Orca

stillzee
Chapter #24

Pagi Yang Berjalan


Hari keenam datang, hari terakhir sebuah bubuk tinta akan jatuh esok.


Alarm ponsel Anya berbunyi pukul setengah enam.

Bukan nada nyaring—lebih seperti getaran pendek yang disiplin.

Ia terbangun setengah sadar, menoleh refleks ke arah ranjang seberang.


Kosong.


Anya duduk tegak seketika.

Matanya menyapu kamar hotel—dua ranjang terpisah, meja kecil, tirai yang setengah terbuka. 

Cahaya pagi tipis masuk dari celah jendela.


Vyan berdiri di hadapan cermin besar.

Pantulan tubuhnya terpampang jelas di balik kaca.


Kemeja putih sudah rapi menempel di tubuhnya. 

Dasi hitam terpasang presisi. 

Jas terkunci. 

Rambutnya disisir ke belakang tanpa satu helai pun keluar jalur.

Seolah pagi tidak pernah menyentuhnya dengan kekacauan.


Anya menelan ludah pelan.

Ia menunduk, merapikan rambutnya sendiri dengan tangan—gerakan refleks yang dulu terasa canggung, kini hanya kebiasaan yang tersisa sedikit malu.


“Sudah bangun,” kata Vyan tanpa menoleh.


Nada datar. Bukan teguran. Bukan basa-basi.


“Iya, Kak,” jawab Anya cepat.


“Kita sarapan bersama di sana,” lanjut Vyan.

“Bergegaslah, aku akan menunggu di mobil.”


Anya mengangguk.


Tidak ada percakapan lain.

semua bergerak dengan ritme stabil seperti biasa.


***

Semua sudah siap.

Di dalam mobil yang sedang melaju.

Vyan membaca sesuatu di ponselnya. 

Anya membuka tablet, mengecek jadwal dan pesan masuk.


Mobil berhenti karena tanda berhenti—-lampu merah menyala.

Vyan bertanya singkat.


“Pembangunan panti?”


Anya tersentak kecil.

Pertanyaan itu selalu datang tiba-tiba.

Lihat selengkapnya