Orca

stillzee
Chapter #20

MIGRASI-Pemindahan



Hari ke lima.

Pagi datang, dengan kegaduhan kecil di panti.

Bukan sirene. 

Bukan teriakan panik.

Hanya langkah kaki yang lebih cepat dari biasanya.

Lampu-lampu panti menyala.

Doni, Rian, dan para senior panti berjalan menyusuri lorong, mengetuk pintu kamar satu per satu.


“Bangun, ayo bangun,” kata mereka sambil menepuk pintu kayu.


“Pagi ini bukan pagi biasa.”


Beberapa anak mengucek mata.

Beberapa duduk setengah sadar di ranjang.


“Ada apa, Kak?”


“Kita kenapa?”


Doni berdiri di ujung lorong. Suaranya tenang, tapi cukup keras untuk didengar semua.


“Kalian bergegas mandi dan sarapan dulu,” katanya.

“Habis itu, kita kumpul. Ada yang perlu kalian tahu.”


***


Meja makan penuh.

Nasi hangat, telur, dan lauk sederhana—tapi suasananya tidak.

Bisik-bisik menyebar cepat.


Rian berdiri setelah semua duduk.

Ia menunggu sampai suara mereda.


“Hari ini,” katanya, 

“kalian akan ke tempat baru.”


Beberapa anak langsung menegakkan punggung.

Mata membesar. Napas tertahan.


“Gedung belajar,” lanjut Rian cepat.

“Bukan rumah.”


Doni melangkah maju, melanjutkan dengan nada lebih lembut.

“Panti ini tetap rumah kalian,” katanya.

“Tempat pulang. Tempat berlindung.”


Beberapa anak terlihat lega.

Namun rasa penasaran belum turun.


“Tapi,” tambah Doni,

“panti ini akan direnovasi. Diperluas. Dibuat lebih layak—seperti asrama.”


Sunyi sesaat.


“Selama proses itu,” katanya lagi,

“kalian akan tinggal sementara di gedung baru.”


“Tidur di sana?” tanya seorang anak pelan.


“Iya,” jawab Doni jujur.

“Tapi bukan selamanya.”


Ia menatap mereka satu per satu.


“Kalian akan belajar di sana. Bertumbuh di sana.

Dan nanti… kalian kembali ke sini, ke rumah yang lebih baik.”


Rian menepuk meja pelan.


“Sekarang dengar baik-baik.”

“Kalian siapkan barang masing-masing.

Pakaian. Buku. Barang penting.”

“Masukkan ke kotak,” lanjut Doni.


“Tulis nama kalian. Truk akan datang sebentar lagi.”

“Bus berangkat jam sepuluh,” kata Rian.

“Jangan telat. Jangan ribut. Jangan ada yang tertinggal.”


Beberapa anak saling pandang.

Jantung berdebar—takut, tapi juga penasaran.


***


Sementara itu, di tempat lain.

Vyan sudah berdiri di depan gedung baru.

Bangunan itu sunyi.

Bersih. Kosong.

Anya berjalan di sampingnya, tablet di tangan.


“Pembersih selesai subuh tadi,” lapor Anya.

“Semua lantai aman. Akses terkunci sesuai rencana.”


Vyan mengangguk.

Langkahnya pelan, tapi pasti.

Lantai satu.

Ruang masih kosong—hanya cahaya pagi yang masuk lewat jendela besar.

Lihat selengkapnya