ORPHEUS: Cathedra Verum Saga Vol. 1

Jourdan Jonathan
Chapter #1

CHAPTER 0: Fractured Horizon

Di masa depan yang belum seharusnya kita lihat…

 

“Jika realitas bisa dipatahkan, apa yang tersisa untuk kita pertahankan?”

 

Kabut digital merayap di antara reruntuhan Aetherion.

 

Ia tidak bergerak seperti kabut biasa.

 

Ia pecah.

 

Menyatu.

 

Lalu pecah lagi.

 

Serpihan data melayang tanpa gravitasi, seperti abu dari dunia yang terbakar terlalu pelan. Di atasnya, langit NIRVANA retak menjadi mosaik ungu dan hitam. Garis-garis cahaya menyilang horizon, berdenyut seperti luka terbuka di tubuh semesta.

 

Alarm sistem terdengar samar.

 

Bukan bunyi peringatan yang bersih.

 

Lebih mirip jeritan yang gagal menjadi suara.

 

[WARNING]

Core Stability: 12%

 

Shion berdiri di tengah reruntuhan itu.

 

Avatar pinguinnya hampir tampak tidak masuk akal di antara kehancuran yang terlalu besar—tubuh kecil berlapis armor hitam matte, garis neon biru menyala redup di persendian, mata biru pucat memantulkan ribuan pecahan data yang jatuh dari langit.

 

Di tangannya, sebuah scythe raksasa bergetar.

 

Bilahnya melengkung sempurna, berpendar biru kehijauan, dengan retakan cahaya yang merambat seperti urat hidup. Setiap kali Shion menggerakkan senjata itu sedikit saja, ruang di sekitarnya berdesis, seolah realitas takut disentuh ujung bilahnya.

 

Tidak ada panel yang menjelaskan kekuatan itu.

 

Tidak ada nama class yang muncul untuk menenangkan pikirannya.

 

Hanya sensasi dingin yang menjalar dari gagang scythe ke tubuhnya, seperti dunia mengenali sesuatu yang bahkan Shion sendiri belum sepenuhnya ingat.

 

Di hadapannya, kabut menebal.

 

Satu siluet muncul.

 

Lalu sepuluh.

 

Lalu seratus.

 

Nebula.

 

Wajah yang sama.

 

Senyum retak yang sama.

 

Mata kosong yang sama, menatap Shion dari segala arah.

 

Mustahil.

 

Mereka tahu hanya ada satu Nebula.

 

Tapi ilusi ini terlalu padat untuk disebut kebohongan. Terlalu dingin untuk disebut mimpi. Setiap langkah mereka meninggalkan riak di lantai data, setiap tawa mereka menggores udara seperti kaca.

 

Shion memiringkan kepala sedikit.

 

Kebiasaan kecilnya saat berpikir.

 

Lalu suara klik pelan keluar dari helmnya.

 

“Kalau ini ilusi…”

 

Ia mengangkat scythe.

 

Cahaya biru kehijauan menjalar di sepanjang bilah.

 

“…maka aku akan hancurkan sampai tak ada yang tersisa.”

 

“Shion!”

 

Suara Ayaka memecah kekacauan.

 

Ia meluncur dari sisi kanan, armor peraknya memantulkan kilatan ungu dari langit yang retak. Pola holografik di permukaannya berdenyut cepat, tidak lagi anggun seperti biasanya—kini seperti jantung yang dipaksa bekerja terlalu keras.

 

Tonfa ganda di tangannya menyala biru pekat, ujungnya memancarkan cahaya mampat seperti inti bintang kecil.

 

Ayaka menarik napas panjang.

 

Satu detik.

 

Lalu ia bergerak.

 

Tonfa pertamanya menghantam wajah salah satu Nebula. Tonfa kedua menyapu tubuh bayangan lain. Lima siluet pecah menjadi partikel cahaya, beterbangan seperti serpihan kaca.

 

Namun kabut segera menutup ruang kosong itu.

 

Siluet-siluet baru muncul kembali.

 

Ayaka menggertakkan gigi.

 

“Jangan percaya penglihatanmu!” teriaknya. “Neural sync, Shion! Pakai neural sync!”

 

Tiga Nebula menyerang bersamaan.

 

Lihat selengkapnya