Tidak ada yang bergerak lebih dulu.
Ruangan itu terlalu tenang untuk disebut aman.
Ayah berdiri di sana, menatap Vyan seperti seseorang yang tidak sedang melihat anak—melainkan kemungkinan, dengan jarak yang sengaja dijaga.
“Kau tidak takut,” katanya. Itu bukan pertanyaan.
Vyan menatapnya tanpa emosi. “Takut itu reaksi. Aku hanya mencatat.”
Ayah memiringkan kepala, seolah menimbang sesuatu yang tidak bisa diucapkan.
“Menarik. Apa kau juga yang mengirim laporan itu?”
Vyan tidak menyangkal.
“Aku mengetuk,” katanya.
“Hanya mengetuk?”
Vyan mengangguk. “Aku tidak memaksa siapa pun membuka.”
Ayah menatap lebih lama—bukan mengancam, bukan melindungi. Ia sedang mengukur.
“Kau tahu,” katanya pelan, “kebanyakan orang yang mengetuk ingin masuk.”
Vyan tidak menjawab.
“Kau justru berdiri di luar.”
Ayah melangkah satu langkah lebih dekat—cukup untuk terasa, tidak cukup untuk mengancam.
“Kalau aku membukakan pintu itu untukmu,” lanjutnya, “apa yang akan kau lakukan?”
Vyan menatapnya—tanpa menantang, tanpa tunduk.
“Apa kau ingin bermain rumah-rumahan di sini?” kata Ayah.
“Potensimu ada di luar sana. Lebih tepat jika bersamaku.”
Vyan berpikir sebentar.
“Itu bukan pilihan buruk,” katanya.
“Tapi aku akan tetap memegang kendali area ini.”
Ayah menghela napas pendek, bukan sebagai penolakan. Lebih seperti pengakuan.
“Kau ingin dianggap pahlawan bagi mereka?”
“Tidak,” jawab Vyan.
“Aku hanya mendaur ulang.”
Ruangan terasa lebih sempit.
Ayah mengangguk kecil.
“Baik. Lakukan sesukamu. Asal bagianku tidak berkurang, seperti yang kau lakukan selama ini.”
“Itu bisa diatur,” kata Vyan.
Ayah menatapnya lagi, kali ini tanpa bergerak.
“Aku ingin kau ikut ke pusat,” katanya.
“Kau akan ikut menginterogasi majikanmu itu.”
Vyan mengangguk.
Tidak ada jeda. Keputusan itu sudah selesai di kepalanya.
Ayah berbalik dan melangkah keluar, menuju mobilnya.
Vyan tidak langsung menyusul.
Ia menghampiri Doni.
“Aku ikut proses interogasi,” katanya. “Jaga panti tetap kondusif.”
Doni tidak bertanya, tidak ragu. Ia hanya mengangguk.
“Apa pun keputusanmu.”
Vyan berbalik.
Di luar, beberapa pengawal sudah menunggu—bukan untuk menahannya. Melainkan mengawalnya.
Mereka membawanya ke mobil yang berbeda dengan Ayah.
Dua arah. Satu tujuan.
Pusat.
***
Mobil berhenti di depan gedung pusat tanpa seremoni.
Bangunan itu cukup sederhana untuk disebut kantor, tapi terlalu tenang untuk disebut biasa.
Tidak ada simbol. Tidak ada papan nama. Tapi semua orang tahu: ini bukan tempat biasa.
Vyan turun tanpa menunggu aba-aba. Para pengawal tidak menyentuhnya. Mereka hanya mengapit—bukan sebagai tahanan, melainkan sebagai aset yang sedang dipindahkan.
Langkah Vyan tetap sama.
Tidak terburu. Tidak ragu.
Di dalam, lorong-lorongnya sunyi, berlapis marmer gelap dan lampu putih dingin. Dindingnya tidak kosong—beberapa lukisan tergantung, bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk diingat. Wajah-wajah asing, perang yang tidak disebut, sejarah yang tidak dijelaskan. Tempat ini tidak berusaha terlihat megah. Ia hanya ingin diakui.
Salah satu pintu terbuka. Vyan melirik.
“Ruang audit,” kata seorang staf yang menangkap gerak matanya.
Ia masuk tanpa bertanya.
Di dalam ruangan itu, tiga orang sudah menunggu. Senior audit mengangkat kepala saat melihatnya.
“Kau datang lebih cepat,” katanya.
Vyan mengeluarkan satu benda dari saku celananya.
Sebuah flashdisk.
Ia meletakkannya di atas meja.
“Ini struktur keuangan panti sepuluh tahun terakhir,” katanya datar.
Senior tidak langsung menyentuhnya.
“Kau tahu apa artinya menyerahkan ini?”
Vyan mengangguk. “Aku tahu.”
“Kau juga tahu ini bisa menjatuhkanmu bersama mereka.”
“Aku tidak berdiri bersama mereka.”