Orca

stillzee
Chapter #16

Ikatan Batin

Ayah tidak langsung menyeretnya masuk ke sistem.

Ia memberinya waktu.

Bukan sebagai kelonggaran, tapi sebagai tali yang ditarik perlahan.


“Kau punya satu minggu,” katanya semalam. “Rapikan urusanmu, pilih apa yang ingin kau bawa.”

Itu bukan pilihan. Itu jadwal.

Dan Vyan tahu—itu bukan tentang kesiapan. Itu tentang pengikatan.

Seminggu untuk menutup urusan. Seminggu untuk membereskan pikirannya. Seminggu sebelum hidupnya tidak lagi sepenuhnya miliknya.


***


Pagi datang tanpa suara.


Vyan tidak tidur.

Ia duduk di tepi ranjang, punggungnya tegak, mata terbuka sejak gelap belum sepenuhnya pergi. Tidak ada kantung mata. Tidak ada gelisah yang terlihat. Tapi pikirannya… tidak berhenti.

Ia mencoba menyusun ulang kejadian semalam.


Tawaran Ayah.

Ancaman yang tidak diucapkan.

Dan dirinya sendiri—yang untuk pertama kalinya tidak bisa menjalankan logika secara utuh.

Ia selalu bisa menghitung risiko.

Selalu bisa memprediksi gerak lawan.

Selalu bisa memilih jalur paling efisien.


Tapi semalam… ada sesuatu yang bocor.

Bukan ketakutan. Bukan amarah.

Tetapi sesuatu yang tidak punya nama.


Ia berdiri, keluar dari kamar, berjalan menyusuri lorong.

Di ruang makan, anak-anak sudah bangun.

Beberapa sedang makan, beberapa mengantuk, beberapa ribut sendiri. Ketika melihatnya, suara kecil mulai muncul.


“Pagi, Kak Vyan!”


“Selamat pagi!”


“Kak, hari ini tetap tampan.” Ucap anak perempuan dengan malu-malu.


Tawa anak-anak serentak memenuhi ruangan.


Vyan berhenti.

Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap mereka.

Biasanya ia akan menjawab singkat lalu pergi. Atau hanya mengangguk. Tapi kali ini, dadanya terasa… berat.


“Pagi,” jawabnya akhirnya.


Suaranya datar, tapi pikirannya tidak.

Ia berjalan melewati mereka, menuju kantor.

Doni sudah ada di sana. Rian menyusul tak lama kemudian. 

Mereka langsung tahu. Hari ini, wajah Vyan tidak bisa menyembunyikan apa pun.

 

Vyan menjatuhkan dirinya ke sofa—tidak seperti biasanya.

Menatap plafon dan menutup matanya.

Doni tidak langsung bicara.

Rian yang lebih dulu.


“Kau tidak tidur.” Itu bukan pertanyaan.


Vyan tidak menyangkal.

“Ada yang berubah,” ujarnya. Vyan membuka matanya. “Aku tidak tahu apa,” katanya. “Dan itu masalah.”


Doni menegang. “Kau bingung?”


Vyan terdiam.

“Aku tidak bisa membaca diriku sendiri,” katanya akhirnya.


Itu… pengakuan besar. Doni duduk di seberangnya.

“Coba jelaskan.”


Vyan menggeleng.  “Aku tidak punya kata.”


Terdiam. Lalu kalimat itu keluar—pelan.


“Ternyata aku tidak ingin tempat ini kembali seperti semula.”


Doni menatapnya tajam.

“Dan itu membuatmu goyah?”


Vyan tidak menjawab langsung.

Ia mengepalkan jarinya.

“Aku seharusnya bisa melepasnya,” katanya. “Secara logika.”


Rian menyipitkan mata.

“Tapi kau tidak mau.”


Vyan menutup matanya lagi.

“Aku tidak tahu kenapa.”


Rian menarik kursi dan duduk di hadapan Vyan.


“Kau tidak perlu tahu namanya,” katanya. “Tapi kau harus jujur kalau itu ada.”


Lihat selengkapnya