Silent Forest tidak menyambut mereka dengan raungan.
Tidak ada monster yang langsung melompat dari balik pepohonan. Tidak ada musik perang. Tidak ada suara sistem yang memberi countdown dramatis.
Hanya hening.
Dan justru karena itu, Shion merasa sesuatu di hutan ini salah.
Pepohonan holografik menjulang di kedua sisi jalan setapak, batangnya gelap, daunnya berpendar biru redup seperti bara yang hampir mati. Kabut tipis menggantung di antara akar-akar digital, bergerak terlalu pelan untuk disebut angin, terlalu terarah untuk disebut efek lingkungan.
Ayaka berjalan lebih dulu.
Tonfa ganda di pinggangnya menyala samar. Armor peraknya memantulkan cahaya hutan dalam kilatan dingin. Setiap langkahnya ringan, terukur, dan hampir tidak bersuara.
Shion mengikuti beberapa langkah di belakang.
Scythe basic model berada di kedua sayapnya. Setelah sistem menetapkan Class: Phantom dan membuka Type: Abyss Reaper, senjata itu terasa sedikit lebih akrab, tapi tidak cukup untuk membuatnya lupa bahwa ia masih level tiga.
Panel merah masih berkedip di sudut pandangnya.
[Battle Wave Protocol Initiated]
Namun tidak ada wave.
Tidak ada mob.
Tidak ada apa pun.
“Ini lebih buruk,” gumam Shion.
Ayaka tidak menoleh.
“Apa?”
“Kalau monster langsung muncul, setidaknya aku tahu harus menebas apa.”
Ayaka menghela napas pendek.
“Jangan berharap hutan abnormal bersikap sopan.”
Shion menatap kabut di antara pepohonan.
“Catat. Hutan ini tidak sopan.”
Mereka terus melangkah.
Semakin dalam, suara Aetherion Prime menghilang sepenuhnya. Tidak ada musik kota. Tidak ada tawa player. Bahkan suara langkah mereka terasa ditelan tanah.
Lalu udara berubah.
Bukan dingin.
Lebih seperti sesuatu yang lembap dan busuk menyentuh permukaan saraf.
Ayaka berhenti mendadak.
Shion hampir menabrak punggungnya.
“Ada apa?”
Ayaka tidak menjawab.
Matanya menatap lurus ke depan, tapi fokusnya bukan pada pepohonan. Ia seperti sedang membaca sesuatu yang tidak muncul di panel Shion.
Satu detik kemudian, layar HUD Shion meledak dengan warna merah darah.
[WARNING]
Cognitive Hazard Detected
[SYSTEM ALERT]
Malicious Data Strain Identified
Shion membeku.
Panel itu tidak berbunyi seperti notifikasi biasa.
Setiap hurufnya bergetar, pecah di pinggirannya, seolah sistem sendiri kesulitan menampilkan pesan dengan benar.
Ayaka langsung mengangkat tangan.
“Shion, berhenti. Jangan maju selangkah pun.”
Nada suaranya berubah.
Tidak lagi sarkastik.
Tidak lagi ringan.
Itu suara seseorang yang tahu betul bahwa satu kesalahan kecil bisa membunuh.
Shion menggenggam scythe lebih erat.
“Ini bagian dari Battle Wave?”
“Bukan.”
Jawaban Ayaka terlalu cepat.
Terlalu dingin.
Ia menatap kabut di depan mereka.
“Dengar baik-baik. Kalau yang muncul adalah entitas Misha, beberapa dari mereka membawa virus yang disebut DataEater.”
Panel Shion berkedip.
Tidak ada detail tambahan.
Seolah sistem memilih diam.
Ayaka melanjutkan, suaranya rendah.
“Kalau HP-mu mencapai nol karena serangan yang terinfeksi DataEater, sistem tidak akan memicu respawn.”
Shion menatapnya.
“Tidak respawn?”
“Akunmu akan dianggap rusak. Datamu dimakan dari dalam, lalu diformat.”
Hening turun di antara mereka.
