Mobil melaju tanpa suara berlebihan. Kaca gelap, kabin senyap.
Vyan duduk tegak. Tangannya diam di pangkuan. Tidak ada kegelisahan yang bisa dibaca—atau mungkin ia memang tidak tahu cara menunjukkannya.
Ayah duduk di seberang, menyilangkan kaki. Tanpa ada satu kata yang keluar dari mulutnya.
Begitu sampai di depan gedung, Vyan tahu ini adalah gedung bar utama—bar NOA—. Mereka tidak berhenti di lobi. Lift pribadi membawa mereka langsung ke lantai paling atas.
Kantor itu luas. Jendela kaca membentang dari lantai ke langit-langit.
Kota terlihat kecil dari sini.
Ayah berjalan lebih dulu, membuka jasnya, lalu duduk.
Vyan tetap berdiri.
“Kau tahu kenapa aku membawamu ke sini?” tanya Ayah.
“Untuk memberi perintah,” jawab Vyan.
Ayah menyipitkan matanya.
“Tidak. Untuk memastikan kau mengerti posisi.”
Ia menekan satu tombol di meja, layar besar menyala. Di sana terlihat grafik, jaringan, cabang, alur distribusi.
Dan satu nama menyala paling terang: Bar NOA.
“Itu bar utamaku,” kata Ayah. “Tulang punggung.”
Vyan mengamatinya tanpa reaksi.
“Aku tidak tertarik.”
“Aku tidak menawarkannya.” Ayah tertawa pendek, “ tapi kau akan memegang Bar NOA.”
Vyan menatapnya. “Tidak.”
Ayah menyandarkan punggungnya.
“Panti itu akan kembali ke sistem lama.”
Itu bukan ancaman, itu fakta.
Vyan membeku. Bukan di wajahnya—melainkan di sesuatu yang jarang ia dengarkan: dirinya sendiri.
Anak-anak. Nama-nama yang ia hafal tanpa sadar. Jam makan. Jadwal tidur. Suara ribut yang dulu ia benci… tapi sekarang dia memikirkannya.
“Aku bisa membangun cabang sendiri,” katanya. “Dengan koneksi ku sendiri.”
Ayah bangkit, melangkah mendekati Vyan.
“Aku tidak merestuinya.”
Ia berhenti tepat di depan Vyan.
“Aku tidak butuh anak yang membangun. Aku butuh pewaris.”
Vyan mengangkat wajahnya.
“Aku bukan anakmu.”