
Malam turun tanpa bantuan.
Panti sudah sunyi. Lampu-lampu koridor diredupkan.
Anak-anak tertidur dengan lelah yang jujur—bukan karena takut, tapi karena hari yang penuh.
Di kantor, satu lampu meja menyala.
Empat kaleng bir tergeletak di atas meja.
Belum dibuka.
Vyan duduk di ujung meja, menyandarkan punggung.
Rian bersila di lantai, Doni menyandarkan bahu ke lemari arsip, Anya duduk di kursi putar sambil memutar-mutar kalengnya pelan.
Tidak ada yang bicara selama beberapa detik.
Rian yang pertama memecah sunyi.
“Ini rasanya aneh.”
“Dalam artian?.”
Tanya Doni.
“Kita minum… tanpa harus berjaga,” jawab Rian.
“Tanpa jam. Tanpa topeng.”
Anya tersenyum kecil.
“Dan tanpa takut salah dengar.”
Vyan mengangkat satu kaleng, membuka tutupnya.
psst.
Ia meneguk sekali.
Tidak banyak.
“Kita tidak minum untuk mabuk,” katanya.
“Hanya… menurunkan ketegangan.”
Rian ikut membuka kalengnya.
“Demi kesehatan mental.”
Doni menyeringai tipis.
“Kalau kita punya itu sejak awal.”
Anya meneguk kecil, lalu menatap Vyan dengan wajah setengah menunduk.
Mencuri pandang wajah sang kakak.
Garis rahang Vyan yang tajam menjadi lebih terlihat karena lampu yang redup di timpah sinar rembulan yang masuk ke dalam ruangan.
“Apa ada yang membuatmu gelisah?.”
Tanya Rian.
Vyan tidak langsung menjawab. Ia menatap busa tipis di mulut kaleng.
“Ayah memberiku waktu,” katanya akhirnya.