ORPHEUS: Cathedra Verum Saga Vol. 1

Jourdan Jonathan
Chapter #3

CHAPTER 2: First Resonance

Langit Aetherion Prime berlapis grid biru pucat.


Garis-garis halus itu berdenyut pelan di balik awan, seperti napas dunia digital yang terlalu sempurna untuk disebut palsu. Di kejauhan, menara-menara kota memantulkan cahaya pagi, sementara suara langkah player, denting pedang, dan musik lembut dari langit bercampur menjadi satu harmoni yang aneh.

 

Shion berdiri di luar gerbang kota.

 

Tubuh pinguinnya masih terasa asing.

 

Dua kaki pendek. Sayap kecil. Tidak ada armor. Tidak ada senjata. Tidak ada sesuatu pun yang membuatnya terlihat seperti seseorang yang siap menghadapi dunia baru.

 

Panel sistem berkedip di sudut pandangnya.

 

[STATUS]

Name: Shion

Race: Penguin-Type Adaptive Avatar

Class: Unassigned

Type: Unknown

Lv. 1

HP: 100%

Neural Sync: 3%

[INVENTORY]

Empty

[SKILL]

None

 

Shion menatap tulisan itu beberapa saat.

 

“Class masih kosong. Type juga tidak diketahui.”

 

Ia mengangkat kedua sayap kecilnya.

 

“Luar biasa. Aku bahkan belum cukup jelas untuk dikategorikan sebagai ancaman.”


Gerbang kota terbuka ke sebuah savana kecil di pinggiran Aetherion Prime. Rumput holografik bergoyang pelan, memantulkan cahaya biru kehijauan setiap kali tertiup angin. Di antara rerumputan itu, beberapa gelembung warna-warni melayang tanpa arah.

 

Mereka tampak jinak.

 

Terlalu jinak.

 

Seperti balon yang lupa bahwa dunia ini seharusnya punya monster.

Shion melangkah keluar dari jalan batu.

 

Setiap pijakan kecilnya memunculkan riak cahaya tipis di tanah. Sensasi itu masih membuatnya tidak nyaman—bukan karena menyakitkan, tapi karena terlalu nyata. Rumput menyentuh kaki pendeknya. Angin menyapu tubuhnya. Bahkan aroma tanah basah samar-samar tercium, meski ia tahu semua ini seharusnya hanya simulasi.

 

Ia mendekati salah satu gelembung.

 

Panel scan muncul otomatis.

 

[SCAN]

Target: Data Blob

Level: 1

HP: 20

EXP: +5

Reward: 1 Silver

Drop Rate: 15%

 

Shion membaca panel itu.

 

Lalu menatap gelembung di depannya.

 

“Data Blob?”

 

Gelembung itu memantul pelan di udara, polos dan tidak mengancam.

 

“Serius? Monster pertamaku adalah balon?”

 

Tidak ada jawaban.

 

Gelembung itu hanya melayang sedikit lebih dekat, seolah mengejek.

Shion mengangkat sayapnya.

 

“Baiklah.”

 

Ia menampar gelembung itu.

 

Pop.

 

Data Blob pecah menjadi partikel cahaya kecil yang beterbangan, lalu terserap ke tubuhnya.

 

[EXP +5]

[Reward: 1 Silver]

 

Shion menatap tangannya—sayapnya—lalu menatap panel reward.

 

“…”

 

Ia menghela napas.

 

“Ini lebih menyedihkan daripada yang kubayangkan.”

 

Data Blob lain muncul beberapa meter darinya.

 

Shion berjalan mendekat, menamparnya lagi.

 

Pop.

 

[EXP +5]

 

Satu lagi.

 

Pop.

 

Satu lagi.

 

Pop.

 

Lima menit kemudian, Shion berdiri di tengah savana dengan ekspresi datar, dikelilingi partikel cahaya yang menghilang perlahan.

 

“Jadi beginikah awal legenda?”

 

Ia menatap seekor Data Blob yang melayang sedikit lebih tinggi dari yang lain.

 

“Seorang pinguin kecil menghajar balon demi satu Silver.”

 

Blob itu naik lebih tinggi.

 

Shion menatapnya.

 

“Jangan menantangku.”

 

Ia melompat.

 

Kakinya terlalu pendek.

 

Sayapnya jelas tidak membantu.

 

Ia hampir menyentuh Blob itu, lalu jatuh telentang di rumput.

 

Beberapa player pemula di kejauhan menoleh.

 

Salah satu dari mereka tertawa kecil.

 

Shion tetap berbaring sebentar, menatap langit biru ber-grid.

 

“Kalau ada dewa di dunia ini,” gumamnya, “dia pasti sedang tertawa.”

Ia bangkit, membersihkan rumput dari tubuhnya, lalu mencoba lagi.

Kali ini, ia menunggu Blob itu turun sedikit.

 

Pop.

 

Partikel cahaya pecah di depan wajahnya.

 

Shion menyipitkan mata.

 

“Aku butuh senjata.”

 

Ia membuka panel sistem.

 

[SHOP INFORMATION]

Basic weapons available in Aetherion Prime.

 

Shion menatap teks itu.

 

Di kepalanya, bayangan player-player yang ia lihat sebelumnya muncul: minotaur dengan kapak raksasa, elf dengan busur kristal, dragonkind dengan tombak bercahaya.

 

Lalu ia menatap dirinya sendiri.

 

Pinguin.

 

Tanpa senjata.

 

Tanpa armor.

 

Class belum ditentukan.

 

Type belum terbaca.

 

Tanpa martabat.

 

“Oke,” katanya pelan. “Berburu dulu. Beli nanti.”

Ia kembali memukul Data Blob.

 

Satu demi satu.

 

Awalnya terasa konyol. Lalu melelahkan. Lalu, entah bagaimana, ritmenya mulai terbentuk. Shion belajar kapan Blob akan turun, kapan harus menunggu, kapan harus mengayunkan sayap, dan kapan sebaiknya tidak melompat karena harga dirinya sudah terlalu sering jatuh bersama tubuhnya.

 

Pop.

 

Pop.

 

Pop.

 

Partikel cahaya beterbangan seperti serpihan kaca lembut.

 

Lalu, dunia melambat.

 

Hanya satu detik.

 

Tidak lebih.

 

Tapi cukup.

 

Shion melihat Data Blob di depannya pecah.

 

Ia melihat partikel cahaya menyebar.

Lihat selengkapnya