tidak membantu. Hanya… mengizinkan.
Suara pintu kantor terbuka terdengar pelan, Mereka kembali ke kantor tanpa suara.
Tidak ada yang menoleh pada Mulyo. Tidak ada yang menyentuhnya. Tubuh itu tetap tergeletak di sofa seperti bagian dari furnitur yang rusak—ada, tapi tidak lagi relevan.
Junior mengeluarkan perangkat audit pusat. Ia menyalakannya tanpa suara, lalu mulai mendokumentasikan.
Foto pertama: sudut ruangan.
Kedua: meja kerja.
Ketiga: botol di lantai.
Keempat: tubuh Mulyo yang terkulai di sofa, seperti benda yang tertinggal.
Klik.
Klik.
Klik.
Tidak ada komentar.
Senior berdiri di dekat meja, menatap layar komputer yang masih menyala.
“Kamu tidak menutup apa pun,” katanya pada Vyan.
“Aku tidak berniat,” jawab Vyan.
“Kenapa?”
“Karena menutup berarti mempertahankan.”
Senior menoleh.
“Dan kamu tidak ingin mempertahankan apa pun di sini.”
“Benar.”
Junior menoleh dari layar. “Kamu tahu, ini bisa membuatmu ikut tenggelam.”
Vyan mengangguk. “Aku tahu.”
“Dan kamu tetap membuka pintu.”
“Karena aku tidak berdiri di sisi yang tenggelam.”