Presentia.
Ini bukan akhir yang kita lihat di Fractured Horizon.
Ini adalah awal.
Awal dari sebuah perjalanan menuju retakan yang, suatu hari nanti, tidak akan bisa ditutup lagi.
Hujan mengetuk jendela dengan ritme pelan, seperti jari-jari seseorang yang terlalu sabar menunggu jawaban. Di luar, lampu neon kota berkedip di balik kaca buram, memantulkan warna biru dan merah muda pada dinding ruangan yang sempit.
Shion duduk sendirian di kursi logam.
Di hadapannya, layar login NIRVANA menyala lembut.
Tidak ada suara selain dengung mesin pendingin, rintik hujan, dan napasnya sendiri.
Dunia nyata selalu terasa terlalu berat baginya.
Bukan karena ruangan itu kecil. Bukan karena udara di dalamnya dingin. Tapi karena semua yang ada di luar sana terasa seperti sesuatu yang tidak lagi bisa ia sentuh dengan benar.
Orang-orang yang pernah ia kenal…
hilang.
Janji yang pernah ia buat…
retak.
Dan dirinya sendiri, entah sejak kapan, terasa seperti seseorang yang ia pinjam dari masa lalu.
Shion menatap pantulan wajahnya di layar hitam.
Mata kosong.
Wajah pucat.
Ekspresi yang terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya masih hidup.
Ia mengangkat tangan, menyentuh permukaan layar dengan ujung jari.
Di sudut layar, sebuah pesan berkedip.
Welcome to NIRVANA.
Please confirm neural link.
Shion tertawa kecil.
Tidak ada humor di dalamnya.
“Realitas…” gumamnya pelan, “…sudah terlalu berat.”
Jarinya berhenti tepat di atas tombol konfirmasi.
Sejenak, ia ragu.
Bukan karena takut.
Lebih karena ia tahu, begitu pintu ini terbuka, mungkin tidak ada alasan baginya untuk kembali melihat dunia nyata dengan cara yang sama.
Lalu ia menekan tombol itu.
[Neural Link Confirmed]
Glitch.
Tidak ada transisi lembut seperti iklan promosi NIRVANA.
Tidak ada cahaya putih yang indah.
Tidak ada sensasi “memasuki dunia baru” seperti yang dijanjikan brosur digital.
Dunia nyata tidak memudar.
Ia pecah.
Layar di hadapan Shion retak menjadi ribuan fragmen cahaya. Dinding ruangan melengkung seperti kertas yang ditarik dari dalam. Suara mesin pendingin berubah menjadi jeritan data yang memanjang, menusuk langsung ke saraf.
[System Sync: 0.01%]
[ERROR] Cognitive Layer Delay Detected
Tubuh Shion terasa ditarik ke ribuan arah sekaligus.
Dingin.
Terlalu dingin.
Seolah ada tangan tak terlihat yang mencabut kesadarannya dari tubuh, lalu mencoba memasangnya kembali ke tempat yang salah.
Di antara ledakan cahaya dan suara yang pecah, ia melihat sesuatu.
Bayangan hitam.
Bukan siluet manusia.
Bukan monster.
Hanya bentuk gelap yang berdiri di balik lapisan data, menatapnya dari tempat yang seharusnya tidak terhubung dengan sistem.
Lalu suara itu datang.
Samar.
Rendah.
Terlalu dekat.
“Orpheus…”
Shion mencoba menjawab.
Tapi mulutnya tidak ada.
Tubuhnya tidak ada.
Hanya kesadarannya yang jatuh, menembus cahaya, menembus suara, menembus sesuatu yang mungkin adalah pintu terakhir antara dirinya dan dunia yang baru.
Lalu semuanya hilang.
Shion membuka mata.
Langit biru membentang di atasnya.
Bukan langit dunia nyata yang kusam oleh asap dan gedung tinggi, tapi langit biru bersih dengan garis grid pucat yang berdenyut halus di kejauhan. Awan bergerak lambat, terlalu sempurna, tapi anehnya tidak terasa palsu.
Angin menyentuh wajahnya.
Dingin.
Lembut.
Nyata.
Shion terdiam.
Lalu ia menunduk.
Dua kaki pendek.
Tubuh bulat.
Sayap kecil.
Kulit hitam mengilap dengan perut putih.
Ia mengangkat kedua tangannya, bukan, sayapnya, lalu menatapnya lama.
Satu detik.
Dua detik.