
Halaman panti berubah seperti terminal kecil.
Truk pertama datang lebih dulu. Bak terbuka. Bersih. Disiapkan khusus.
Anak-anak berdiri berbaris dengan kotak di tangan masing-masing. Nama mereka tertulis besar di sisi kardus—ditulis dengan spidol tebal, sebagian miring, sebagian rapi, sebagian terlalu besar.
“Ini punya aku…”
“Kotakku berat.”
“Isinya buku sama baju doang.”
Para senior membantu satu per satu. Tidak ada yang merebut. Tidak ada yang berteriak.
Kotak-kotak itu diangkat perlahan, ditata rapi di bak truk. Seolah barang-barang itu bukan sekadar pakaian—melainkan potongan hidup yang sedang dipindahkan.
Bus datang tak lama kemudian.
Anak-anak naik dengan langkah ragu tapi penasaran. Beberapa menempelkan wajah ke jendela. Beberapa menggenggam tali tas terlalu kuat.
“Gedungnya gede ya?”
“Katanya ada tiga lantai…”
“Ada lift nggak?”