
Lorong lantai dua sunyi.
Lampu tidak sepenuhnya menyala—cukup untuk melihat, cukup untuk menyembunyikan.
Vyan berdiri di dekat jendela, punggung menghadap ruangan.
Anton berhenti dua langkah di belakangnya—tidak mendekat.
“Bagaimana Bagas?” tanya Vyan tanpa menoleh.
Anton tidak langsung menjawab.
Ia sudah belajar—Vyan tidak butuh pengantar.
“Masih sama,” katanya akhirnya.
“Dan makin mencolok.”
Vyan mengangguk kecil.
“Hutang?”
“Naik,” jawab Anton.
“Kasino mulai mengenalnya. Bukan sebagai pemain… tapi sebagai bahan tertawaan.”
Tidak ada reaksi di wajah Vyan.
“Dia minum, berjudi, bicara terlalu keras,” lanjut Anton.
“Mulai menyebut-nyebut nama besar yang tidak seharusnya disebut.”
Vyan menatap pantulan dirinya di kaca jendela.
Wajah yang tenang. Terlalu tenang untuk urusan keluarga.
“Biarkan,” katanya.
Anton mengangkat kepala sedikit.
“Tidak perlu di perketat?”
“Belum,” jawab Vyan.
“Selama dia merasa aman, dia akan terus menggali lubangnya sendiri.”
Anton mengangguk.
“Posisimu tetap,” lanjut Vyan.
“Jangan terlalu dekat. Jangan terlalu jauh.”
“Dan kalau dia jatuh?” tanya Anton.
Vyan menoleh setengah wajahnya.
Tatapan itu dingin, tapi tidak kejam.
“Pastikan dia jatuh karena langkahnya sendiri,” katanya.
“Bukan karena dorongan kita.”
Anton menunduk singkat.
“Mengerti.”
Vyan kembali menatap ke luar jendela.
“Laporkan hanya jika dia mulai melibatkan orang lain,” tambahnya.
“Aku tidak peduli dia menghancurkan dirinya sendiri. Tapi aku peduli kalau dia menyeret yang lain.”
Anton menarik napas.
“Baik.”
Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.
Anton berbalik pergi tanpa pamit panjang.
Di dunia mereka, itu sudah cukup sopan.
Vyan tetap berdiri di sana beberapa detik setelah langkah Anton menghilang.
Di belakangnya Anya masih tetap berdiri dalam diam, menunggu apakah ada perintah lanjut.
***
Di tempat lain—di dalam mobil hitam yang terparkir di tepi jalan.