Shion mendengar napasnya sendiri.
“Hard wipe?”
Ayaka menoleh sedikit.
Sorot matanya tajam, tapi di baliknya ada sesuatu yang lebih gelap.
“Lebih buruk dari itu. Bukan cuma kalah. Bukan cuma logout paksa. Identitasmu di NIRVANA akan dihapus seolah kamu tidak pernah ada.”
Shion menelan ludah.
Ia baru beberapa jam berada di dunia ini.
Beberapa jam.
Namun untuk pertama kalinya, kata “mati” terasa tidak cukup untuk menjelaskan risikonya.
Kabut di depan mereka bergerak.
Bukan menyebar.
Bukan mengalir.
Ia berdenyut.
Seperti paru-paru.
Bisikan muncul dari dalamnya.
“…daging…”
Shion menegakkan tubuh.
Ayaka mengangkat tonfa.
“…suara…”
Kabut menebal, menghitam di tengah, lalu memadat menjadi bentuk yang tidak stabil.
“…retak…”
Sebuah panel identifikasi muncul.
Huruf-hurufnya terlambat terbentuk, seolah sistem enggan memberi nama pada sesuatu itu.
[ENTITY: Fragment - Duskmaw]
Class: Misha Abnormal
Threat Level: Critical
State: Fragment
Makhluk itu bukan tubuh.
Ia adalah kabut pekat yang dipaksa menyerupai bentuk hidup. Bagian-bagiannya terus berubah, mengurai menjadi asap, lalu memadat menjadi bilah-bilah hitam yang tajam, lalu kembali meleleh menjadi bayangan. Tidak ada wajah. Tidak ada mata. Hanya celah-celah gelap yang membuka dan menutup seperti mulut yang lupa bentuknya.
Shion merasa tenggorokannya mengering.
“Fragment?”
Ayaka mengencangkan pegangan pada tonfa.
“Kalau ini hanya fragmen…”
Ia tidak menyelesaikan kalimat itu.
Duskmaw bergerak.
Tidak ada ancang-ancang.
Tidak ada raungan.
Kabut itu menghilang dari tempatnya berdiri, lalu memadat tepat di depan Ayaka.
DUAK!
Bilah hitam menghantam tonfa Ayaka.
Percikan cahaya biru dan hitam meledak di udara. Ayaka menahan serangan pertama, tapi Duskmaw berubah sebelum momentum benturan selesai. Tubuhnya mencair menjadi kabut, mengalir melalui celah pertahanan, lalu memadat lagi di sisi bahunya.
“Akh!”
Ayaka terlempar menghantam batang pohon digital.
Armor perak di bahunya retak.
Dari retakan itu, bukan darah merah yang keluar.
Melainkan glitch hitam, menetes seperti tinta busuk yang memakan cahaya di sekitarnya.
Panel HP Ayaka turun cepat.
Shion bergerak tanpa berpikir.
“Phantom Arc!”
Ia mengayunkan scythe.
Riak biru kehijauan memotong udara, melesat ke arah Duskmaw. Namun sebelum serangan itu mengenai, tubuh makhluk itu pecah menjadi kabut. Riak energi hanya menembus kosong dan menghantam batang pohon di belakangnya.
Duskmaw muncul di sisi kiri Shion.
Terlalu dekat.
“Shion!” teriak Ayaka.
Shion melompat mundur.
Atau mencoba.
Tubuh pinguinnya tidak cukup cepat.
Bilah hitam menyapu udara dan menggores sayap kirinya.
Rasa sakit meledak di sarafnya.
Bukan sensasi damage biasa.
Bukan angka HP turun.
Ini seperti ada sesuatu yang menggigit langsung ke bawah kulit digitalnya, mengunyah tekstur avatar, lalu menarik potongan dirinya keluar.
Shion jatuh berguling di tanah.
“Sial!”
Area yang tergores berkedip-kedip. Warna hitam merambat di tepi luka, memakan lapisan tubuhnya sedikit demi sedikit sebelum sistem berusaha menutupnya.
[WARNING]